$type=carousel$cols=3

Lampu Kuning Mutu Pendidikan Kita di NTT

Hikmah dari pernyataan sang menteri ini sebenarnya merupakan kritikan yang harus berterima dan bagi kita perlu menyadari ini sebagai sebua...

Hikmah dari pernyataan sang menteri ini sebenarnya merupakan kritikan yang harus berterima dan bagi kita perlu menyadari ini sebagai sebuah otokritik yang mendalam terkait dengan proses pendidikan kita (Foto: Istimewa)
Asumsi dasar diajukannya judul ini adalah bahwa pendidikan di bumi NTT sekarang ini telah menjadi ironi. Masih segar dalam ingatan kita pernyataan Mendikbud yang secara gamblang menyinggung perasaan sejumlah orang NTT, bahwa seolah-olah kualitas pendidikan di propinsi ini rendah hingga dianggap sebagai “biang kerok” rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

Pernyataan ini secara serta merta mengundang emosi khlayak NTT dengan pelbagai macam opini sebagai bentuk protes terkait dengan pernyataan sang menteri tersebut. Namun aksi protes yang sama pun perlu dilontarkan kepada kita juga bahwa terkait pernyataan sang menteri tersebut, masih perlukah kita tersinggung?

Hemat penulis sejatinya tidak harus demikian. Hikmah dari pernyataan sang menteri ini sebenarnya merupakan kritikan yang harus berterima dan bagi kita perlu menyadari ini sebagai sebuah otokritik yang mendalam terkait dengan proses pendidikan kita. Sadarkah kita bahwa mutu  pendidikan di NTT kita ini selalu berjalan mundur.

Kepala Dinas Pendidikan provinsi Nusa Tenggara Timur dalam validnews.com mengatakan bahwa penilaian mutu pendidikan itu dilihat dari dua aspek.  Keduanya yaitu profesionalisme dan pedagogic yang segogyanya menjadi bagian dari empat aspek uji kompetensi guru, selain perilaku dan sosial.

Dari sejumlah pendapat lainnya juga memperlihatkan bahwa penyebab rendahnya mutu pendidikan di NTT adalah diakibatkan oleh:

1) sarana dan prasarana yang tidak mendukung
2) kesejahteraan tenaga pendidik (guru) yang belum diperhatikan secara baik,
3) kurangnya perhatian guru dan kepala sekolah, dimana lebih memperbanyak waktu rapat dan mengurus proyek,
4) bentuk perhatian pemerintah akan pendidikan yang masih rendah baik dari segi sarana dan prasarana maupun kesejahteraan guru dan
5) rendahnya partisipasi masyarakat pada pendidikan.

Beberapa kendala tersebut hemat penulis merupakan landasan utama bagi kita untuk mengamini pernyataan sang menteri sekaligus merupakan sebuah lampu kuning mutu pendidikan kita di NTT. Oleh karena itu alarm kritis sudah seharusnya digaungkan agar secepatnya langkah solutif segera dipraksiskan.

Wacana Profetis
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat urgen bagi kehidupan manusia. Nilai integral dari pendidikan meliputi aspek multidimensial kehidupan manusia baik itu progresivitas sosial, politik, ekonomi maupun budaya yang melekat dalam pribadi manusia.

Aspek-aspek tersebut menyatu secara berintegritas dan membentuk pribadi manusia yang berspiritual, sosial, berhati nurani, atau yang dalam filsafat manusia disebut sebagai sifat manusia yang personalistik, yaitu masalah jasmani-rohani, sebagai makhluk individu-sosial, makhluk yang bebas dan makhluk yang menyejarah.

Maka pendidikan tidak boleh tergoda untuk mengembangkan kehebatan dan perkembangan aspek intelektualitas semata-mata, melainkan harus memberikan aksentuasi dan perhatian yang seimbang terhadap setiap aspek kepribadian manusia. (Nelsensius Klau Flauk; 2008, hlm. 4-5).

Aksentuasi nilai-nilai luhur pendidikan menjadi tolok ukur bagi perkembangan visi dan misi peradaban yang hendak digapai secara legal dan formal. Hal ini seturut dengan asumsi umum berdasarkan makna dari pendidikan itu sendiri yaitu sebagai sarana untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan.

Asumsi ini telah dilegitimasikan secara public oleh Habermas sebagaimana yang dikutip oleh O’neil (2002: XV-XVI) mengenai makna dari pengetahuan. Ada tiga dasar pokok yang dapat dipahami yakni:

Pertama, pengetahuan sebagai instrument knowledge, artinya pengetahuan dijadikan sebagai tempat untuk mengontrol, memprediksi, memanipulasi, dan mengeksploitasi terhadap objeknya.

Kedua, pengetahuan sebagai hermeneutika knowledge, artinya pengetahuan hanya dimaknai sebagai tempat pemahaman, dan ketiga, pengetahuan sebagai critical knowledge, artinya pengetahuan sebagai katalis kritis terhadap “dominant ideology” ke arah transformasi sosial.

Wacana akan rasionalisasi pendidikan pada dasarnya sudah mulai nampak pada era 70-an, tokoh seperti Ivan Illich dan Paulo Freire yang mencoba mengajukan berbagai argument menarik seputar pendidikan dan hakikatnya, serta permasalahan pendidikan dengan berbagai “muatan” yang terdapat di dalamnya termasuk juga pembicaraan mengenai aspek yang mendasari pendidikan itu dengan berbagai macam kepentingannya.

Terlepas dari tawaran tersebut, sudah saatnya kita tidak hanya berkutat pada permasalahan “objektivasi”, di mana kedudukan kita sebagai “pengkonsumsi” ilmu dan pengetahuan melalui pendidikan akan terus berada dalam jalur sebatas sebagai objek tanpa ada nilai tawar untuk menjadi subjek dari pendidikan itu sendiri.

Demikian sebuah pendidikan yang seharusnya ditempatkan pada ‘jalur’ pendidikan sesungguhnya yang pada dasarnya tak terlepas dengan berbagai permasalahan yang memudarkan nilai dan esensi dari pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang seharusnya sebagai upaya untuk mencerdaskan peradaban manusia, bukannya sebagai ajang ‘monopoli’ dalam rangka membentuk sebuah peradaban yang sifatnya terbentuk dengan berbagai tujuan tertentu pula.

Pendidikan yang dianggap mulia dan mengandung kebajikan ternyata mengalami sebuah krisis kepercayaan atas ketidak-mampuan pendidikan sebagai penyuplai ilmu dan pengetahuan dalam menghadapi segala realitas dan tantangan zaman.

Apa yang hendak mau dikaitkan dari wacana pendidikan tersebut dengan realitas yang terjadi di NTT. Tak dapat dipungkiri bahwa faktor rendahnya mutu pendidikan kita di NTT diprasangkai oleh menguaknya fakta monopoli di antara para pemegang kunci utama yang menentukan arah berkembangnya pendidikan kita di NTT.

Yang paling pertama kita soroti adalah sinergitas pemerintah dengan pihak otoritas sekolah masih sangat jauh dari yang diharapkan. Relasi bernuansa politis semakin dilanggengkan demi kepentingan privat ketimbang kepentingan pendidikan itu sendiri.

Selain itu program-program kerja yang dicanangkan kurang sinkron dengan apa yang menjadi kebutuhan dasar dalam institusi pendidikan itu sendiri.

Hal ini semakin diperparah lagi dengan kemampuan penjabaran kebijakan dari pusat. Pemahaman yang rendah para pimpinan dan pelaku pendidikan cendrung membuat keputusan  yang jauh bergeser dari keputusan pengambil kebijakan. Padahal menyelaraskan suatu kebijakan merupakan hal yang sangat penting.

Dalam arena otonomi daerah pun, para kepala dinas pendidikan tingkat kabupaten/kota lebih memilih berkoordinasi dengan bupati/walikota propinsi. Misalnya, kalau kepala dinas pendidikan  propinsi mengundang para kepala dinas pendidikan kabupaten/kota untuk rapat koordinasi, tidak semua kadis datang.

Mereka hanya mengutus pejabat eselon III dan IV di lingkungan dinas pendidikan kabupaten/kota. Sehingga apa yang menjadi agenda utama yang hendak diputuskan sangat jauh dari  loyalitas formal dan berakibat pada penyelewengan keputusan antara pemangku jabatan dengan sasaran yang ditujukan. Seperti alokasi anggaran pendidikan 20 persen dari APBD belum dilaksanakan secara wajar dan tepat sasaran.

Di samping faktor pemerintah juga yang paling penting untuk disoroti adalah profesionalisme dan pedagogik yang seyogyanya menjadi bagian dari empat aspek uji kompetensi guru. Dalam hal ini guru-guru dan kepala sekolah seharusnya disiapkan dengan baik, dilatih dan dididik secara efektif untuk memperoleh kompentesi yang transformatif.

Singkatnya kemampuan pedagogis para pendidik harus selalu dievaluasi dan dimonitoring secara efisien oleh pemerintah khususnya para dinas pendidikan setempat sehingga kompetensi guru tetap terawasi dengan baik. Kepala sekolah dan para guru perlu memiliki motivasi dan komitmen tinggi untuk  mendidik dan mengasuh peserta didik dengan hati yang mau melayani.

Kedua problematika ini sudah menjadi alarm dini bagi kita untuk mengambil langkah pasti yang penuh transformatif. Kita menyadari bahwa peradaban kemanusiaan kita merupakan klaim dasar yang ditempuh melalui pendidikan.

Usaha-usaha rasionalisasi pendidikan tidak akan terwujud jika sinergitas negara dengan lembaga pendidikan berada di luar logika kemajuan. Bangunan besar ideologi pendidikan adalah kategori rasional dalam memahami kehendak pendidikan itu sendiri.

Kebijakan negara lebih bernuansa politis daripada pembagian yang merata yang menentukan porsi yang sama besarnya bagi hidup dan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan. Kebijakan negara terbukti sangat subjektif memandang jatah pendidikan sehingga dapat dikatakan itu sebagai “tirani pendidikan” padahal semuanya merupakan hasil produk kegiatan manusia.

Oleh karena itu, pemasukan kesadaran kritis menjadi landasan profetis untuk keluar dari belenggu keterpurukan yang terjadi. Kita menyadari bahwa memperbaiki prosedur lama yang sangat konservatif menuju tradisi baru merupakan jalan terjal harus ditempuh guna mengangkat kembali cita-cita luhur pendidikan kita di NTT menjadi lebih bermutu.

Oleh: Constan Aman


Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,211,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,94,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,39,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,135,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,433,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,3,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,27,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,4,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,6,Imlek,2,Indonesia,1,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,1,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,222,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,121,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,45,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,7,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,13,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,104,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,320,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,783,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,100,PKRI,1,PMII,1,PMKRI,21,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,31,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,14,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,3,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Lampu Kuning Mutu Pendidikan Kita di NTT
Lampu Kuning Mutu Pendidikan Kita di NTT
https://3.bp.blogspot.com/-sRqXgmffjd8/WpAEIj5vY0I/AAAAAAAAAyA/ueSwbKY_DBswjzkR_Or308kvuUvtvV0owCLcBGAs/s320/Potret%2Bpendidikan%2BNTT.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-sRqXgmffjd8/WpAEIj5vY0I/AAAAAAAAAyA/ueSwbKY_DBswjzkR_Or308kvuUvtvV0owCLcBGAs/s72-c/Potret%2Bpendidikan%2BNTT.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/lampu-kuning-mutu-pendidikan-kita-di-ntt.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/lampu-kuning-mutu-pendidikan-kita-di-ntt.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy