Lagi, Sumba Jadi Pulau Terindah Versi Majalah Focus Jerman! Berikut 7 Fakta Tentang Sumba
Cari Berita

Lagi, Sumba Jadi Pulau Terindah Versi Majalah Focus Jerman! Berikut 7 Fakta Tentang Sumba

MARJIN NEWS
25 February 2018

Pasola Sumba (Foto: Istimewa)
Surabaya, marjinnews.com - Pulau Sumba terpilih menjadi satu diantara 33 pulau terindah versi Majalah Focus, Jerman. Sebuah artikel  berjudul Sumba gehrt zu den 33 schnsten Inseln der Welt  (Focus 17. February 2018, Seite 116) memiliki arti, "Sumba, Bukan Nama Sebuah Tarian, tapi Sebuah Mimpi" menuliskan tentang keindahan pulau ini.
Artikel Majalah Focus (Kompasiana/Rofinus D. Kaleka)

Majalah Focus merupakan satu dari tiga majalah mingguan terkemuka di Jerman. Jumlah pembacanya hampir 5 juta orang dengan jumlah terbitan lebih dari 400.000 eksemplar.

Pulau Sumba berbatasan langsung dengan Pulau Sumbawa, Pulau Timor, Pulau Flores, dan Australia. Pulau seluas 10.710 km2 ini menyimpan begitu banyak potensi alam sebagai destinasi wisata.

Mulai pantai hingga perbukitan, Pulau Sumba selalu menawarkan keindahan yang sama, yang menjadi surga tersembunyi di kepulauan Nusa Tenggara.

Berikut ini tujuh fakta tentang pulau cantik bernama Sumba seperti dilansir kupang.tribunnews.com.

1. Danau air asin satu-satunya di Indonesia
Danau Weekuri (Istimewa)
Danau Weekuri merupakan danau air asin satu-satunya di Indonesia. Danau yang memiliki air bening berwarna kehijauan ini berada di kawasan Kodi Utara, Sumba Barat Daya. Danau air asin ini dikelilingi batu karang. Air asin dipercaya keluar dari sela-sela batu karang yang berbatasan langsung dengan laut.

2. Hotel Terbaik Nomor Satu di Dunia
Nihiwatu Sumba (Istimewa)
Nihiwatu terpilih menjadi hotel terbaik di dunia tahun 2016 dan 2017 oleh majalah wisata , Travel+Leisure. Baru-baru ini, Nihiwatu yang terletak di Sumba didaulat sebagai hotel terbaik nomor 1 dari ajang World's Best Travel Awards 2016. Dan pada tahun 2017, Nihiwatu kembali menjadi hotel terbaik.  Nihiwatu mengalahkan deretan hotel bergengsi di AS, Selandia Baru, Australia, serta Ekuador dan Cile.

3. Lokasi Syuting Beberapa Film Indonesia
Ada beberapa film Indonesia yang mengambil lokasi syuting di Pulau Sumba. Diantaranya adalah film laga "Pendekar Tongkat Emas" garapan Mira Lesmana dan Riri Riza yang tayang akhir 2014 lalu. Selanjutnya ada film "Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak" atau Marlina the Murderer in Four yang diperankan Marsha Timothi. Selain dua film diatas, film komedi yang disutradarai oleh Ernest Prakasa "Susah Sinyal" juga mengambil lokasi syuting di Sumba.

4. Pasola Jadi Runner-Up Atraksi Budaya Terpopuler
Disamping Nihiwatu, atraksi perang tradisional melempar lembing dari atas punggung kuda yaitu Pasola juga dinobatkan sebagai Runner-Up kategori atraksi budaya terpopuler. Anugerah bergengsi tersebut diberikan oleh Majalah Wisata Travel + Leisure.

5. Harga Tenun Sumba Capai Ratusan Juta
Dikenal karena kualitasnya, tenun Sumba punya tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat lokal. Proses pewarnaan adalah salah satu yang membuat tenun ini menjadi mahal harganya. Proses ini bisa memakan waktu enam bulan atau paling lama tiga tahun. Adapun harga jual kain ini cukup tinggi, mulai Rp10 juta hingga Rp300 juta. Selain proses, motif tenun, dan panjangnya sangat berpengaruh terhadap harga jual.

6. Perbukitan yang Berubah Warna
Bukit Wairinding (Istimewa)
Sutradara film "Susah Sinyal", Ernest Prakasa mengungkapkan selama di Sumba, ia menemukan hal unik. Yakni perbukitan yang bisa berubah warna karena pengaruh musim. Dia menceritakan, saat pertama kali datang untuk melakukan survei lokasi pada bulan Maret, hamparan perbukitan sejauh mata memandang berwarna hijau pekat. Tetapi, saat kembali di bulan Juli, semua hamparan hijau sudah berubah warna menjadi cokelat tandus karena musim kemarau.

7. Memiliki Kepercayaan Asli yakni Marapu
Marapu adalah sebuah agama atau kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Marapu dalam ajarannya menerapkan sistem keyakinan dengan memuja arwah-arwah leluhur.

Dalam bahasa Sumba, arwah-arwah leluhur itu disebut Marapu, yang memiliki arti 'yang dipertuan' atau 'yang dimuliakan'. Itulah sebabnya agama yang dianut juga disebut Marapu. (AA/MN) *)