$type=carousel$cols=3

Korupsi dan Setan Kemiskinan

Begitu pula wabah kebiasaan suap dan sogok menyogok untuk perkara perizinan bahkan peradilan kerap kali seakan membudaya dan menjadi perso...

Begitu pula wabah kebiasaan suap dan sogok menyogok untuk perkara perizinan bahkan peradilan kerap kali seakan membudaya dan menjadi persoalan pelik penegakan hukum di negeri kita (Foto: Dok. Pribadi).
KORUPSI Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah penyelewengan uang negara. Tetapi, kata KORUPSI menurut saya adalah musuh semua agama dan kemanusiaan. Korupsi bukan sekedar mencuri milik orang lain melainkan kemiskinan secara struktural.

Oleh sebab itu, korupsi masuk ke dalam kategori kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) atau disetarakan dengan kejahatan narkoba dan terorisme yang menjadi musuh bersama bangsa-bangsa yang ingin maju.

Mahatma Gandhi mengatakan kemiskinan itu adalah kekerasan yang paling nyata atas kemanusiaan. Negara yang memiliki sumber daya alam sangat kaya namun rakyatnya banyak yang hidup prihatin di bawah garis kemiskinan adalah karena penyakit korupsi yang mewabah mulai dari elite berkuasa sampai ke akar rumput.

Sebagaimana di Indonesia birokrasi yang berbelit suap dan pungutan liar (pungli) seringkali dibenarkan untuk suatu urusan sebagai balas jasa dan melancarkan urusan  seperti memberikan uang saat mengurus surat keterangan domisili kepada piihak terkait atau urusan pemerintah remeh temeh lainnya termasuk dalam urusan perizinan usaha.

Begitu pula wabah kebiasaan suap dan sogok menyogok untuk perkara perizinan bahkan peradilan kerap kali seakan membudaya dan menjadi persoalan pelik penegakan hukum di negeri kita.

Dan kenyataan diatas bukanlah isapan jempol karena banyaknya kasus tangkap tangan terkait markus (makelar kasus) didunia peradilan kita. Seperti kasus yang menghebohkan adalah melibatkan hakim konstitusi Akil Mochthar yang harusnya menjadi benteng terakhir penegakan hukum dan memerangi perilaku korup malah takluk dengan syahwat rendah dan nista bernama korupsi.

Belum lagi korupsi dana–dana publik untuk pembangunan baik APBN maupun APBD. Banyaknya kasus yang telah diungkap meskipun pada kasus-kasus yang relatif besar seperti salah satunya dugaan koruspi dana penyertaan (bail out) bank century yang diduga melibatkan banyak nama besar seperti mantan wapres Boediono (Era presiden susilo bambang yudhiyono atau kerap disapa SBY ) dan Sri Mulyani (Menteri Keuangan SBY) seakan–akan menguap tak tahu ujung pangkal penuntasannya.

Penangkapan sejumlah kepala daerah baik gubernur dan bupati kerap kali dilakukan oleh KPK terkait suap sejumlah urusan, mark  up dan kasus korupsi lainnya yang menunjukkan betapa mewabahnya korupsi hingga ke daerah seperti didaerah NTT.

Khususnya di Kabupaten Ende, dugaan grativikasi yang terjerat 8 oknum anggota DPRD  Kabupaten Ende, kasus ini sudah tercuat dari tahun 2015 dan sampai sekarang belum ada realisasi dari pihak kepolisian mengenai kasus grativikasi yang dimana pihak Direktur PDAM memberikan dana perjalanan dinas kepada Anggota DPRD sebesar Rp 14.900.000, dan tim penyelidik dari pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.

Paling memilukan adalah korupsi juga mewabah keurusan dan keumatan seperti korupsi dana haji yang melibatkan Menteri Agama era presiden SBY yakni Surya Dharma Ali. Begitu pun korupsi yang melibakan politisi senayan betapa nistanya menggerogoti dana pengadaan cetak Al-Quran yang penuntaasan kasusnya sudah sampai ke vonis (ingkra).

Tentu masih banyak lagi kasus korupsi yang sudah terkuak hingga kini yang tak mugkin saya sebutkan satu persatu yang menunjukan keseriusan penegak hukum khususnya lembaga anti rasua KPK bersam penegak hukum lainnya.

Meskipun dinilai banyak pihak masih belum opimal dan cenderung payah itu mengecil atau indikasinya dikerdilkan jika berhadapan dengan tembok kekuasaan. Belum optimalnya pemberantasan korupsi bak jamur di musim hujan lantaran berdasarkan laporan, indonesia tercatat masih pada urutan 88  dari 168 negara pada tahun 2017 negara yang sangat korup.

Meskipun di sisi lain optimisme masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi-JK masih relatif tinggi. Optimisme dimaksud berdasarkan survey yang dilakukan centre for strategic and international studies (CSIS) dengan sampel 1000 oang tersebar di 34 propinsi dengan tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin eror 3,1 persen menunjukan kepercayaan publik terhadap komitmen memperkuat KPK naik menjadi 74,6 persen dari 62,6 persen.

Disamping itu,  kepercayaan publik juga meningkat pada komitmen mendorong reformasi kepolisian dan mafia peradilan masing-masing sebesar 65 persen dan 62,4 persen. (Kompas, 9 Desember 2016 ).

Kemudian terungkapnya kasus diatas yang melibatkan banyak oranng besar di negeri ini dan fenomena budaya korupsi di masyarakat seperti yaang telah sedikit kita singgung diatas sekaligus memberi konfirmasi betapa korupsi di Indonesia sangat kronis.

Berbagai macam modus korupsi baik secara konvensional maupun relatif dengan modus yang lebih terorganisir karena melibatkan sistem, kewenangan dan secara berjamaah yang kesemuanya dilakukan dengan tujuan yang sangat jelass menuju kepada kehancuran bangsa melalui proses kemiskinan secara terstruktur.

Berkembangbiaknya jamur korupsi yang di mulai dari budaya rasua untuk suatu kebijakan yang menguntungkan diri sendiri dan kelompok itu tak lepas dari cost politik yang sangat tinggi pada sistem demokrasi neo-liberalisme yang dianut sistem politik kita.

Hal ini karena masih rendahnya kesadaran politik, tingkat pendidikan dan kesehjateraan masyarakat membuat masyarakat cenderung pragmatis dalam menentukan baik perwakilan nya di lembaga legislatif maupun pada pemilihan pressiden dan kepala daerah melalui pemilihan langsung dan terbuka.

Sejatinya sistem politik dimaksud diatas dapat melemahkan dua fungsi  utama partai politik sebagai pilar demokrasi yakni rekrutmen dan kaderisasi keanggotaan untuk dipersiapkan menjadi kandidat terbaik pada tiap pemilihan umum.

Namun karena alasan suara terbanyak dan tiap masyarakat yang memenuhi syarat memiliki hak plih (one man, one vote) berimplikasi parpol lebih cenderung pragmatis pula dalam memilah dan menempatkan orang-orang yang ditawarkan kepala masyarakat untuk dipilih.

Hitung-hitung elit parpol lebih karena alasan populer dan memiliki modal yang kuat sehingga politik transaksional (money politic) tak bisa dihindari.  Kembali lagi, oleh sebab itulah korupsi merupakan bencana ata krisis kemanusiaan.

Dari deskripsi dan analisa diatas, korupsi bisa dipahami sebagai sebab dan sekaligus akibat problem sosial seperti kemiskinan dan kejahatan peradilan seperti contoh yang telah disebutkan, korupsi juga mempengaruhi daya saing dan iklim investasi dan karena itu berdampak kronis atas pada tujuan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas ekonomi yang berkualitas dalam hal ini pemerataan kesehjatraan ekonomi.

Dan fenomena demikian adalah seperti lingkaran setan kemiskina. Entah dalam mengentasnya kita harus memotong simpul yang mana lebih dulu karena keterkaitan satu dengan yang lain sangat erat seperti entitas yang tak terpisahkan. Dan begitulah sistem yang korup, melihat kemiskinan adalah komoditas politik, sebaliknya kemiskinan berpengaruh pada potensi suburnya budaya korupsi itu sendiri.

Oleh: Paulus A.R.Tengko 
Aktivis LMND E.K. Ende 

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,223,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,99,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,41,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,140,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,43,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,238,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,67,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,137,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,54,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,84,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,235,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,115,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,851,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,24,Prosa,1,PSK,1,Puisi,61,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,8,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Korupsi dan Setan Kemiskinan
Korupsi dan Setan Kemiskinan
https://1.bp.blogspot.com/-VR0roELHNjA/WoUg-WkoMGI/AAAAAAAAAns/dArJJrFQzTkM3fo7uvjqHaLIpDtNqIHgwCLcBGAs/s320/LMND%2BEnde.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-VR0roELHNjA/WoUg-WkoMGI/AAAAAAAAAns/dArJJrFQzTkM3fo7uvjqHaLIpDtNqIHgwCLcBGAs/s72-c/LMND%2BEnde.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/korupsi-dan-setan-kemiskinan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/korupsi-dan-setan-kemiskinan.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy