Kopi Tak Berfilosofi

Aku ingin protes tentang kata-katanya bahwa kopi tak berfilosofi. Dia tidak sadar pahit kopi memberi pelajaran besar (Foto: Dok. Pribadi) ...

Aku ingin protes tentang kata-katanya bahwa kopi tak berfilosofi. Dia tidak sadar pahit kopi memberi pelajaran besar (Foto: Dok. Pribadi)
Asap api itu mengepul sempurna. Dengan bentuknya yang makin lama makin berpencar tertiup angin senja menusuk melalui bilik bolong di dapur  Wawan. Sementara Wawan memeluk diri dalam kehangatan kain hitam yang mulai pudar warnanya api yang ada di tungku rupanya meminta ditiup lagi.

Dengan segera Wawan melepaskan diri dari hangat  dan meniup lagi pada 3 kumpul kayu setengah basah yang dia pungut tadi pagi.  Rintik membuat kayu kering itu setengah basah. Tapi  hujan tidak bisa disalahkan. Toh banyak sajak, lagu dan cerita tercipta dari hujan.

Pria itu menggunakan nafas panjang yang semakin lama membuat kepalanya pening sepaket dengan mata merah berair. Api yang mesti dijaga demi kematangan dan kepanasan air untuk kopi ayahnya di sawah belakang rumah, terseok-seok dan sempat dibawa menari oleh angin lalu padam.

Wawan mengambil kasar kainnya yang tak sadar telah jatuh di tanah becek pada dapurnya.

"Akh, dasar!" Dia menggerutu lalu perlahan mengambil botol minyak tanah di sudut dapur.

Botol berwarna merah  bekas tempat oli itu lalu dimuntahkannya diatas perapian. "Rrggghhh" gertaknya singkat melihat tak ada satu tetesan minyak yang keluar. Minyak tanahnya habis.

"Sudahlah Wan, jangan kau paksakan diri." Kata ayahnya yang tiba-tiba muncul di pintu dapur membawa cangkul.

 "Cucilah cangkul ini untuk ayah. Lumpurnya kebanyakan. Hujan diluar menyisakannya sebagai hadiah. Minggu depan kita harus bertanam padi lagi." Lanjut ayahnya.

 "Akh, pak. Maaf. Kopinya tidak sempat dibuat. Dan untuk minggu depan aku kan ujian skripsi. Sudahkah ayah lupa?" Kata Wawan sambil mengambil cangkul tua milik ayahnya.

"Ayah lupa. Baiklah nak. Biarkan itu menjadi urusan ayah dan ibumu. Pergilah. Cuci cangkulnya. Ayah mau menonton bola di pak Sales. Kemarin katanya Madrid kalah 2-0 dari Barca."

"Jangan terlalu membanggakan diri pak. Sebentar lagi Madrid juga pasti akan menunjukkan taringnya." Ketus Wawan  melepas pergi ayahnya yang dari kemarin terus mengejeknya dengan kekalahan Madrid. Club kesayangan Wawan. Ayahnya tertawa puas dan berlalu.

Minggu skripsi tiba. Wawan seperti biasa melempar senyum kepada teman-temannya yang tidak bisa membohongi kecemasan di mata mereka. Hingga dia melihat Sari di sudut ruangan. Menatap cemas kesana-kesini.

"Skripsi ini kau buat sendiri kan Sar?  Kenapa mesti takut. Dikoreksi atau dipertanyakan pun yah ini hasil kerjamu. Seharusnya kamu lebih paham. Lebih baik salah karna kekeliruan sendiri di saat mengisinya daripada salah karna ternyata mempercayakan orang yang salah membuatnya. Bukan karena tidak mampu. Tetapi justru saking hebatnya dikerjakan orang kau akan kehilangan arah ketika menjelaskan pada dosen penguji. Bukankah itu yang kau katakan dulu Sar?" Jelas Wawan kepada wanita berambut sebahu itu.

"Kau sok tau kecemasanku. Iya aku cemas. Tapi bukan karna ujian ini. Kopi di kosku habis. Sebentar teman-teman pejuang toga akan berkumpul di kosku. Kemarin kopinya cepat habis. Bagaimana tidak. Harum kopi tumbuk dari kampung menggodaku." Sari berkata sambil tertawa kecil melihat telinga Wawan memerah.

"Undang teman-teman pejuang toga? Emang aku bukan teman kamu?" Kata Wawan mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Akh, kamu kan calon pacar aku" kata Sari sambil mencubit hidung Wawan.

"Ini khusus edisi cewek Wan." Sari meraih tangan Wawan dan berlari kecil mendengar pengumuman bahws ujian akan segera dimulai.

"Andai kamu bercandanya tidak ke semua laki-laki Sar. Aku masih sedikit berharap. Iya kamu baik. Tapi sayang ke semua orang. Sar, Sar." Desah Wawan di dalam hati sambil mengikuti langkah kaki wanita di depannya.

Di dalam kata pengantar skripsinya Wawan mencantumkan nama kedua orangtuanya di nomor dua setelah Tuhan di nomor satu.

"Terimakasih untuk kedua orangtua yanh melahirkan aku dalam kesederhanaan. Aku belajar bahwa sekilo beras adalah harta ketika mereka turut menaruhku dalam proses. Syukur ini berlimpah karna aku beranjak dari nol bersama kalian ayah ibu. Sehat selalu dalam bimbingan Tuhan. Izinkan aku selalu menyajikan secangkir kopi di setiap senjaku bagi kalian."

Sari terlihat sangat cantik mengenakan kebaya biru dengan bawahan rok panjang hitam bermotif emas. Rambutnya yang disanggul semakin menegaskan dagunya yang terbelah indah dengan pipi tirus. Dia seperti biasa rakus dalam apa saja yang dia inginkan. Datang menghampiri Wawan dan mencubit hidung pria itu lagi. Dia tak segan-segan menyelipkan tangannya pada siku pria itu lalu menggandengnya.

"Wah, bapak ibu tidak kalah cantik. Heemm, Wawan pasti gantengan Bapak kala muda dulu." Antusias Sari selalu dia tunjukkan. Sambil mencium tangan orangtua sahabatnya itu yang sudah dikenalnya dekat.

"Nak, ini kurang. Kegantengan ini sudah dilahap terik dan hujan. Membawa keriput  penuh di kening yang biasa ibu Wawan kecup mesra dulu. " ibu Wawan mencubit manja perut suaminya.

"Bapak bangga dengan hasil yang kalian raih. Selamat untuk cum laude yang kalian dapat nak. Gula dari gaji pertama Sari nanti jangan lupa bawa ke rumah sebagai pelengkap kopi yang sering disuguhkan Wawan untuk kami." Tanggap ayah Rina di hari wisuda anak satu-satunya tersebut. Suasana mengalir dengan cepat.

Di dalam ruangan Wawan dan Sari duduk berdekatan. Kursi merah yang dihiasi kain berbentuk kupu-kupu tampak di bagian belakang membawa kesan berbeda di kampus STKIP kala ini. Kursi nomor 504 dan 505 mereka tempati. Ayah ibu keduanya mendampingi dengan setia.

"Selamat menganggur anak-anak. Hari ini lulusan sebanyak tigaribuan dicetak." Sahut ibu Sari dalam nada canda. Semua tertawa.

"Tapi memang ini penting dipikirkan yah bu. Jadi kalian berdua setelah ini jangan hanya harapkan tes CPNS. Kamu Wawan kembangkan bakat melukismu. Bukan hanya menggambar wanita sexy lalu menaruhnya dibawah bantal sebagai teman tidur.  Dan kamu Sari pasti akan lebih cantik kalau memutuskan untuk membuka kedai kopi di ujung pertigaan menuju Iteng. Golo Lusang menjadi tempat strategis. Racikan kopimu sempurna. Itu bakatmu." Sambung ibu Rina.

"Yah, yah tanta. Bukankah menyenangkan ketika kita mencintai hobi kita dan dapat penghasilan darinya?" Semua tersenyum sumringah.

"Kepada orangtua dari saudara Benediktus Wawan    salah satu mahasiswa lulusan terbaik STKIP Ruteng angkatan 2019/2020 kami persilakan untuk menyampaikan sepatah dua kata."

Ayah Wawan berdiri dengan gagah ke arah mimbar.

Tentang anak saya Wawan saya hanya mau cerita satu hal. Dia tidak pernah menyentuh kopi dari kecil. Dia tidak pernah suka kopi. Beranjak remaja dia berpinda haluan menegaskan bahwa Baginya kopi tidak lebih dari serbuk-serbuk rumor yang dialaykan dalam sajak untuk membumbui cerita. Tetapi tiba-tiba suatu hari selepas yudisium dengan membawa nilai A+ miliknya dia lalu memijat-mijat bahuku dan meminta aku melatihnya membuat kopi.

Aku ingin mengumbarnya dengan cacian untuk memuaskan hasratku mengatakan kau memang salah soal kopi. Aku sangat penasaran apa yang membuatnya tiba-tiba begitu. Tawa puas sekaligus tanya besar terpampang di wajahku. Dia lalu menggerutu 'jangan terlalu merasa menang terus ayah. Selamanya bagiku tetap tak berfilosofi. 

Aku hanya jatuh cinta pada cara wanita di pojok sana yang menyajikannya dengan senyuman. Iya filosofinya ada pada bagaimana cara menjamunya. Sakit rasanya ketika aku tak berani membiarkan seteguk racikan itu masuk bertempur di mulutku sementara sebenarnya di saat yang bersamaan aku ingin melumat habis kopi dengan rela asal dia dengan senyum tetap di depanku.

 Tetapi tiba-tiba dia dipanggil pria lain yang memuja kopi buatannya. Sial, dia menyajikan senyum yang sama ke pria-pria itu. Aku ingin membalasnya dengan racikan kopiku khusus untuknya. Agar dia tak dipanggil peracik lain. Hanya aku dan dia.

Kata Wawan masih ku ingat persis. Aku ingin protes tentang kata-katanya bahwa kopi tak berfilosofi. Dia tidak sadar pahit kopi memberi pelajaran besar. Kopi itu hidup kita nak. Pahit tapi tetap nikmat. Kopi menawarkan hal tak biasa dari hidup. Kau sudah menjadi kopi terenak dalam hidup ayah. 

Dilahirkan dari kesederhanaan tetapi beraroma tinggi. Bukan hanya soal prestasimu di sekolah, tak segan berbaur dengan tetangga membersihkan kampung dengan sukacita hingga hal sekecil mengangkat cerigen anak-anak SD yang menimba air di depan rumah meninggalkan makna lebih buat ayah. Kedekatan hatimu dengan hidup sederhana kita meninggalkan kesan yang mendalam.

Tetapi waktu itu tak ku tuangkan protes panjangku. Aku tersenyum melihat putra tunggalku benar-benar jatuh hati. Dan untuk hatinya sejak itu kuajarkan dia meracik kopi. Tapi dasar keras kepala sesuai permintaan Wawan aku harus menuangkan rasaku untuk mengajarkan dia membuat kopi dengan rasa yang pas tanpa mengecapnya. Yah dia menginginkan racikan sempurna tanpa kopi itu dikecup bibirnya.

Sejak itu dia selalu menyajikan kopi untuk aku dan ibunya. 

Untukmu anak semata wayangku. Ayah selalu ada dalam cita dan cintamu. Hari ini tiba sebagai awal perjalanan. Jaya selalu sampai di masyarakat. Menjadi orang sukses lalu mengejar wanita yang menyajikan kopi itu dan wujudkan harapanmu menyajikan kopi baginya. Ayah mendukungmu dengan kepercayaan yang tinggi seperti pekat kopi. Selamat kepada semua wisudawan/wisudawati yang telah menjadikan doa-doa orangtua terhenti sedikit untuk lega dan melanjutkannya lagi pada rasa syukur."

Semua hadirin bertepuk tangan. Wawan tak kuasa menahan tangis. Tapi malunya lebih besar. Wanita di sampingnya tertawa kecil.

"Siapa sih wanita itu?" Pura-pura bodohmu adalah kemunafikan  besar yang ingin kucari jawabannya. Kau memang tak pernah sadar atau tidak mau tau karna menganggap kita hanya sebatas kopi yang menghangatkan di awal musim hujan tapi tak berani mengusaikannya bersama? Sahabat? Munafik.

------

"Ini kopi yang kubuat untukmu Sar. Semoga kamu menikmatinya." Kata Wawan sambil menyodorkan kopi ke arah Sari di kedai kopi milik Sari. Dia juga menyelipkan satu lukisan ke arah Sari.

"Masih ingat wanita sexy yang diceritakan ibu kala kita wisuda dulu? Yang kulukis bukan wanita sexy. Tapi cewek berbadan kurus yang menggemaskan. Kamulah wanita yang kutiduri dibawah bantalku setiap malam." Jelas Wawan.

Sari tertawa "wahh, aku cantik yah disini. Terimakasih." Jawabnya singkat sambil mengacak-acak rambut Wawan.

"Kamu memang selalu menganggap semuanya candaan." Geram Wawan lalu menyingkirkan kursi yang dia duduki dan beranjak dari tempat itu.

"Wan, aku berbincang dengan ayahmu hampir setiap kamis kala kau pergi mengurus galeri lukismu. Ayahku bahkan lebih tau perasaanku ke kamu. Kamu bilang susah membedakan sikapku ke semua orang? Iya, itu karna aku berharap kau menahanku saat kau melihatnya. Kopi mungkin bisa membuat mabuk. Tapi dia tau kapab benar-benar harus pekat dan kapan butuh gula untuk memaniskannya. Aku hanya butuh sedikit keberanian kamu Wan. Atau kau sedang tidak percaya diri selama ini? Baiklah. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu dan aku mencintaimu." Teriak Sari menghentikan langkah Wawan di pintu kedai kopinya.

Akhir pekan yang membawa Wawan kembali perlahan ke arah Sari lalu menyambarnya dengan ciuman mesra di kening Sari.

"Kau pikir hanya kau yang bisa liar menyentuh diriku?" Desah Wawan di antara telinga mungil dan sibakkan rambut hitam wanita pemilik senyum itu.

"Kau kopi terpahit yang pernah ku kecap." Kata Sari yang tetap tak mau kalah. Dia menyeka sisa ampas dari bibirnya yang melekat di bibir pria itu.

"Kau memang selalu nakal. Tapi kopi tidak sepahit itu kalau disajikan begini." Kata Wawan sambil menjilat habis ampas yang tersisa di ujung bibirnya.

Mereka menutup senja kemayu yang merayu berdua.

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,9,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,45,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,157,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,259,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,88,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,354,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Kopi Tak Berfilosofi
Kopi Tak Berfilosofi
https://2.bp.blogspot.com/-pRyGa9NEtn4/WohjKe7k_jI/AAAAAAAAC7g/p8g4dG8F0F0DW63s_p8f7HoTvk5FdGqfQCLcBGAs/s320/Tini%2BPasrin%2Bmarjinnews.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-pRyGa9NEtn4/WohjKe7k_jI/AAAAAAAAC7g/p8g4dG8F0F0DW63s_p8f7HoTvk5FdGqfQCLcBGAs/s72-c/Tini%2BPasrin%2Bmarjinnews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/kopi-tak-berfilosofi.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/kopi-tak-berfilosofi.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close