Marianus Sae Tidak Perlu Dibela

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Marianus Sae Tidak Perlu Dibela

12 February 2018

Spekulasi banyak muncul ke permukaan. Lawan-lawan politik berpesta pora menyaksikan runtuhnya tirani sang bupati dari hati masyarakat (Foto: Istimewa)
Masyarakat pengguna media sosial pada Minggu, 11 Februari 2018 dikejutkan dengan pemberitaan Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terhadap salah satu calon Gubernur NTT, Marianus Sae. Cagub yang belakangan ini menarik banyak simpati masyarakat karena aksinya yang berbeda dengan paslon lain itu ternyata terlibat praktek kerja kotor yang membuat banyak orang merasa sangat kecewa.

Spekulasi banyak muncul ke permukaan. Lawan-lawan politik berpesta pora menyaksikan runtuhnya tirani sang bupati dari hati masyarakat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah peta percaturan politik menuju Pilkada NTT 2018 berubah? Bagi penulis tidak terlalu berpengaruh, jika tim pemenangan Marianus bekerja maksimal dalam rentang waktu sisa sampai proses pemungutan suara berlangsung bulan Juni mendatang.

Hal ini menjadi satu-satunya cara untuk menentukan masa depan politik MS di NTT. Berkaca pada dua isu yang sebelumnya diprediksi mampu menurunkan elektabilitas sang Bupati, semuanya tidak mempan. Berkat dukungan akar rumput, MS seolah memiliki tameng perlindungan yang kokoh untuk tetap berjalan tegak.

Sekarang satu isu lagi menggerogoti rekam jejak beliau. Bupati Ngada itu diduga menerima suap dari Dirut PT Sinar 99 Permai, Wilhelmus Iwan Ulumbu terkait sejumlah proyek di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Dalam kasus ini, keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Wilhelmus merupakan salah satu kontraktor di Kabupaten Ngada yang kerap mendapatkan proyek di Kabupaten Ngada sejak 2011. Dalam kasus ini, Marianus diduga menerima suap Rp 4,1 miliar dari Wilhelmus.

Berat, namun Marianus Sae tidak perlu dibela. Mengapa? Karena meski sudah ditetapkan sebagai tersangka keikutsertaan MS dalam pertarung merebutkan posisi nomor satu NTT tidak terpengaruh sama sekali. Proses hukum yang melibatkan beliau pun masih tetap berjalan. Keputusan untuk memenjarakan MS atas perbuatannya belum resmi diputuskan pengadilan.

Pada akhirnya, masyarakat dituntut untuk semakin jeli melihat setiap geliat praktek politik yang sehat sebelum menjatuhkan pilihan. Apa yang tampak di permukaan tidak selamanya menunjukkan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran. Besar harapan kita untuk setiap praktek kerja kotor dalam birokrasi NTT diusut sampai tuntas dan tidak hanya dilakukan pada saat menjelang Pilkada.

Oleh: Andreas Pengki