Novel Baswedan Kembali, Selamat Datang Maestro

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Novel Baswedan Kembali, Selamat Datang Maestro

22 February 2018

Hari ini Novel kembali ke tanah air. Proses perawatan di Singapura tidak bisa menyelamatkan salah satu matanya (Foto: Istimewa)
Editorial, marjinnews.com - Sepuluh bulan lalu tepatnya 11 April 2017, Novel Baswedan penyidik senior KPK yang pada waktu itu masih aktif mengkawal kasus mega korupsi E-KTP diserang oleh dua orang tak dikenal seusai melaksanakan salat subuh di Masjid Al-Ihsan, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Waktu 300 hari ternyata tidak cukup bagi polisi untuk menguak fakta tentang titik terang prilaku kekerasan tidak manusiawi para pelaku penyiraman air keras yang membuat mata kiri seorang Novel buta. Polisi mengaku telah melakukan empat kali olah tempat kejadian perkara (TKP), 60 orang saksi diperiksa, 50 rekaman CCTV dan 100 toko kimia. Kasus ini masih berjalan di tempat.

Hari ini Novel kembali ke tanah air. Proses perawatan di Singapura tidak bisa menyelamatkan salah satu matanya.

Kembalinya Novel ke Indonesia merupakan sebuah kabar gembira. Di tengah maraknya praktek korupsi yang semakin merajalela, KPK butuh asupan tenaga dan pikiran serta keberanian untuk mengungkap semua kasus korupsi di Indonesia.

Perkembangan kasus E-KTP yang menjerat mantan ketua umum partai Golkar sekaligus mantan ketua DPR, Setya Novanto setidaknya bisa melegakan hati masyarakat soal kerisauan dan kecemasan akan perilaku elite politik yang tanpa rasa malu memakan uang rakyat.

Selain meringankan beban KPK, kepulangan Novel semestinya menjadi tanda atau peringatan kepada kita semua untuk mengkawal upaya proses penyelidikan pihak kepolisian terkait kasus Novel ini.

Menyangsikan kinerja pihak kepolisian itu hal yang wajar. Begitu banyak masalah dan kasus kemanusiaan di Indonesia yang hilang begitu saja dari permukaan selama ini. Kasus Munir dan kekerasan serupa seperti sebuah ancaman bagi pihak tertentu yang memiliki andil besar dalam tindak kriminal ini.

Masyarakat hanya mengelus dada. Slogan keadilan untuk seluruh masyarakat Indonesia sepertinya hanya sebuah simbol semata karena ada pengecualian terhadap orang-orang tertentu seperti Novel.

Kita menghargai proses hukum yang masih berjalan. Semoga kepulangan Novel adalah sebuah awal dari terkuaknya misteri penyerangan itu.

Selamat datang sang maestro.

Oleh: Andi Andur    
loading...