Sadis, Ibu Ini Bunuh 3 Anak Kandungnya Yang Masih Kecil
Cari Berita

Sadis, Ibu Ini Bunuh 3 Anak Kandungnya Yang Masih Kecil

22 February 2018

Ketiga anaknya yang tewas itu adalah Ni Putu Diana Mas Pradnya Dewi, 6 tahun; Made Mas Laksamana Putra Lakis, 4 tahun dan Nyoman Kresnadana Putra lakis, 2 tahun. (Foto: Istimewa)

MANGUPURA, Marjinnews.com  - Sungguh teragis, seorang ibu di Sukawati Kabupaten Gianyar Bali tega membunuh ketiga buah hatinya sendiri yang masih kecil.

Ni Luh Putu Septian Parmadani, yang juga merupakan seorang Guru di SDN 4 boleh terbilang sadis. Alasannya hanya karena ada masalah dengan sang suami. Kejadian itu terjadi pada Rabu (21/2) pagi.

Setelah menewaskan ketiga buah hatinya itu Ni Luh Putu Septian Parmadani kemudian mencoba membunuh diri sendiri dengan cara menenggak baygone.

Ketiga anaknya yang tewas itu adalah Ni Putu Diana Mas Pradnya Dewi, 6 tahun; Made Mas Laksamana Putra Lakis, 4 tahun dan Nyoman Kresnadana Putra lakis, 2 tahun.

Sebelumnya, Rabu (21/2) pagi, ternyata sempat datang ke sekolah tempatnya mengajar di SDN 4 Sulangai.

Selasa (20/2) pagi, Ia yang kala itu berpakaian guru ternyata tak mengajar. Pun anehnya ketiga anaknya diajak kala itu. Hal itu disaksikan salah seorang guru TK yang berlokasi di sebelah SDN 4 Sulangai.

"Dia (pelaku sekaligus korban) sempat datang ke sekolah pakai pakaian guru beserta tiga anaknya. Saya juga sempat menyapa. Tapi anehnya, anaknya yang sulung yang sudah TK tak berseragam. Padahal mestinya sekolah," ujarnya.

Sementara itu, Putu Dewi, 33, sepupu Putu Moh Diana, suami pelaku mengatakan, korban sekaligus pelaku memang sempat mengatakan akan mengajar, tapi sampai siang hari tak kembali. 

"Bilangnya ngajar ke mertuanya, tapi sampai siang tak pulang-pulang. Akhirnya dicari suaminya (ke rumah bajang/gadis)," terangnya.  
Sekitar pukul 12.45, Selasa (20/2) pelaku bersama anak-anaknya datang ke rumah asalnya Banjar Palak Desa Sukawati (TKP) untuk menginap tanpa ada sesuatu yang mencurigakan.

Kemudian sekitar pukul 14.30,  suami pelaku Putu Moh sempat datang ke rumah saksi dan berbicara dengan pelaku. Saat itu, Putu Moh sempat mengajak pelaku dan anak-anaknya untuk pulang ke Petang.

“Tapi pelaku tidak mau sehingga suami pelaku pulang sendiri,” kata sumber.

Selanjutnya, sekitar pukul 23.00, saksi I Nyoman Yoga yang tak lain adik pelaku, sempat bertemu dengan Putu Moh di depan pintu rumah dan ditanya oleh saksi mau kemana. Saat itu, dijawab oleh suami pelaku mau pulang ke Petang.

“Sementara pelaku sedang menyusui anaknya selanjutnya saksi tidur ke kamar dan pelaku masih di luar bersama kakak saksi dan ibu saksi,” terang sumber.

Kemudian sekitar pukul 06.40, Rabu (21/2) saksi I Nyoman Yoga hendak mengambil alat mandi di kamar tempat korban menginap. Saksi kemudian menggedor pintu kamar namun tidak ada jawaban dari dalam.

“Kemudian saksi berusaha membuka paksa jendela kamar kemudian dilihat pelaku dan korban dalam keadaan kaku,” terangnya kepada media.

Kemudian saksi membuka pintu kamar selanjutnya memberitahukan keluarga yang lain, selanjutnya membawa pelaku dan korban ke rumah sakit Ganesha Celuk Sukawati.

Pada saat ditemukan posisi pelaku dan korban dalam keadaan tidur kepala di sebelah timur, kaki ke barat dan dalam keadaan terlentang.
Pelaku sendiri masih memegang pisau dengan posisi tidur paling utara anak pertama sebelah selatannya anak nomer dua sebelah selatannya anak ketiga dan paling selatannya pelaku.

“Ketiga korban sudah dalam keadaan meninggal dunia sedangkan pelaku masih kritis dengan luka goresan di pergelangan tangan kiri dan leher bagian kanan,” kata sumber tadi.

Dari hasil olah di TKP ditemukan baygon cair dalam kemasan plastik yang isinya sudah habis. Kamar juga dalam kondisi semerawut. Tempat tidur di lantai dengan beralaskan karpet merah, di atas karpet ada ceceran cairan diduga baygon, ditemukan pisau dapur yang berisi bercakan darah.

Remigius Nahal - Marjinnews.com