Keren, 6 Bandara Pertama yang Dibangun Belanda Di Indonesia Satunya Ada Di NTT

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Keren, 6 Bandara Pertama yang Dibangun Belanda Di Indonesia Satunya Ada Di NTT

25 February 2018

Raja Kupang ke-3, Alfons Ninsoni (kanan) bersalaman dengan Presiden RI pertama, Ir. Soekarno (kiri) saat Soekarno tiba di Bandara El Tari Kupang tahun 1950 lalu (Foto: Leopold Nisnoni). 
marjinnews.com - Bandar udara (bandara) pertama di Indonesia dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda. Dari beberapa bandara yang mereka bangun, beberapa di antara kini sudah tinggal sejarah.
Namun, ada juga yang beralih fungsi, tidak digunakan lagi dan berpindah lokasi.

Nah, dari semua bandara yang ada di Indonesia, kira-kira bandara mana yang pertama dibangun, ya?

1. Bandar Udara Kemayoran, Batavia
Bandara Kemayoran merupakan bandara internasional pertama di Batavia. Bandara ini dibangun pada tahun 1934 dan diresmikan pada tanggal 8 Juli 1940.

Dulu, bandara ini termasuk bandara yang terbilang modern pada masanya. Sebab, memiliki kapasitas yang besar dan fasilitsnya cukup lengkap.

2. Bandar Udara Kalijati, Subang
Bandara yang dibangun pada tahun 1914 ini sengaja ditempatkan tidak jauh dari Batavia. Tujuannya adalah agar mudah dipakai saat diperlukan.

Selain itu, lokasinya yang berada di pedalaman juga membuat bandara ini terlindungi. Pada 8 Maret 1942, bandara Kalidjati menjadi tempat penyerahan kekuasan dari Belanda ke Jepang.

3. Bandar Udara Tjililitan, Batavia
Merasa penting membangun bandara di Batavia menjelang perang dunia I, Belanda membangun bandara Tjililitan. Pembangunan bandara ini selesai pada tahun 1924 dan dijadikan sebagai tempat latihan terbang pesawat Fokker.

Pesawat ini adalah buatan Belanda yang dikhususkan untuk kawasan Asia Pasifik. Bandara Tjililitan merupakan cikal bakal Bandara Halim Perdanakusuma.

4. Bandar Udara Darmo, Surabaya
Bandara Darmo terletak di kelurahan Sawunggaling, kecamatan Wonokromo, Surabaya yang dibangun pada tahun 1920.

Bekas lokasi lapangan terbangnya kini menjadi Komplek Makodam V Brawijaya. Sedangkan, bekas lokasi landasan pacunya kini menjadi Jalan Raden Wijaya.

5. Bandar Udara Andir, Bandung
Sebelum membangun bandara ini, sebenarnya Belanda sudah lebih dulu membangun bandara di Sukamiskin dan diresmikan pada tahun 1921.

Namun, karena struktur tanah bandara tersebut lembek, Belanda pun membangun bandara yang baru di Andir. Bandara inilah menjadi cikal bakal bandara Husein Sastranegara.

6. Pelabuhan Udara Penfui
Belanda juga membangun bandara di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dikutip dari wikipedia.org, dahulu dikenal dengan nama Pelabuhan Udara Penfui.

Pada mulanya hanya berupa sebuah airstrip. Untuk pertama kali bandar udara ini didarati oleh pesawat udara pada tahun 1928 oleh penerbang Amerika Lamij Johnson.

Selanjutnya dikembangkan oleh Australia pada tahun 1944-1945 dan diberi nama Lapangan Terbang Penfui. Pelabuhan Udara Penfui dikuasai dan dipergunakan untuk kepentingan Angkatan Udara.
Bandara El Tari (Foto: Istimewa)

Tanggal 6 Mei 1950 Lapangan Terbang Penfui diserahkan oleh militer Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia dan dengan berkembangnya kebutuhan akan Angkutan Udara pada tahun 1960 mulai didarati oleh pesawat Garuda jenis DC 3.

Penanganan dan pengaturan terhadap kegiatan penerbangannya dilakukan oleh Angkatan Udara, karena pada saat itu belum ada organisasi perhubungan udara.

Pelabuhan Udara Penfui mulai dikelola oleh kepala pelabuhan udara dengan dibantu bendaharawan dari Dinas Meteorologi - Departemen Perhubungan Udara, dan sejak itu dikenal dengan nama penerbangan sipil.

Pelabuhan udara ini ditetapkan sebagai pelabuhan udara kelas III.

Masih menurut wikipedia.or, dengan makin meningkatnya arus lalu lintas melalui Bandar Udara Kupang, maka untuk kelancaran pelaksanaan tugas dan meningkatkan fungsi bandara, maka diterbitkan Surat Keputusan Bersama antara Menteri Perhubungan, Menteri Pertahanan Keamanan dan Menteri Keuangan dengan nomor : KEP/30/IX/75, KM 393/3/PHB - 75 dan KEP. 927.A/MK/IV/8/75[15], yaitu tentang Penggunaan Bersama Pangkalan dan Pelabuhan Udara.
Dalam surat keputusan tersebut dinyatakan Pelabuhan Udara Penfui menjadi Pelabuhan Udara Sipil Kelas II.

Sejak tanggal 20 Desember 1988, Pelabuhan Udara Penfui diubah dan ditetapkan menjadi Pelabuhan Udara El Tari Kupang untuk mengenang jasa (almarhum) mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, El Tari.

Istilah Pelabuhan Udara kemudian diubah menjadi Bandar Udara sejak tanggal 1 September 1985. (AA/MN)