$type=carousel$cols=3

Membangun Kesadaran Ekologis

Krisis ekologis mempunyai latar belakang yang sangat kompleks. Setiap masyarakat di seluruh dunia memiliki pengalaman berbeda terhadap kas...

Krisis ekologis mempunyai latar belakang yang sangat kompleks. Setiap masyarakat di seluruh dunia memiliki pengalaman berbeda terhadap kasus ini (Foto: Dok. Pribadi)
Satu dari sekian banyak persoalan yang cukup menyita perhatian kita akhir-akhir ini ialah krisis ekologis. Persoalan ini menjadi diskusi menarik banyak kalangan dan ditempatkan sederet dengan persoalan-persoalan besar lain seperti politik, ekonomi, dan demokrasi. Betapa tidak,  setiap hari kita disuguhkan dengan berita-berita seputar persoalan ekologis.

Melalui media cetak,  kita membaca beragam berita seputar krisis lingkungan hidup. Mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, badai, hingga pencemaran lingkungan (tanah, air, udara). Di media elektronik seperti televisi, internet, kita juga mendengar dan melihat tayangan seputar persoalan tersebut.

Krisis ekologis mempunyai latar belakang yang sangat kompleks. Setiap masyarakat di seluruh dunia memiliki pengalaman berbeda terhadap kasus ini. Hal ini sangat dipengaruhi oleh keadaan geografis, keanekaragaman budaya, agama, politik, tingkat pengetahuan, tata kelola pemerintahan, hukum dan yang lainnya.

Ia tidak hanya bersentuhan dengan tabiat dan mentalitas manusia, tetapi juga bersinggungan dengan struktur penjamin kehidupan manusia itu sendiri. Artinya, persoalan ini mempunyai pengaruh yang luas, tidak hanya bagi kehidupan manusia, tetapi juga keseimbangan kosmos (alam semesta).

Pada tataran ini, persoalan ekologi berhubungan erat dengan pola relasi manusia dan alam lingkungan.

Krisis ekologis dalam dunia dewasa ini, sungguh sangat memprihatinkan. Kerugian yang ditimbulkan oleh krisis ini tidaklah sedikit. Banyak manusia mati, harta benda musnah dan negara mengalami kerugian besar akibat persoalan ini.

Di Indonesia misalnya, pesoalan ekologis yang sering terjadi ialah banjir dan tanah longsor. Persoalan ini seringkali melanda negri tercinta ini setiap tahunnya. Kerugiannyapun tidak terhitung jumlahnya.  Di Ponorogo, misalnya sebanyak 27 orang tewas tertimbun longsor, 35 rumah warga rusak, puluhan hewan milik warga tertimbun material longsor, dan banyak orang lainnya harus mengungsi (Kompas 2/4/17).

Di Dusun Dlopo, kecamatan Ngetos, kanupaten Nganjuk, Jawa Timur, sebanyak lima orang tertimbun material longsor, (Kompas,11/4/2017).  Masih banyak kasus serupa, yang memperlihatkan kepada kita bahwa kerusakan alam semakin mengancam keberlangsungan hidup kita. Alam semakin tidak bersahabat dengan kita.

Penyebab Krisis Ekologis
Kita sering lupa, bahwa alam sebenarnya tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan alam. Karena itu baiklah kita sadar dan merasakan kembali, kita ini sekedar ciptaan yang lemah dan mudah pecah (Sinduhunata, 2017: 6).

Agaknya semua orang menyetujui bahwa krisis ekologis sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia. Manusia, baik pribadi maupun kelompok dan lembaga bentukannya adalah aktor-aktor utama krisis ekologis dewasa ini.

Menurut Raymundus Sudhiarsa, krisis ekologis berhubungan erat dengan kualitas kemanusiaan kita. Keserakahan, kerakusan, dan kesemberonoan manusia yang ingin mendapatkan keuntungan banyak dalam jangka pendek, bersumber pada pola relasi manusia dengan alam sebagai relasi subjek–objek. (Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi, 2008:184).

Hal ini tidak terlepas dari paham antropomorfisme yang mengakui bahwa manusia adalah pusat alam semesta.

Selain kualitas kemanusiaan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah salah satu pemicu krisis ekologis. IPTEK memfasilitasi keegoisan manusia untuk mengeksploitasi  alam secara masif tanpa memikirkan dampak bagi manusia itu sendiri dan generasi yang akan datang. Kemajuan IPTEK benar-benar menjadi mimpi buruk bagi alam, karena alam pada hakikatnya  tidak bisa membela dirinya sendiri.

Disinyalir pula, bahwa problem lingkungan hidup ini memiliki korelasi dengan politik pembangunan yang tidak adil dan tidak memihak kepentingan jangka panjang. Politik pembangunan sering kali tidak pro lingkungan. Alam seringkali dijadikan alat untuk memuaskan nafsu kekuasaan. Kebijakan politik seringkali merugikan alam tanpa memikirkan dampaknya. Sejauh dampak buruk kerusakan lingkungan tidak dirasakan langsung dan mengganggu kepentingan pribadi orang akan tetap masa bodoh.

Membangun Kesadaran Ekologis
Ada beberapa hal yang kiranya dapat dilakukan untuk membangun kesadaran ekologis. Pertama, pendidikan ekologis. Pendidikan ekologis amat penting untuk menekan kerusakan lingkungan. Menurut Mateus Mali, pendidikan ekologis itu ialah upaya penyadaran akan keberadaan lingkungan sebagai bagian dari ekosistem yang mempengaruhi kehidupan manusia sendiri.

Semua orang harus dibiasakan dengan mentalitas seperti itu agar lingkungan hidup tetap terpelihara dan lestari dan kelangsungan hidup terus berjalan. Kebiasaan ini sebaiknya sudah mulai ditanamkan sejak kecil dalam lingkungan keluarga. Memulai dari lingkungan keluarga berarti setiap keluarga menanankan dalam setiap anggotanya untuk bertanggung jawab terhadap kelestarian alam.

Misalnya menggalakan penanaman pohon, menghemat penggunaan air dan listrik, meningkatkan penggunaan barang-barang yang ramah lingkungan, dan belajar untuk hidup sederhana.

Kedua, Memandang alam sebagai sahabat. Setiap manusia mesti bersahabat dengan alam. Yang mencirikan relasi “sahabat” adalah berada dalam situasi saling memberi dan menerima, menggunakan sambil memelihara atau melestarikan serta saling menguntungkan.

Hanya dalam proses “kesalingan” terhadap sahabat ini, kita dapat mengerti bahwa alam bukan hanya sebagai tempat kita berpijak, tetapi juga tempat kita menggantungkan seluruh hidup. Maka sudah selayaknya kita memandang alam sebagai sahabat bukan sebagai musuh karena alam tidak bisa membela dirinya.

Ketiga, Membangun dialog dengan alam. Dialog memungkinkan penghargaan terhadap pihak lain. Ia mengandaikan adanya relasi timbal balik, saling mengakui keberadaan pihak lain dan saling menerima apa adanya. Tanpa adanya dialog, segala sesuatu yang berada di luar diri merupakan objek yang mesti dijarah dan dimanfaatkan sepuapuasnya.

Dialog dengan alam merupakan sebuah keniscayaan bagi manusia masa kini. Terlebih lagi ketika alam seolah tidak bersahabat dengan kita. Adapun tujuan dialog itu ialah untuk saling menghargai dan menjaga. Sebab dialog tidak mungkin terjadi jika salah satu pihak menutup diri, dalam hal ini kita manusia.

Hal ini penting karena tujuan pertama sebuah dialog ialah untuk saling menghargai, menerima, dan memberi. Selain itu, dialog bukan sekedar pertemuan biasa dalam ruangan, tetapi bagaimana tindakan konkrit kita terhadap alam. Dialog dengan alam di sini dimengerti sebagai usaha setiap orang untuk menjaga relasi dengan alam. Hal ini mengandaikan adanya keinginana untuk menjaga keutuhan setiap ciptaan.

Keempat, Menata kembali kebijakan politik. Kebijakan yang disepakati elite politik terutama dalam kaitannya dengan masalah lingkungan perlu ditinjau kembali mengingat berbagai kerusakan lingkungan dan dampaknya bagi masyarakat. Sebab eksploitasi alam dan pembangunan dengan berbagai tujuan dan kepentingan, tidak pernah terlepas dari kerusakan lingkungan yang membahayakan keberlansungan hidup manusia.

Karena itu, pemerintah mesti mempertimbangkan secara matang setiap kebijakan yang bersentuhan dengan lingkungan hidup sebagai wujud tanggung jawab akan mandat seluruh rakyat. Tanggung jawab itu diwujudkan dengan mengambil langkah tegas bila terjadi penyimpangan terhadap penggunaan kekayaan alam yang tidak memperhitungkan generasi mendatang.

Oleh: Benediktus Jonas 
Mahasiswa Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,223,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,99,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,41,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,140,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,43,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,238,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,67,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,137,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,54,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,84,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,235,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,115,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,851,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,24,Prosa,1,PSK,1,Puisi,61,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,8,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Membangun Kesadaran Ekologis
Membangun Kesadaran Ekologis
https://1.bp.blogspot.com/-zDXi31PLp7o/Wn7qw6J21DI/AAAAAAAAAm4/Ci92dOiDu3Md7YpyCb261jD2ffBz39O5ACPcBGAYYCw/s320/IMG_0733.JPG
https://1.bp.blogspot.com/-zDXi31PLp7o/Wn7qw6J21DI/AAAAAAAAAm4/Ci92dOiDu3Md7YpyCb261jD2ffBz39O5ACPcBGAYYCw/s72-c/IMG_0733.JPG
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/membangun-kesadaran-ekologis.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/membangun-kesadaran-ekologis.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy