Menggugat Ekofeminisme yang Dangkal


Maka dari itu kita perlu berpendapat bahwa dalam setiap perjuangan menjaga alam, penting bagi kita untuk jeli terhadap kandungan femininisasi alam dan naturisasi tubuh perempuan (Foto: Istimewa). 
Fenomena bencana alam akhir-akhir ini membuat kita harus kembali merefleksikan soal persoalan eksploitasi yang tidak berkesudahan selama beberapa tahun terakhir.

Sederet konflik sumber daya alam terjadi di negeri ini tanpa henti. Berbagai perlawanan dari masyarakat (adat) mengemuka sebagai kulminasi atas penindasan yang tak kunjung mendekat pada keadilan. Sebut saja kasus penolakan tambang semen di Jawa Tengah dan beberapa kasus lainnya.

Konflik sumber daya alam tersebut jika kita telisik itu sangat berdampak pada hidup perempuan. Posisi perempuan semakin rentan dalam alam dan kehidupan sosial. Kasus perempuan Kendeng yang sampai mencor kakinya di depan istana negara misalnya.

Namun, ada kegentingan dalam perjuangan perempuan dalam konflik sumber daya alam ini, ia harus dieksplisitkan, karena jika tidak, ada kecemasan bahwa perempuan hadir di dalam perjuangan bukan sebagai subjek otonom melainkan hanya sebagai simbol yang dipergunakan untuk memenuhi kepentingan yang lain.

Artinya, ia tidak mengada sebagai tujuan bagi dirinya sendiri melainkan sebagai alat untuk mencapai kepentingan yang lain.

Dalam perjuangan tersebut bagi penulis perempuan berada pada posisi yang membingungkan. Mengapa membingungkan? Karena ada inkonsistensi status perempuan di dalam adat dan kearifan lokal.

Dalam upaya masyarakat adat merevitalisasi alam, perempuan dijadikan simbol yang amat penting. Sebagai contoh, tarian Sang Hyang Dedari atau tarian bidadari yang diperformakan oleh empat anak gadis yang dianggap sebagai penjelmaan dewi di bumi. Ritual ini menjadi akar pelestarian bumi di Karang Asem, Bali.

Ada ambiguitas beroperasi di sana, bahwa dalam dunia spiritual mereka (perempuan) diagungkan, direlasikan dengan sifat-sifat dewi yang sakral, kuat dan diandalkan, tapi dalam kehidupan sosial mereka terpinggirkan, diabaikan dan mengalami penindasan.

Maka dari itu kita perlu berpendapat bahwa dalam setiap perjuangan menjaga alam, penting bagi kita untuk jeli terhadap kandungan femininisasi alam dan naturisasi tubuh perempuan.

Perjuangan perempuan dengan menekankan unsur femininitas harus selalu kita pertanyakan dan periksa.

Kasus perempuan Kendeng bagi penulis di satu sisi, ini dapat dijadikan sebagai strategi memperjuangkan alam, tapi di sisi lain, ia menyimpan potensi untuk kembali menindas dan mendomestikkan perempuan.

Menganalogikan perempuan dengan alam harus dikaji secara ketat. Naturisasi tubuh perempuan berpotensi melanggengkan seksisme dan dualisme patriarki, yang secara hierarkis mendikotomi femininitas-maskulinitas, alam-budaya.

Kita harus waspada pada pengagungan tubuh perempuan dan konektifitas perempuan dengan alam. Jangan sampai argumen tersebut melanggengkan kembali otoritas patriarki.

Meminjam gagasan Ekofeminisme Karen J. Warren, ada beberapa persoalan yang harus kita garis bawahi dalam melihat penindasan terhadap perempuan dan alam.

Pertama, penindasan terhadap perempuan dan dominasi atas alam pada dasarnya saling berkaitan.

Kedua, ekofeminisme harus berangkat dari perspektif feminisme.

Ketiga, pemecahan persoalan ekologi harus menggugat pula ketidakadilan yang dialami perempuan di dalam masyarakatnya.

Bagi Warren, konseptual patriarkal yang opresif harus kita waspadai. Konseptual patriarkal ini menyetubuhi berbagai hal termasuk budaya dan spiritualitas.

Persoalannya, bisakah kita berpegang dan melandaskan diri pada argumen-argumen budaya dan agama ketika ia mengandung dan merawat ideologi patriarkal? Saya khawatir perjuangan jenis ini mendua.

Perjuangan perempuan dan alam harus dielaborasi demi mencapai keadilan dan kesetaraan untuk perempuan, jika tidak ia hanya memberikan keadilan semu dan dipakai untuk perjuangan kelompok lain yang mengatas namakan perempuan.

Perjuangan perempuan dengan berpegang pada adat dan spiritualitas yang esensialistik tidak memandang perempuan secara setara, dan pada akhirnya tidak melihat persoalan secara holistik.

Bagi feminisme, perjuangan melindungi alam berbasis keadilan terhadap perempuan dan berani membongkar penindasan patriarkal yang masih bersarang di sana.

Saya sepakat dengan Warren yang melihat bahwa seorang ekofeminis haruslah seorang feminis. Logika penindasan hanya dapat dipatahkan dengan mempertahankan argumentasi feminisme.

Feminisme adalah upaya untuk melawan naturisme dan esensialisme, yang artinya, ia berupaya menghapus seksisme. Gagasan ini menjadi penting dalam pemikiran ekofeminisme, karena logika ini berhasil mendeteksi bahwa secara konseptual seksisme beririsan dengan naturisme.

Jangan sampai kita mempertahankan logika dominasi dalam memperjuangkan alam.

Jangan sampai kita menggunakan konsep “ibu bumi” untuk kepentingan budaya patriarki. Menurut saya perjuangan ekofeminisme harus konsisten dan konsekuen barulah ia akan mendekat pada keadilan dan kesetaraan.

Oleh: Andi Andur

COMMENTS

PUISI$type=carousel$sn=0$cols=3$va=0$count=5

POJOK REDAKSI$type=grid$count=3$m=0$sn=0$rm=0

Name

Artikel,140,Bali,116,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,157,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,180,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,568,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,36,Ekonomi,6,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,15,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,274,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,156,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,61,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,5,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,59,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,286,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,233,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,411,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,18,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,peradilan,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1105,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,36,Polisi,25,politik,90,Politikus,7,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,86,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,20,Sospol,40,Start Up,1,Suara Muda,61,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,45,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,18,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,10,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,5,Wisuda,1,WNA,1,Yulius Benyamin Seran,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Menggugat Ekofeminisme yang Dangkal
Menggugat Ekofeminisme yang Dangkal
https://1.bp.blogspot.com/-CVOETF-kEUc/WntX2VI8UYI/AAAAAAAAAko/VWwYYMPFq8IM-l19Dg0yroUdGGxaiaAwQCLcBGAs/s320/Perempuan%2BKendeng%2BMarjin%2BNews.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-CVOETF-kEUc/WntX2VI8UYI/AAAAAAAAAko/VWwYYMPFq8IM-l19Dg0yroUdGGxaiaAwQCLcBGAs/s72-c/Perempuan%2BKendeng%2BMarjin%2BNews.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/02/menggugat-ekofeminisme-yang-dangkal.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/menggugat-ekofeminisme-yang-dangkal.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close