Gereja Menjadi Pembawa Damai di Papua, Belajar Dari Sinode Kingmi Atasi Konflik Antar Suku
Cari Berita

Gereja Menjadi Pembawa Damai di Papua, Belajar Dari Sinode Kingmi Atasi Konflik Antar Suku

12 February 2018

Pertemuan membahas terkait perang suku di Timika yang dikhawatirkan berdampak ke mahasiswa setempat yang sedang belajar di Jayapura (Foto: Hengky Yeimo)
Jayapura, marjinnews.com - Badan Pengurus Pusat Sinode Kingmi Papua, Beny Giyai, menggelar pertemuan bersama dengan mayarakat Nduga dan masyarakat Damal. Pertemuan membahas terkait perang suku di Timika yang dikhawatirkan berdampak ke mahasiswa stempat yang sedang belajar di Jayapura.

“Pertemuan yang kami gelar dapat menetralkan suasana psikologi jemaat yang saling mencurigai takut ada pihak yang memperkeruh suasana dengan menyebarkan berita hoax kepada salah satu pihak,” kata Beny Giyai seperti dilansir tabloidjubi.com, di gereja Kingmi Bethel Waena, Minggu (11/2/2018).

Ia menyatakan berterimakasih ada perwakilan dari Timika yang sangat mengerti masalah dan menjelaskan persoalan sesungguhnya.

Beny berpesan agar mahasiswa dan masyarakat  tidak terbawa persoalan itu menjadi besar yang merembet ke Jayapura . “Kami sinode mendapat masukan, satu atau dua hari ke depan kami akan rangkum dalam surat gembala agar mahasiswa tidak takut atau gelisah,” kata Beny menambakan.

Menurut dia, perwakilan badan pengurus pusat Sinode juga meminta maaf kepaa jemaat khususnya kepada warga Damal dan Nduga. Tercatat selama satu bulan lalu hingga kini banyak orang asli Papua yang meninggal tidak hanya khasus Asmat.

“Tapi ada juga warga jemaat di Nduga terdapat 94 warga yang meninggal ditembak akibat kekerasan lanjutan dari peristiwa 3 Januari 2018,” katanya.

Anggota legislator Papua, Yakoba Lokmbre, menilai salah satu faktor penyebab  mahasiswa tidak tenang adanya informasi hoax yang beredar di kalangan masyarakat.

“Saya meminta untuk jangan menyebarluaskan informasi yang tidak bertanggungjawab kemudian membuat jarak sesama anak Papua,” kata Yakoba.

Menurut Yakoba, saatnya anak Papua bersatu, tidak boleh membawa masalah di daerah ke Jayapura. (AA/MN)