$type=carousel$cols=3

Nafas Kanvas Andreas Bagian VII

Setiap hari dia setia meracik kopi untuk Andreas, karena hanya itu teman yang dia butuhkan kala melewati senja bersama lukisan ayahnya dan...

Setiap hari dia setia meracik kopi untuk Andreas, karena hanya itu teman yang dia butuhkan kala melewati senja bersama lukisan ayahnya dan Elisabet (Foto: Ilustrasi).
Sudah hampir satu tahun Andreas tidak menyentuh peralatan lukis sejak kematian ayahnya. Hari-harinya hanya sibuk menatap lukisan yan dibuat Maksimus.

Banyak orang datang ke rumahnya untuk meminta agar membuatkan lukisan, namun tak satu pun yang bertahan dengan sikap Andreas dan pulang dengan tangan hampa. Dia kembali memutuskan untuk tak berbicara dan tak melukis karena orang-orang dicintainya pergi meningalkannya, baginya melukis adalah kenangan hingga ajal menjemputnya.

Hanya Soni yang bertahan dengan keegoisannya Adreas. Setiap hari dia setia meracik kopi untuk Andreas, karena hanya itu teman yang dia butuhkan kala melewati senja bersama lukisan ayahnya dan Elisabet.

Hingga suatu hari, Andreas jatuh sakit karena daya tahan tubuhnya sangat lemah. Hampir puluhan dokter Soni datangkan untuk menyembuhkan Andreas namun sayang yang soni dapati hanya kata-kata pasrah dari mereka. Bahkan, seoran kakek tua yang terkenal akan kepiawaiannya mengobati orang sakit harus kalah dengan penyakit yang di derita Andreas.

“Aku benar-benar tak mengerti penyakit apa yang ada pada tubuh pemuda ini, baru kali ini aku menemukan orang yang sepeti ini” katanya.

Berbagai cara Soni lakukan untuk menyembuhkan Andreas namun selalu menemui jalan buntu. Soni menyerah dengan masalah yang ia hadapi dan jua Andreas.

Sudah 100 hari lamanya Andreas terbaring di tempat tidur tanpa pengobatan, hanya doa yang bisa Soni lakukan untuk kesebumbuhan Andreas.

“Apa betul ini rumahnya Andreas, si pelukis wajah loke Nggerang itu?” tanya seorang pria yang membawa sebuah seruling.

“Aku ingin bertemu denganya, ada banyak hal yang ingin kusampaikan padanya” lanjut lelaki itu.

“Ani memang rumah Andreas” jawab Soni.

“Bisa Anda pertemukan aku dengan Andreas?” tanya lelaki tersebut.

Namun yang di dapati lelaki tersebut hanyalah Andreas yang terbaring lemah tak berdaya di atas rangang, Soni menceritakan semua tentang Andreas yang saat ini terbaaring lemah.

“Jadi begitu ceritanya, dia seperti tak ada gairah hidup ketika orang-orang yang ia sayangi pergi dari hidupnya, hanya aku satu-satunya yang merawat dia, aku sudah berusaha namun gagal, kadang aku juga menyerah dengan Andreas. Andreas telah mati” kata Soni.

Lelaki itu hanya menagguk, kemudian dia ambil serulingnya dan mulai memainkannya, begitu menyedihkan lantunan yang ia mainkan. Di sampinya Soni hanya menatap dengan penuh tanda tanya. Dia terus memainkan serulingnya dan sebuah keajaiban muncul kala Andreas tiba-tiba bangun dari tidur panjangnya.

“Kopi” itu kalimat yang Andreas ucapkan setelah bangkit dari kematiannya

“Kamu siapa” lanjut Andreas

“Aku, aku adalah lelaki yang kau temui dalam mimpimu, aku Abdas pelayan Tuhan. Seorang wanita menyuruhku menyuruhku untuk mengobati penyakitmu” kata lelaki itu yang tak lain adalah Abdas

“Siapa dia?” tanya Andreas

“Kau tak perlu tahu, aku datang dari masa depanmu, seorang wanita, malaikatmu menyuruhku untuk membangunkanmu dari tidur panjang ini” kata Abdas.

Soni yang mendengar hal itu menjadi bingung dengan semua kejadian yang dia lihat.

Mulai saat itu Andreas kembali pulih tapi tak melukis. Setiap hari mereka hanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Soni menulis Novel, Abdas memainkan seruling dan Andreas hanya berdiam diri dengan semua kenangan yang ia ingat.

Suatu senja, saat mereka duduk bertiga di teras rumah sambil menikmati kopi, Abdas tiba-tiba saja memainkan serulingnya dengan begitu merdu. Senja sore itu makin terasa indah kala kopi, rokok dan nada bercubu di rumah Andreas. Tanpa sadar Andreas kembali tidur ketika mendengar seruling Abdas.

“Siapa kamu sebnarnya, siapa yang menyruhmu” tanya Andreas ketika sadar

Abdas hanya tersenyum dan terus memainkan serulingnya, Soni yang tak tahu apa-apa hanya bingung dengan semua yang mereka suguhkan.

Saat setelah meniup serulingnya, Abdas tersenyum ke Andreas dan meletakan serulingnya.

“Aku datang dari Persia, aku adalah utusan malaikatmu, aku tahu kamu bau saja bertemu dengannya dalam mimpi” kata Abdas sambil menikmati kopinya.

“Ya, aku baru saja bertemu dengannya, siapa dia dan apa tujuanmu kemari” tanya Andreas

“Kamu pasti tak percaya bahwa Loke Nggerang memang masih hidup, waktu itu dalam mimpimu Loke Nggerang disiksa tapi engkau tak tak tahu kelanjutannya. Saat dia di siksa seorang pemuda menyelamatkannya.

Dia membawa Loke Nggerang jauh e temapt yang tak pernah kamu bayangkan. Disana lelaki it membangun kastil dan menjadi raja di sana. Namun celaka menimpa keluarga mereka. Kecantikan Loke Nggerang teryata menyulut api peperangan antar saudara. Adik dari suami Loke Nggerang menyerang kasil mereka dan mengancurkan semua yang ada di sana.

Saat itu, Loke Nggerang telah memiliki seorang anak perempuan dan mereka ingin merebut anak permpuan itu karena ingin dijadikan permaisuri untuk anak laki-laki mereka. Loke Nggerang rupanya tak hanya cantik tetapi pandai juga. Dia kemudian titipkan anaknya pada sepasang suami istri dari Negri Persia. Pasangan itu kemudian menamai gadis itu Laila. Namun sayang kisah cintanya tak jauh berbeda dari ibunya” kata Abdas.

“Maksudmu, dia di bunuh” tanya Andreas serius.

“Bukan, Laila tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan mencintai seorang pemuda.Qais namanya, lelaki pujaan hati Laila, mereka saling mencintai. Cinta mereka begitu besar dan tumbuh di hati yang tegar.  Namun sayang kali ini bukan seperti ibunya yang menolak lelaki yang melamarnya tetapi kedua orang tua  Laila yang melarang Laila untuk berhubungan dengan Qais” kata Abdas.

Mendengar hal itu Andreas kembali mengingat-ingat pesan Loke Nggerang kepadanya namu tak ada yang dapat dia ingat.

“Aku memang pernah mendengar kisah itu, tapi itukan ratusan tahun lalu dan bagaimana kamu bisa mengatakan hal sekonyol ini padaku” tanya Andreas.

“Lalu, bagimana dengan cerita tadi?” tanya Soni penasaaran.

“Yah, akhirnya Qais menjadi gila dan Laila meninggal” kata Abdas.

“Andreas, aku tahu sekarang otakmu penuh dengan berbagai pertanyaa, tapi aku memang utusan ratuku dan dia adalah jodhmu di masa depan, kau akan dapatkan seorang anak dari dirinya. Dia adalah pejuang kaum wanita. Baginya Loke Nggerang  yang kau lukis dulu adalah gambaran budayamu, negrimu yang selalu menomor duakan wanita.

Yah, walalu pun di negeriku juga wanita tak pernah di hargai dan selalu dianggap rendah. Ituhal kehidupan di dunia fana ini" kata Abdas.

Andreas pun hanya bingung dengan semua ceria dari Abdas, dan semua menjadi makin rumit dalam otaknya.

“Aku hanya punya waktu satu minggu di sini, ratuku berpesan lukislah wajahnya menurut kehendakmu. Seperti apa pun rupa lukisan yang kau buat maka ratuku yang akan datang adalah seperti itu”  lanjut Abdas.

Mendengar hal itu, Andreas hanya mengangguk penuh kebingungan, Soni pun demikian dan Abdas sibuk memainkan serulingnya dan sesekali menikmati kopi racikan Soni.

Hari berikutnya Andreas sibuk melukis kekasihnya, likisannya begitu indah dan kadang saat Andreas melukis seruling yang dimainkan Abdal seperti suara dari sang kekasih.

Andreas hanya tersenyum dan terus melukis. Saat setelah lukisanya selesai, dibungkusnya dengan rapi hingga udara tak bisa masuk.

“Ini lukisannya, sengaja ku buat dua agar satunya bisa ku simpan, berilah lukisan ini pada kekasihku” kata Andreas.

Lelaki itu pun hanya mengangguk dan Soni hanya bisa melambaikan tangan saat lelaki itu beranjak dari rumah Andreas.

Sesekali ia menoleh dan melempar senyum kepada mereka dan dalam kedipan mata lelaki itu tiba-tiba menghilang di telan waktu

Nekang, 30 Januari 2018

Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ingin lebih dekat dengan penulis bisa melalui media sosial Facebook atas nama Arsi Juwandy, WA dengan Nomor 085338242730 atau bisa kunjungi blog pribadi Arsijuwandy@blogspot.com

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,223,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,99,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,41,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,140,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,43,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,238,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,67,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,137,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,54,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,84,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,235,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,115,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,851,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,24,Prosa,1,PSK,1,Puisi,61,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,8,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Nafas Kanvas Andreas Bagian VII
Nafas Kanvas Andreas Bagian VII
https://3.bp.blogspot.com/-A8eGWD72MuY/WoUkDA-DEWI/AAAAAAAAAn0/dx5MFuxIynU9Uryrsg0bAGmd4QWqR0lXgCLcBGAs/s320/Canvas%2BAndreas.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-A8eGWD72MuY/WoUkDA-DEWI/AAAAAAAAAn0/dx5MFuxIynU9Uryrsg0bAGmd4QWqR0lXgCLcBGAs/s72-c/Canvas%2BAndreas.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/nafas-kanvas-andreas-bagian-vii.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/nafas-kanvas-andreas-bagian-vii.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy