$type=ticker$count=12$cols=4$cate=0$sn=0

My Love Story

Aku dan Elang adalah sepasang kekasih yang merajut kisah dengan cara yang aneh dan hanya kami berdua yang mempunyai kisah ini. Tak ada yang lain (maaf aku sedikit sombong).Ya, memang itu adanya (Foto: Dok. Pribadi)
Sepasang tangan itu telah menggenggam tanganku pada saat-saat paling menyentuh. Sangat menyedihkan ketika aku berbisik kepadanya, "Aku  ingin tahu, seperti apa rasanya mati? Sakitkah?". Dia hanya menjawab sesuai apa yang diyakini tentang hidupku.

"Aku akan dikelilingi, diangkat, dan diberi kegembiraan yang maha besar dalam kemulian TUHAN”, ujarnya. Terima kasih elang.

LOVE AT SUNSET

Kata orang, cinta bukanlah apa yang kita temukan tapi apa yang kita lakukan. Mencintai Elang adalah hal yang terindah dan termudah dalam hidupku. Cinta yang telah menghiasi masa remajaku. Masa SMA yang takkan bisa ku lupakan sampai detak jantungku hilang dan mungkin hal yang sama pernah engkau rasakan.

Aku dan Elang adalah sepasang kekasih yang merajut kisah dengan cara yang aneh dan hanya kami berdua yang mempunyai kisah ini. Tak ada yang lain (maaf aku sedikit sombong).Ya, memang itu adanya.

Aku mengenal Elang saat mentari di ufuk barat memamitkan dirinya kepadaku yang selalu mengejar senja setiap hari. Di bawah pohon Daleng di sekolahku. Sebuah tempat yang bagiku adalah tempat yang sunyi. Tempat aku menyelesaikan beberapa tulisan yang sampai sekarang tak bisa aku terbitkan karena keterbatasanku.

Hemm, lupakan tentang tulisanku yang konyol itu, aku akan menyelesaikan ceritaku bersama Elang cowok misterius yang membuatku jatuh cinta dan selau ku doakan. Dia takan mati sekalipun bukan milikku nanti.

Aku ingat perkenalan pertamaku dengannya, aku gugup dan tak bisa berkata apa-apa saat dia tiba-tiba mengambil tempat duduk disampingku. Waktu itu di suatu senja, tepat ketika aku tengah membuka sebuah buku mungil tempat ayat-ayat cinta kasih Tuhan bertaut mesra berbicara tentang kehidupan. Aku membacanya dengan serius seakan aku tengah berada dalam Gereja.

Tujuanku sebenarnya sederhana, berlaku cuek untuk membuatnya tidak betah dengan berkata dalam hati, "Ngapain dia disini?"

Namun, aku bukanlah orang yang ingin menghabiskan waktu untuk menilai orang lain saat itu, mungkin juga sampai sekarang. Aku memilih untuk menghabiskan waktuku menyunting beberapa tulisan kelas yang menjadi tugas-tugasku untuk mengisi mading sekolah bulan ini. Sambari aku menuliskan beberapa karya ilmiah yang dibantu oleh sebuah laptop mungil milik sahabatku, beberapa buah puisi pun telah aku siapkan untuk dibacakan di studio.

Sekitar hampir satu jam, aku menghabiskan waktuku di senja hari itu. Dia masih disampingku tanpa suara. Dia seakan sedang tersesat. Kupikir demikian, aku tak berani menyapanya. Dia terlihat sangat pintar dan jujur dan aku tak terlalu mengenal siswa di sekolah ini karena aku adalah siswa pindahan dari satu sekolah swasta di tempat lain.

Walaupun kondisi kesehatan yang tidak terlalu baik, aku tetap harus mengikuti agenda yang tak bisa aku jangkau karena aku bukan orang yang malas.

Aku mengatakan dia sangat alim, aku ingin sekali membuat sebuah keputusan untuk menyapanya, namun aku takut salah tingkah dihadapannya. Aku pun membiarkan dia tenggelam dalam senjaku. Meski sebenarnya aku sedikit benci denganya membiarkan sebagian senjaku menjadi milikknya saat itu. Aku hanya menatapnya dengan penuh keanehan, apakah dia sekolah disini juga, ataukah pemilik pohon daleng ini?

Aku bangkit dan ingin pulang, dia juga bangun dan menghadang langkahku. "Hallo, apakah aku melakukan kesalahan denganmu?" aku bertanya dengan sangat professional ala film “Now You See Me”. Kurasa kalian pernah menontonnya dan aku merekomendasikan kamu harus menontonnya.

Namun, pertanyaanku tak dijawab. Ia menatapku dengan ganas dan penuh dengan kebencian. "Astaga, kenapa dia langsung berubah? Wajahnya  seperti hantu "Conjuring". Apa dia benar-benar hantu penjaga pohon daleng ini? Tetapi, mengapa dia memegang buku itu?”

Dengan cekatan aku menghindar dari hadapannya. Tetapi, pikiranku masih melukis bayangannya. Sepanjang malam aku bertanya kepada diriku sendiri, "siapakah dia? Mungkinkah ia mau bersahabat denganku? Atau ada niatnya yang lain?".

Kusiapkan diri untuk berangkat ke studio, dan akan menghabiskan beberapa jam disana. Setelah itu aku akan mampir kesebuah gua yang tak jauh dari situ. Lalu mengajar anak-anak muridku yang merupakan pendorong hidup dan selalu menjadi subjek pemikiranku di tempat ini.

Ketika aku hendak menaiki tangga gua, aku kembali melihat  dia ada disana.

"Hei”dia menyapaku dengan kasar. ”Hey", jawabku dengan penuh santun. ”Mengapa kau disini?aku ingin berdoa,apa aku kelihatan salah dihadapanmu?", dia meniru pertanyaanku. Hmm, menyebalkan,aku memakinya dalam hati.

"Kurasa tidak ya",jawabnya. "Ayo berdoa!", dia mengajakku. Aneh namun aku mengikutinya.

"Thank you",aku mengucapkan padanya saat dia mengakhiri doa dengan kata ”amin” walaupun doanya tak sesuai dengan itensi pribadiku,namun aku bersyukur dia menyadarkan bahwa penting sekali berdoa dengan orang yang selalu putus asa dan ketika kurenungkan, aku adalah orang yang putus asa itu atau dia tahu apa yang kau alami.

Penyakitku? Keluargaku? Cita-citaku?dan keresahanku saat ini? Yaa,kurasa dia tahu sesuatu tentangku,entalah. Sekalipun ya,takkan kubiarkan dia mengetahui lebih dalam, pikirku saat itu.

Sebelum aku pergi dari hadapannya,dia menyodorkan tangannya,”Namaku Elang K.G. Agikyo". "Nama yang aneh", pikirku. Namun, sedikit indah(sejujurnya nama ini aku yang buat dalam tulisan ini). "Kamu bisa memanggilku Elang atau Agikyo", ujarnya.

Aku melepaskan tangannya dan berkata, "namaku Clara Pukowling", tanpa memberikan tanganku kepadanya. "Hahahhah", sentak dia tertawa yang membuatku merasa tersinggung. "Nama yang aneh", katanya.

Aku ingin sekali memasukan rumput –rumput disekitarku kedalam mulutnya, apakah dia tidak menyadari justru dirinyalah yang aneh. Namu, aku tetap menjaga sikapku.

"Ok, makasih. Kurasa sudah selesai kita saling mengenal dan sampai jumpa" ujarku lalu aku menuruni anak tangga gua itu.

"Tunggu, aku akan menghantarmu pulang" pungkasnya dan aku menyetujui penawaran itu. Sepanjang perjalanan dia menanyakan beberapa hal kepadaku.

"Mengapa kau suka bicara di program sekolahku?", katanya.

"Spirit pagi,sebuah program OSIS yang aku suka dan berbicara didepan siswa-siswi dengan gaya yang lumayan keren. hitung-hitung melatih kemampuan bicaraku,” ujarku.

"Aku sangat membencimu jika engkau berdiri disana,aku juga tak suka mendengar suaramu diradio sekolah,aku tak suka tulisanmu di mading sekolah apalagi melihat fotomu tertampang di struktur OSIS di kantor sekolah"ujarnya.

"Hei”, aku memukul bahunya, dan dia berhenti.

"Sorry aku membenci apa yang kau katakan,itu semua hidupku. Jika engkau membenciku kenapa engkau ikut aku dan jujur engkau membuat hari-hariku rese tahu!", aku meningalkan Elang di tempat itu.

"Menjengkelkan,sangat aneh, Apa maunya,ataukah dia sedang merencanakan sesuatu?", aku menjadi tidak waras memikirkannya saat itu. Aku benci melihatnta saat itu dan kubiarkan dia mengejekku dari belakang saat aku berpidato didepan bersama genknya yang lumayan keren dimataku tapi sama sekali aku tak tertarik.

Berapa kali Elang membuatku gugup disetiap kesempatan untuk berpidato. Aku hanya mengatasi tanpa harus menatapnya saat aku bicara didepan dan berharap dia pindah sekolah atau hilang dari hadapanku. Akubenci sekali saat itu.

Hari demi hari berlalu,17 febuari tahun itu aku ingat Elang memegng tangankudengan sikapnya yang dingin dan ingin menghentikan semua tugasku di sekolah. Namun, aku tak menghiraukan semuanya.

"Aku bukan adikmu dan aku bukan kakakmu” aku menjawabnya dengan gaya drama "Love Story in SMA (sebuah karya yang menjadi the best of drama di sekolahku saat itu,karya anak-anak bahasa).

Namun, dia hanya memberikan beberapa alasan mengapa dia ingin aku berhenti. katanya, "banyak orang tak menyukaiku saat kau bicara,karena aku kelihatan sombong dan sok pandai didepan mereka".

"Alasan yang benar",pikirku. Namun, aku tak pernah merasa demikian karena aku tak pernah mengatakan hal yang bohong terhadap mereka dan juga semua yang kau katakan adalah hasil dari bacaanku yang ingin ku share bersama siswa disekolahku. Aku menjawabnya dengan penuh hati-hati dan berharap dia mengerti. Lalu, Elang sepertinya tak menerima jawaban itu,kutingalkan dia disitu dan pergi dari hadapannya.

“Aku belum selesai bicara”dia berkata dengan lembut,berubah,denganku,apakah dia akan memulai aksinya lagi atau tidak. "Aku ingin kau menyadari juga bahwa sekalipun demikian, aku mengagumimu, aku suka denganmu”.

"Mmmbuseytttttttttt.",tiba-tiba kata itu keluar dari mulutku. Ingin sekali kutertawa terbahak-bahak dihadapannya. "Apa?Aku salah dengar apa yang kau ucapkan Elang?coba katakan sekali lagi!", ini aku sedang melakoni peran Eza di sebuah naskah yang sangat cerewet.

"Sorry aku tidak ada waktu mendengarmu,aku pulang. maaf (Aku membungkuk dan pergi)". Mungkin dia sangat terluka,dan kupikir benar,wajahnya memerah dan ingin menerkamku.

"Elang…Elang..", teriakku dalam hati seandainya dia mencintai kemampuanku pasti aku akan menerima perasaanya. Mengapa hanya aku yang dia suka,sedangkan hobbyku sangat ia benci,aneh kan?.

Cowok misterius itu datang lagi di hadapanku saat senja yang sama. Kali ini dia mengajakku bercanda dengan membahas beberapa kebiasaan di sekolahku dan kutahu akhir dari pembicaraannya pasti akan mengulas foto tiga kali empatku yang terpampang di kantor sekolah itu. Kubiarkan dia berbicara sampai berbusa dan jujur aku tak memperhatikannya.

Lalu, saat senja hilang dan semakin sunyi, tanpa permisi dia memegang tanganku dan mengucapkan "Doa Angelus", karena kutahu itu doa aku tak berontak. Kubiarkan tangan itu dalam genggamanya dan aku merasa ini adalah kebetulan untuk sebuah keajaiban kecil dimana Tuhan SUATU  memilih untuk merahasiakan kepadaku (aku mencintaimu Elang). Hingga doa itu selesai dan kami pamit tanpa harus bertengkar lagi seperti sebelumnya.

Malam datang dengan segala percikan sunyi yang meredam jiwaku,kubiarkan Elang menjadi topik puisi senjaku malam ini. Aku mulai menerimanya secara diam dalam hati. Aku mengagummi pria itu dari imannya,meski harus bercampur dengan segala kepolosan yang tak kumengerti sampai sekarang kusebut dia cowok misterius atau hanya karena aku terlalu bodoh untul memberinya sebuah nama yang pantas untuk makhluk ciptaan Tuhan ini.

Elang…Elang…..hanya dia yang menari dalam pikiranku malam ini,walaupun beberapa kali aku menulis namanya dan mencoretnya, tapi masih saja dia bertengger di dinding dan semua benda dihadapannku. "Ya Tuhan, Ada apa denganku? Ada apa dengannya?",

Kubangun dan membaca sebuah buku karya "Mark Viktor Hansen", disana tertulis “Dalam sebuah hubungan, pasti ada misteri”. Lalu kutanya kepada diriku sendiri apa hubunganku dengan Elang? dia belum kuanggap sahabat atau seorang teman dan dia hanya orang yang mengganggu keheningan senjaku.

"Tidak!!", teriakku dlam hati,teriakan itu menggema dalam raga yang terbalut dilemma karena Elang makhluk yang aneh itu(maafkan aku ini kedengarannya sangat kasar bukan?). Hingga pagi menjemput hari itu dan kubiarkan aku sendiri yang menyelesaikannya tanpa wajahnya yang selalu mengganguku.

Awal maret, kubiarkan diriku ditemani dengan secangkir teh diasrama. Aku tak mau kesenja lagi, aku tak mau imajinasiku,terganggu olehnya. Aku harus melakukan semunya di asrama yang diliputi papan tua,tempat aku merajut banyak kisah dari saat aku dipuji oleh sebuah keberhasilan dan sampai diriku dianggap najis,diberi sebuah label yang hina dimata para teman yang dirasuki roh kebencian, namun aku bersyukur karena cintalah aku bertahan dan sampai harus meninggalkan tempat ini saat itu dengan berat hati dan menangis.

Ingin sekali kupeluk bapa asramaku,saat aku menulis cerita ini, sahabat-sahabatku yang mengetahui alur cerita yang sesungguhnya,setidaknya mereka membaca tulisanku,sekedar tuk mengingatkan kembali dan aku katakan kalian begitu berarti dalam hidupku.

Kubiarkan hawa dan kesunyian puasa menjelang paskah meresap dalam jiwaku, yang semalam bertarung dengan rasa sakit yang ada dikepalaku. Meski beberapa cara telah kubuat untuk tidak menangis,tapi masih saja aku menangis dan didengar oleh orang disekitarku,dan aku harus malu lagi. Aku masih memusatkan diriku pada doa pagi itu,tanpa harus kubiarkan otakku membicarakan tentang elang lagi.

Setidaknya dua hari tanpa keusikannya membuatku sedikit mendapatkan arti keheningan ditempat ini walau tak seindah senja di pohon dalengku. Aku ingin hal semalam takkan ada lagi,merah jingga yang jatuh diantara bibirku tak ada lagi, rontokan rambut yang menghiasi bantal takkan ada lagi,namun tak bisa kulari dari kenyataanku.

"Penyakitku adalah hal yang terindah tuk'ku nikmati. Hanya Tuhan dan tubuhku yang tahu,takkan kubiarkan anak- anak tahu,sahabat dan keluarga karena ini akan sangat merepotkan", pikirku. Ya, seperti itulah semalam, tapi akan kubiarkan hal itu hilang sementara terbawa hirupan teh yang hangat pagi ini. Ketika mentari merendam lagi diufuk barat, ingin sekali aku melangkah ke pohon daleng itu, tapi ku tahu pasti ada Elang di sana dan tak ingin aku menatapnya.

Hari itu hari senin dan aku akan menghadapi sebuah mata pelajaran yang sangat berat bagiku,bukan karena gurunya yang galak. Kalian tahu,itu pelajaran yang membuatku harus memikirkannya dua kali lipat ketimbamg belajar aljabar,pelajaran olahraga karena aku akan melakukan pemanasan dan berlari selama empat sampai lima putaran yang membuatku harus jatuh pingsan lagi dan itu adalah hal yang sangat memalukan.

Aku mengikutinya hari ini dengan ratusan ucapan doa agar aku bisa melewati pemanasan biar hanya dua kali putaran dan setelah itu aku akan izin atau pura-pura ke toilet, tapi sepertinya waktu hanya memberiku satu putaran dan mmbruuukkk!!! Aku terjatuh seperti kelapa dari pohonnya dan tak kutahu cerita selanjutnya.

Aku merasa tubuhku sangat dingin. Aku menatap langit-langit kamar itu, semua berbeda dengan tempat tidurku,kupikir aku sedang bermimpi ternyata bukan hal yang mudah tuk dijelaskan. Aku berada disebuah ruangan rongsen,dengan pakaian rumah sakit yang sangat menggangu tubuhku dan aku sangat jelek saat itu,rambutku tergurau berantakan apalagi bukan rambut lurus dan kupikir orang akan menggeleng-geleng jika penampilan ini aku pakai didepan situasi formal.

Dua orang suster mendorong aku dan memperbaiki tidurku dengan lembut dan aku sedang menempati sebuah rumah sakit elite di kotaku saat itu. Mungkin aku adalah anak pertama dari sekolahku memasuki tempat ini, semua begitu indah dan bersih ketimbang aku melihat tempat yang lainya.

Kupikir kau bisa membangun ruangan seperti ini nanti jika aku sukses atau kapanpun jika aku hidup selama yang aku impikan. Sejenak aku melihat bererapa alat yang begitu berat dan terheran dengan orang yang membuatnya,aku sangat bangga dengan mereka seakan sedang menjadi seorang manajer yang melakukan strategi current control,sebuah pribahasa dalam studi manajement.

Aku melewati pemeriksaan dengan cepat,setelah kedua perawat yang tak kukenal namun ramah menghantarku kesebuah tempat yang sangat luas dan kulihat banyak sekali orang yang tak kukenal disana Siapakah yang mengurusiku disini?aku masih bisa menanyakan pertanyaan yang normal saat itu. Kedua suster itu menghentikan aku di depan seseorang,aku kaget dan tak percaya itu adalah Elang.

Astaga aku tak memikirkan bagaimana sampai dia yang menghantarku, apakah sekolahku tak adakah yang punya hati kepadaku, dimana sahabatku, tidak mungkin kutanya dimana orangtuaku, karena mereka mungkin takkan pernah merasa aku dalam hal yang buruk dan kupikir aku tak seharusnya memikirkan mereka, mungkin hanya menunggu satu hari lagi. "Elang", aku menyapa pemuda itu dengan perasaan malu dan sangat merasa bersalah.

Aku bingung bagaimana aku mengucapkan terima kasih kepadanya ataukah aku salah atau dia sedang menunggu atau menjenguk seseorang disini?. lalu aku bertanya,apa dia sedang menunggu seseorang?, kataku sambil menggerakkan kursi rodaku dan kubiarkan pantatku duduk dikursi empuk ditempat itu sedangkan kepalaku tak bisa kutahan rasa sakitnya.

"Ya,aku sedang menunggumu disini”,jawabnya dengan pelan. 'Aapakah aku melakukan kasalahan kepadamu?", dia mengulang kata pertengkaran dikala senja itu, yang membuatku sedikit tersenyum walau harus menahan rasa sakitku. "Tidak tuan", aku menjawabnya dengan gurauan, seketika itu juga dia memegang tanganku dan berdoa mengucap syukur atas pemeriksaanku walau aku dan dia belum memegang hasilnya. Aku menangis bersamaan kalimat doanya dan tak kubiarkan dia melihat air mataku karena aku benci saat air mataku dilihat oleh orang lain.

Aku akan menemanimu disini dan jangan takut aku membawa kartu kesehatanmu,segalanya telah aku urus dengan wali kelasmu dan mereka tadi harus pulang cepat, juga sahabatmu dan jika kau tak keberatan, aku akan menemanimu sampai kau sembuh”.

Sebuah pengorbanan yang luar biasa,aku semakin mengerti bahwa cerita cinta yang kubaca itu benar dimana orang merelakan waktu untuk seseorang karena "cinta". "Terimakasih Elang”, ucapku. "Iooo SOKAT”, jawabnya dan seketika juga dia memanggilku dengan julukan yang membuatku merasa tambah jelek dihadapannya.

Aku menatapnya dengan anggun dan sangat dalam. Seandainya aku menghormatinya sejak lama pasti kau takan merasa canggung dihadapan dia sekarang.

Matahari pamit,setelah aku menemukan kamar nginapku,dia begitu lincah mengatur tempat tidur itu atau mungkin dia pernah kerja dan memjadi seeorang housekeeper? tidak,aku harus menghentikan pemikiran konyolku karena akan menambah rasa sakit dikepalaku.

Dia meletakkan tubuhku dari kursi roda ketempat tidur dengan hati-hati (sungguh!aku sangat malu menceritakannya kepada kalian) dengan cepat juga dia mengambilkan beberapa minuman,makanan serta sebuah alkitab di atas kepalaku. "terimakasih Elang". Dia hanya mengedipkan matanya tak mengucapkan apa-apa.

Malam itu aku lewati dengan penuh kekacauan pikiran tentang apa yang kuhadapi,tidak mungkin aku menyelesaikan semuanya dengan Elang. Pasti dia akan mengejekku nanti ketika aku sehat, dan memperhitungkan semuanya. Aku begitu memikirkan hal-hal buruk itu sedangkan dia hanya duduk dan membiarkan kepalanya terletak disebelahku,dia kecapean mungkin sedang tidur.

Kamar itu terasa sangat sunyi,makanan yang aku makan sangat muak aku lihat,bubur mama adalah menu yang aku benci dan obatan menyapaku denga baunya yang aneh dan membuatku muntah, namun aku harus menikmatinya.

Hingga malam menghantar kebisingan ruangan itu,bertarung lagi dengan rasa sakit dikepalaku. Sesekali Elang bangun dan memegang kepalaku,memberikan aku air,memasang infus,memanggil perawat hingga menggendongku ke depan toilet dan membiarkan tubuhku merasa mudah tuk bergerak, menyuap makananku serta selalu memegang tanganku dalan doa.

Aku menangis saat itu,aku ingin sekali teriak "Kenapa orang lain yang berada dekatku sekarang, kenapa harus Elang? kenapa?", aku menangis terisak-isak. Elang hanya menenangkanku dengan mendekap tanganku dan tak pernah henti menghiburku dengan cerita konyolnya.

Tentang genknya yang kuno dimataku, namun aku masih mengucapkan kata terima kasihku untuk Elang. Mentari membangunkan aku, kulihat Elang tak ada di situ. Kulihat ada sepucuk tulisan disampingku, "jangan lupa mengucap syukur. Aku ke sekolah dulu dan akan kusampaikan kepada senjamu,kau sedang sakit. Nikmati makan siangmu, aku mencintaimu Clara".

Seketika itu juga aku merasa aku merasa sembuh,kuulangi membaca surat itu sampai aku tak merasa hari akan sore,dan masih kubutuhkan kehadiran Elang di tempat ini.Aku ingin dia cepat-cepat disini dan benar belum sempat aku membaca sekali lagi surat itu. Dia datang serta membawa sebuah  map hijau.

"Hay, ini adalah hasil pemeriksaanmu”, katanya sambil mengeluarkan beberapa minuman dan surat-surat para sahabat yang membutuhkan kehadiranku di sekolah serta bingkisan kue seorang anak yang biasa bersamaku disetiap malam. Mereka mungkin merasa kesepian tanpaku selama dua hari ini.”

Bagaimana hasilnya? aku bertanya seperti sedang memerikasa kehamilan saja, sedikit merasa lucu dan aku menyembunyikan senyumanku.

"Kurasa kau tak perlu tahu hasilnya. Yang pasti besok kau akan keluar dari sini dan bisa menghabiskan waktumu disenja itu” seperti sebuah penghiburan yang tepat untukku, namun tak percaya. "Aku masih merasakan sakitnya kepalaku dan kurasa kamu salah Elang, namun kubiarkan ia tak mendengar celoteh hatiku.

Malam datang lagi,aku tak ingin sekali pagi datang dengan cepat,namun ketika tengah malam, kepalaku sangat sakit, merah jingga itu meluap dengan deras, kulihat Elang sangat panik. Aku seakan sedang menghadapi ajalku, dia memencet tombol pemanggil dan seketika itu juga dua orang perawat mengurusku, memasukan beberapa alat dihidungku,dan membersihkan merah jingga itu lalu membiarkan aku tergeletak dipangkuan Elang dan tak kutahu seberapa lama aku menghadapinya,aku tak bisa menahan rasa sakit itu.

Aku ingin mati dan tanpa ragu aku menggenggam tangan Elang dan sepasang tangannya menggenggam tanganku pada saat yang menyentuh dan paling menyedihkan itu. Seketika itu juga aku berbisik dekat lehernya "Elang..aku ingin tahu seperti apa rasanya mati? Sakitkah? Apakah pedih dari sakit kepalaku?", tanyaku dengan tangis yang keras dan dia hanya menjawab  seperti dengan keyakinannya tentang deritaku.

Katanya akunakan dikeliling, diangkat dan diberi kegembiraan Maha Besar dalam kemuliaan Allah. Dia menjawabku dengan bijaksana, seketika juga semua tenang,kedua perawat itu merasa terharu mendengar jawaban itu. Jawaban Elang yang dia persembahkan kepadaku sambil menangis,
aku tersentak dan membiarkan tubunya memelukku.

Pelukan itu sehangat pelukan mama dan bapa.pelukan yang membuatku tenang dan damai. Pelukan yang ingin kuulang setiap waktu. "Elang…….thank god for you",setidaknya kalimat itu yang paling besar untuknya,

Kematian takkan sempat kumiliki,karena Tuhan sangat menyayangiku dan Tuhan tak ingin ceritaku bersama Elang sampai disini. Hari itu aku merasa sangat baik,aku pun ingin pulang. Elang mengurus semuanya dan kita kembali malam hari. Dia menyuruhku naik dimotornya,aku memeluk pingganggnya dengan ucapan syukur dan terima kasih.

Tuhan dan Elang membantuku dalam segala keterbatasanku pada situasi ini. Kubiarka dia menggenggam tanganku selama perjalanan dan aku turun setiba di asrama, disana anak-anak sedang menunggu serta para sahabat, kubiarkan mereka bertanya dengan aneka pertanyaan, dan tak satupun kujawab karena aku butuh istirahat dan Elang pamit kerumahnya. "Makasih Elang", sahutku sambil menerima beberapa barang dari tangannya.

Kisah di rumah sakit it membuat aku ingin menghabiskan hariku bersama Elang. Kubiarkan dia datang kesenjaku, kubiarkan dia bercanda semaunya, kubiarkan dia mengajakku bermain kejar-kejaran di bawah pohon daleng itu dan kubiarkan dia mengajakku ke Gua itu setiap sore serta kubiarkan dia juga mengejek pidatoku yang dia lontarkan dengan sopan.

Aku mencintai semua yang dia lakukan untukku. Kadang dia datang ke easramaku dan hampir setiap hari mengajar anak-anak disaat aku ingin berhenti menyiapkan teh. Menghantarku ke studio, menungguku sampai sekolah usai dan mengajakku jalan-jalan dengan suara motornya seperti mesin penggiling batu bahkan aku tak malu melewati sebagain hariku bersamanya.

12 Maret tahun itu, Elang menjadikan aku kekasihnya dan membuatku seperti melayang diudara. Aku akui aku jatuh cinta dengannya. Dia membuat semuanya terasa unik dan menyenangkan. Senja semakin tak pernah murung saat menyapa aku dengannya.

Kami melalui masa SMA dengan indah dengan rencana yang tersusun rapi, kadang dia mengajakku mengunjungi orang sakit yang membutuhkan doanya,kadang juga dia mengajakku melepas lelah di pantai atau memasak mie soto bersama dan menghabiskam waktu berdua di ujung senja.

Segala sesuatu indah dan mudah karena cinta, aku menuliskan judul baru didiaryku "Karena Elang".
Hingga dihari ulang tahunku, dia memberiku sebuah T-shirt dan beberapa benda kudus,dia mencium keningku didepan teman-temannya,dia memelukku saat aku merasakan sakit dan mecoba membiarkan aku melupakan penyakitku yang tak kutahu apa namanya karena dia menyembunyikan hasil pemeriksaan itu.

Aku tak perlu berbohong lagi,aku jatuh cinta dengan Elang. Dia membuat semuanya indah. "Makasih Elang". Seruku sambil menggenggam tangannya disatu senja yang berbalut gerimis bulan maret, terasa tenang rintikan hujan itu,sekali lagi Elang menggenggam tanganku dan berdoa  ketika kita akan pamit..

Perjalanan dengan Elang sangat indah hingga kita tak menyadari masa SMA,telah selesai. Elang mencium keningku saat menghabiskan senja bersamanya. Disenja itu saat hari terakhir di sekolah itu,semua terasa akan sangat berubah, apakah dia akan tetap seprti ini,apakah dia akan selalu mengingatkan kisahku kami? aku menyapa hari itu dengan muram seakan ada sebuah gunung akan memisahkan aku dan Elang.

Aku kan kehilangannya,aku berharap sebelum pergi dia memberikan isi MAP dirumah sakit itu,aku ingin tahu sesungguhnya, namun dia tak ingin memberinya,aku semakin ragu dengan kehidupanku selanjutnya, adakah Elang jika hari itu datang lagi? apakah Elang yang akan menggenggam tanganku? dan mengajakku tuk berdoa, pikiranku kacau,takkan ada yang kupikirkan selain Elang...
Dia bangkit memelukku,mengatakan dia akan selalu untukku sekalipun aku mati.

Aku langsung mengerti apa yang kuderita. "Aku tahu ELANG”, aku menangis seakan ingin tetap bersamanya. Aku ingin menjalani semunya sekali lagi bersamanya. Elang tetap untukku dan kuyakin hanya itu

Dan hari perpisahan sekolah, Elangku memberikan seuah kenangan yang selalu kusimpan dan penenang rasa sakit saat aku jauh darinya sekarang. Benda yang mampu ku bertahan, sebuah benda yang meningatkan aku akan Tuhan, akan indahnya perjumpaanku bersama Elang, akan indahnya cintaku bersamanya, akan indahnya genggamannya setiap kali mengajakku berdoa.

Dia memgingatkan aku tentang rasa bertahan dalam penderitaan,dia memberikan itu dengan sebuah doa, semoga semua tak terhapus jarak dan waktu, aku adan Elang tak pernah tahu sebuah takdir namum aku telah bersyukur dari semua yang dia berikan kepadaku, selebihnya biarkan Tuhan yang atur, aku telah menjalani tugasku,dan tuk mencintainya,mencintainya dengan mudah dan dia juga mencintaiku dengan mudah dengan genggaman dan doa.

Aku memberinya keheningan senja yang tak punya arti buat orang yang tak mengerti hadirnya dan itu akan hilang. Namun, apa yang Elang lakukan dibawah senja bersamaku takan pudar,dia telah separuh rasa sakitku hilang,membuatku ingin menjadi lebih sempurna tanpa memoles dengan gincu,sederhana dan akan membuatku sangat bangga memilikinya.

"I love you Elang", kataku saat aku melepaskan kepergiannya pada sebuah kota tempat dia melanjutkan sekolahnya. Dia menggenggam erat tanganku,membiarkan aku merasakan kedamaian bersama desiran pantai itu,tak menghiraukan penumpang kapal yang sangat banyak itu.

Dalam doanya,ia berjanji akan terus mencintaiku dalam doa sampai isi MAP itu menjadi sebuah sukacita terbesarku. Aku mengerti apa yang dia maksudkan,aku hanya mengikuti semua irama kalimat itu dengan tenang setenang naluriku tuk memeluknya sekali lagi.

Selamat jalan Elang, Aku mencintaimu. kisah itu selesai di dermaga  dan takkan kubiarkan pudar bersama gelombang yang cemburu disetiap kecupan Elang dikeningku.

Dan aku harus menerima kenyataan, bahwa aku dan Elang berjauhan, saling mendoakan, saling mendukung, mencintainya dalam diam yang tak terbaca. Mencintainya dalam senja yang berbeda dibawah langit yang sama, aku hanya berdoa dia takan melupakan semuanya berharap akan terulang kembAli dan benar. Map itu akan berubah hingga Tuhan Mempertemukan aku kembali bersama sosoknya.

"Terima kasih Elang, Aku mencintaimu".

Jakarta, 28 Januari 2018
Oleh: Clarita Bhorgias

COMMENTS

Name

Artikel,141,Bali,115,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,160,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,3,BPJS,1,Budaya,38,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,183,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,579,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,38,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,7,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,280,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,50,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,114,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,71,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,294,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,258,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,419,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,27,Partai Politik,25,Pasangan,20,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1148,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,38,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,88,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,24,seleb,1,Selebritas,20,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,71,Sumba,8,Surabaya,35,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,48,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,14,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: My Love Story
My Love Story
https://1.bp.blogspot.com/-WodocgzrutQ/WnVbtQFf9tI/AAAAAAAAAhA/7EKN_hRprOskGjaPPsC3fQYj1DoMULijgCLcBGAs/s320/Clarita%2BBorgias.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-WodocgzrutQ/WnVbtQFf9tI/AAAAAAAAAhA/7EKN_hRprOskGjaPPsC3fQYj1DoMULijgCLcBGAs/s72-c/Clarita%2BBorgias.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/02/my-love-story.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/my-love-story.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close