Melawan Hoax, Menjaga Hati
Cari Berita

Melawan Hoax, Menjaga Hati

16 February 2018

Virus itu langsung menyerang otak mengoyak nalar insani. Bila terpapar virus ini, orang akan mengalami skizfrenia informasi yang berujung lunturnya nurani (Foto: Dok. Pribadi).
Dunia maya kita sekarang sedang dilanda penyakit hati. Sampah informasi bertebaran secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Hoax, fitnah, dan hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti. Informasi sumir yang sudah usang datang silih berganti.

Penyakit ini kini mewabah nyaris tak terperi. Menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, pada akhir tahun 2016 terdapat sedikitnya 800 situs yang diduga menjadi produsen virus hoax, berita palsu, dan ujaran kebencian. Tersebar melalui facebook, twitter, hingga group whtas up.

Virus itu langsung menyerang otak mengoyak nalar insani. Bila terpapar virus ini, orang akan mengalami skizfrenia informasi yang berujung lunturnya nurani. Hilang kebijaksanaan akal dan keluhuran budi.

Padahal akal dan budi adalah penentu seseorang mampu tegak dalam jalur kemuliaan ataukah terjerembab dalam kemudaratan. Makanya, penyakit hatisering disebut biang segala masalah. Orang berilmu terjebak saling berseteru,dan orang berbudi dicaci maki.

Jempol  tangan bergerak tanpa kendali: mengamini setiap info tanpa verifikasi, lalu menyebarkannya seolah semua peduli. Hal demikian bukan saja menghancurkan persahabatan tapi juga memundurkan peradaban. Sayangnya, kondisi  begini terjadi tanpa disadari. Persis ungkapan tokoh Sufi, Imam Al Ghazali, “ penyakit hati itu laksana belang diwajah seseorang yang tak punya cermin. Jika diberitahu orang lainpun, mungkin ia tak mempercayainya.”

Pada suasana batin tertentu, kebenaran tak lagi jadi penentu. Sebaliknya, membenarkan tindakan yang terlanjur salah.

Dalam kondisi begini, marilah menghingat sebuah kisah hikmah. Iblis awalnya sebuah kisah sebagai mahluk yang paling hebat beribadah , tapi justru dilaknat oleh tuhan sang pemberi berkah. Sebabnya satu saj, hati iblis diliputi penyakit bernama sombong: merasa lebijh mulia daripada adam.

Dalam kajian semantik, sombong didefinisikan menolak kebenaran dan meremhkan orang, semoga kita terhindar dari perilaku iblis yang sok suci.

Kita semua sesungguhnya bersaudara. Saling terkait dalam tubuh seperti hubungan kaki, tangan, kepala, dan satunya sakit, yang lain turut merasakannya. Karena itu, marilah berlatih empati agar selalu ingat pada keadilan Ilahi.

Sesama saudara, janganlah mencaci jika tak ingin dibenci. Jangan puila memfitnah karena bakal terkena tulah. Bersikaplah bijak agar sadar dimana tempat berpijak. Di zaman digital, persaingan global maklin bersifat total. Jika ingin jadi bangsa handal , tiada pilihan kecuali meningkatkan kualitas diri sendiri secara optimal.

Jadikan air bah informasi sebagai modal produktif menuju level lebih tinggi. Manfaatkan jejaring sosial untuk bersinergi meningkatkan produktivitas dan mencapai kesehjatraan bersama.
Janganlah puas hanya menjadi generasi pemangsa berita bohong, penyantap kabar burung, atau penikmat konten negatif lainnya.

Di era kebebasan berpendapat dan bermedsos ria, berempati dan menbggunakan rasa makin perlu dilakukan bersama. Setidaknya untuk menjaga kata – kata agar tak melukai sesama.

Aksi menebar kabar hoax bukanlah sedekah yang berpahala. Sebaliknya, itu menabur benih keburukan yang akan kembali pada diri kita semua. Kegemaran copas (copy paste) tidaklah terpuji karena bisa mematikan kreativitas semua kita.

Disisi lain, memanipulasi pesan dan mendistorsi informasi untuk memantik emosi termasuk perbuatan tak terpuji. Berkomentar dimedsos tanpa memperhitungkan dampaknya juga mestinya dihindari.

Melatih empati, dengan  berpikir bahwa orang lain bisa terluka karena kalimat kita diranah maya, sama artinya melatih diri untuk menjaga hati. Dunia maya sejatinya adalah cermin hati.

Aktivitas  yang terekam di data digital adalah gambaran dari isi pikiran yang biasanya tak nampak di dunia nyata. Ia ibarat terminal yang menghubungkan perbuatan kita di dunia tempat berlabuh di akhirat sana. Rekam jejak buruk berujung di neraka, rekam jejak baik bermuara di surga. Alhasil, kita memilih aktif diranah maya, maka seringlah berkaca, ke mana arah kita sesungguhnya?


Oleh: Paulus A.R. Tengko 
Mahasiswa Universitas Flores, Ende, Nusa Tenggara Timur