Mengerikan, Gara-gara Lupa Ganti Pembalut, Model Cantik Ini Kehilangan Kedua Kakinya
Cari Berita

Mengerikan, Gara-gara Lupa Ganti Pembalut, Model Cantik Ini Kehilangan Kedua Kakinya

4 February 2018

Perempuan paling berisiko mengalami sindrom ini selama menstruasi dan terutama jika mereka menggunakan tampon, baru saja melahirkan, atau menggunakan alat kontrasepsi penghalang internal seperti diafragma. (Foto: Istimewa)
Marjinnews.com. Seorang model asal Los Angeles, Lauren Wasser kehilangan kedua kakinya karena penyakit langka.

Lauren mengungkapkan pada tahun 2012 ia harus kehilangan kaki kirinya akibat penyakit toxic shock syndrome (TSS) dan membuatnya hampir kehilangan nyawa.

Minggu lalu (9/1/2018), ia harus merelakan kaki kanannya diamputasi.

Lauren menceritakan ia mengalami bebapa gejala yang membuatnya tersiksa.

Pada kejadian pertama, dia tak sadarkan diri di lantai kamar tidurnya.

Tak ada siapa pun saat kejadian ini berlangsung.

Untungnya, ibunya memanggilkan polisi untuk pemeriksaan kesehatan saat dia tidak mendengar kabar darinya untuk sementara waktu.

Sementara di rumah sakit demamnya mencapai 40 derajat celcius, dia menderita serangan jantung dan organ tubuhnya mulai gagal sebelum dia dimasukkan ke dalam koma yang diinduksi secara medis.

Siapa sangka penggunaan tampon jadi penyebab dirinya terkena Toxic Shock Syndrome (TSS).

Tampon adalah produk kesehatan wanita, berbentuk silinder, biasanya dipakai saat haid, fungsinya sama seperti pembalut.

Lauren mengalami serangan jantung, ginjalnya gagal dan lainnya, sehingga dokter tak punya pilihan selain mengamputasi kaki kanannya dan beberapa jari kaki kirinya.

Model dan aktivis tersebut memiliki luka permanen di kaki kirinya, yang menurutnya pasti kedua kakinya akan diamputasi.

"Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk melakukannya, tapi yang bisa saya lakukan adalah memastikan hal itu tidak terjadi pada orang lain," ungkap Lauren dikutip dari The Sun.

Lauren sekarang mendorong undang-undang yang meminta National Institutes of Health di AS untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai produk tampon itu.

Pada tahun 2012 lalu, Lauren menceritakan saat itu ia tengah menstruasi dan ia pun pergi ke toko untuk membeli tampon.

Ketika dia kembali ke rumah, dia mengganti tamponnya sebelum berbaring di tempat tidur sambil mengabari teman-temannya tentang pesta ulang tahun yang akan mereka lewati malam itu.

Tapi, dalam beberapa jam dia mulai merasa tidak enak badan dan pusing.

"Saya memutuskan apakah saya akan berhasil karena saya merasa lebih buruk dan lebih buruk seiring berlalunya waktu," katanya kepada Style Like U.

"Gejala seperti flu saja, saya merasa mual dan kepala saya pusing sekali," tuturnya.

Lauren memutuskan untuk pergi ke pesta tersebut, tapi begitu sampai di sana, teman-temannya yang khawatir mengatakan bahwa dia terlihat sakit dan mengantarnya pulang.

Sejak saat itu kondisinya pun memburuk hingga ia harus dibawa ke rumah sakit.

Apa itu TSS?

Dikutip dari Nakita, sindrom ini adalah infeksi bakteri yang sangat berbahaya, namun bisa salah didiagnosis karena gejalanya mirip dengan penyakit lain sebab sangat jarang terjadi.

Hal itu terjadi bila bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus yang tidak berbahaya, yang hidup di kulit, menyerang aliran darah dan menghasilkan racun berbahaya.

Gejala biasanya dimulai dengan demam tinggi mendadak, dengan suhu di atas 38.9 celcius.

Dalam beberapa jam penderita akan mengalami gejala mirip flu termasuk sakit kepala, sakit otot, sakit tenggorokan dan batuk.

Kemudian diikuti dengan mual dan muntah, diare, terasa pingsan, pusing dan bingung.

Ternyata, perempuan berisiko tinggi mengalaminya. Mengapa?

Perempuan paling berisiko mengalami sindrom ini selama menstruasi dan terutama jika mereka menggunakan tampon, baru saja melahirkan, atau menggunakan alat kontrasepsi penghalang internal seperti diafragma.

Biasanya bakteri ini berkembang lantaran kebiasaan buruk perempuan yang jarang mengganti tampon atau pembalut.

Setiap tahun sindrom ini menginfeksi lebih dari 100.000 wanita. (RN/MN)