Milea Sang Penawar Rindu

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Milea Sang Penawar Rindu

24 February 2018

Milea, aku teringat akan sebuah kenangan. Kata-kata yang pernah kau ucapkan untuk sebuah janji akan cinta (Foto: Dok. Pribadi)
​Masih berkutat pada kisah lama yang tak kunjung bersemi dalam jiwa. Yang kadang sudah menjadi harapan basi dan kian terus terkenang. Impian ku untuk menjumpaimu sangatlah menjadi suatu yang tidak masuk akal untuk diharapkan lagi. Impian ku untuk menjadikan ini sebagai sebuah story dalam sebuah puncak percintaan sudah pergi dan berlalu dalam sebuah keputusan.

​Puncak percintaan yang kuharapkan dalam sebuah relasi bukanlah sebuah keputusan untuk memutuskan segera mengakhiri suatu hubungan. Tapi bagaimana pernikahan dan perkawinan yang sudah menjadi tindak lanjut dari sebuah cinta yang telah lama terjalin.

​Aku serius Milea. Dan itu adalah harapan awal ketika bagaimana saya harus memulai  sebuah kisah  bersamamu. Kata cinta yang pernah kulantunkan di kala itu adalah sebuah representatif dari sebuah dan bagaimana jiwa ini ingin bersatu padu di dalam jiwamu.

Hingga pada sebuah usia dimana kita akan sama-sama beranjak menuju usia senja dan kita akan tetap kokoh membangkitkan semangat untuk menjalani sebuah cinta. Sampai bagaimana mata tak lagi mampu dan tak mengijinkan kita untuk saling memandang lagi. Ini akhir dari sebuah perpisahan yang sebenarnya Milea.

​Bukan memutuskan untuk pergi dari hati ke hati, dengan pergi tanpa pamit dengan sebuah alasan yang tak tahu jelas yang tak pernah lagi kembali. Mungkinkah yang terjadi demikian pada mu?. Ah, aku bingung untuk memutuskan, sampai engkau kembali menampakan kabar tentang dimanakah eksistensimu sekarang.

​Milea, aku teringat akan sebuah kenangan. Kata-kata yang pernah kau ucapkan untuk sebuah janji akan cinta. Namun ketika saat itu, aku ragu, yang kemudian menghadirkan rasa ketakutan bagi saya sebagai pendengar, sekaligus objek dari janji itu Milea.

Entah bagaimana itu Milea. Bukan aku tak ingin mematuhi untuk sebuah janji. Namun aku kwatir akan aku yang cenderung bersalah tingkah, juga pada pengalaman cinta ku yang awalnya persis seperti ini.

Janji yang telah mengakar kuat dalam sebuah cinta ternyata dibutakan oleh sebuah rasa yang tak mampu memaafkan sebuah kesalahan kecil . Aku takut Nilea. Jika kisah cinta kita sebaliknya pun akan berakhir seperti itu.

​Milea. Pada senja yang indah ini yang sebentar lagi akan pamit menuju malam. Sebenarnya aku ingin menyampaikan sepatah kata rindu tentang sebuah impian terdalamku untuk menjumpaimu.

“Sebelumnya semoga engkau baik-baik saja”. Dalam tinta yang berwarnakan hitam pekat ini. aku ingin melukiskan kembali akan sebuah kenangan yang pernah kita taburi di saat engkau masih bergandengan disampingku.

Janji pada pertemuan awal untuk hidup  setia di dalam dua insan, yang seakan menjadi  seutas sebagai pengikat akan cinta. Kertas putih yang bertuliskan dengan tinta hitam itu, sudah menjadi bukti sah bahwa cinta ini memang sudah layak untuk di mulai.

Ditambah dengan bubuhan tanda tangan dari sepasang insan dan sepertinya menyarankan aku untuk bersiap menjalankan visi cinta yang di impikan.

​Pada sayap kertas putih itu, kau pernah tuangkan sepasang kalimat yang sepertinya engkau sedang menawarkanku untuk mampu berlaku setia sepanjang masa sampai dunia pun mengakhiri kisah cinta ini. Engkau berkata bahwa, “jika ini memang benar cinta entah kapan pun pertemuan itu pasti selalu ada, tanpa ada waktu yang tersendat yang menghalangi kita”.

Dan aku pun selalu berusaha untuk pahami itu Milea. Ketika cinta ku itu tertambat mati untukmu. namun Milea. Kau seakan amnesia akan janji. Mungkin saja engkau terlalu sering berkata janji hingga kadang engkau lupa intinya dari janji yang adalah berbuat. Janji yang sering kau ucapkan untuk sebuah kesetiaan sudah tak lagi berada pada alur janji.

​Kini manisnya janji hanyalah menjadi kenangan di dalam ingatan. Mata serasa su sond bisa lihat apa-apa lai, Milea. Kau buat aku untuk buta pada segala rasa. Janji tinggal janji yang kini sisa kenangan semata dalam hayalan.

Aku rindu milea dan itu sangat berat untuk terus ku junjung dalam hayalan ku yang kian terus liar. Dan aku mengharaapkan engkau kembali milea. Aku ingin mendengarkan kisah mu tentang alasan kepergian di kala itu.

​Untuk itulah aku datang Milea. Semoga engkau membaca dan mendengarkan harapan ini. Agar kelak kita harus kembali jika hati mengijinkan kita untuk kembali bersua. Agar tak rasa rindu yang membuat kita semakin menjauh melayang dalam khayalan. Kembalilah Milea, sayangku.

Oleh: Gordi Jenaru
Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UNDANA, Kupang