Ibu Tanguh, Cerita Dari Pasar Sotor
Cari Berita

Ibu Tanguh, Cerita Dari Pasar Sotor

MARJIN NEWS
6 February 2018

"Mari silakan duduk di sini", katanya. Lama aku duduk disitu. Hujan belum berhenti. Tiupan angin semakin terasa. Sisa rokok dalam bungkusan menipis (Foto: Ilustrasi)
Suatu hari aku melewati jalan itu. Tiba-tiba hujan datang. Singgah di sebuah gubuk kecil pinggiran jalan. Berdiri samping gubuk sambil mengambil sebatang rokok dari bungkusan. Asap rokok membantu hangatkan tubuh, walaupun beresiko berat untuk kesehatan.

“Mau kemana nana?” seorang Tanta menyapa.

“Mau ke Ruteng Tanta” jawabku.

"Mari silakan duduk di sini", katanya. Lama aku duduk disitu. Hujan belum berhenti. Tiupan angin semakin terasa. Sisa rokok dalam bungkusan menipis.

“Kuliah di Ruteng?” Tanyanya.

“Iya Tanta”, jawabku.

“Sudah semester berapa?”,tanyanya sambil memberi jagung.

“Terimakasih”. Sudah semester enam Tanta.

Hujan semakin membesar. Kabut sore menyelimuti. Gelap mulai kelihatan. Sementara Tanta sodorkan
buah-buahannya ketika ada oto dan motor yang lewat. Perasaanku lain seketika. Ibu memang sungguh luar biasa.

Bukan hanya melahirkan anaknya. Tetapi membesarkan dengan pengorbanan luar biasa. Bahkan dalam situasi hujan, rela berlari, merebut, dan sodorkan buah-buahhan dari kaca jendela mobil, kataku dalam hati.

“Tanta, mereka tidak beli tadi?”, tanyaku melihat buah-buahannya tidak terjual. “Tidak nana”. Tetangga sebelah yang terjual tadi, jawabnya sambil tunjuk gubuk kecil sampingnya.

Kami yang berjualan disini tergantung rejeki. Terlalu banyak orang yang berjualan, katanya. Bagaimana hari ini tadi penghasilannya? Tanyaku lagi. Lumayan nana. Tapi kalau cuaca buruk, hasil yang didapat tidak seberapa. Lumayahlah untuk makan dan biaya sekolah anak-anak.

Mendengar ucapannya perasaanku sedih. Memang Ibu pahlawan yang hebat, kataku dalam hati. Setiap hari kerja begini terus. Rame juga. Tapi kalau rasa capeh. Jualannya pasti istirahat. Kami juga tidak pernah merasa malu, katanya. Semoga banyak yang laku Tanta.

“Anaknya Tanta sekolah dimana?” tanyaku.

"Tanta jangan marah. Aku tanya terus dari dari tadi".

"Tidak apa-apa nana, dari pada diam saja".

"Dia kuliah di Jawa. Biaya kuliahnya lumayan mahal".

Percakapan kami sore itu, menumbuh motivasi dan pengalaman  berharga dalam hidupku. Tanta terimakasih banyak. Hujan sudah berhenti. Pamitku ketika mau jalan. Setiap kali aku berlibur aku pasti singga. Tanta itu sangat baik. Suatu hari ketika liburan, aku melihat tidak ada.

"Tanta, Ibu ini dimana?", tanyaku pada tetangga samping gubuknya.

"Di rumah. Sekarang tidak berjualan lagi. Sudah ada usaha kecil seperti kios begitu, bahkan sudah beli bemo" jawabnya membawa aku kesesuatu yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya.

Oleh: Yohanes J. Nabor