Diskusi Komunitas NGOPI dan KESA: Manggarai Ber-Desa Indonesia
Cari Berita

Diskusi Komunitas NGOPI dan KESA: Manggarai Ber-Desa Indonesia

11 February 2018

Permasalahan Desa di Manggarai begitu berdinamika, dinamika tersebut memiliki banyak perbedaan antara desa yang satu dengan desa yang lainnya dan daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. (Foto: RN)

Malang, Marjinnews.com - Komunitas Ngobrol Pintar ( NGOPI ) mengadakan diskusi bersama dengan Rekan-rekan kelompok Studi Desa ( KESA ) Jogja yang di laksanakan di Kongregasi Serikat Maria Montfrtan ( SMM ),  Malang ( 09/02.2018 ).

Kedua belah pihak ( NGOPI dan KESA ) mengangkat tema besar yang dibahas “MANGGARAI BERDESA INDONESIA ). Berangkat dari poin ke-3 dalam program NAWACITA Presiden ke-7 Republik Indonesia Jokowidodo yang berisi; Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Ini adalah sesuatu yang menarik yang di bidik oleh banyak kalangan termasuk generasi muda, keterlibatan generasi muda dalam banyak segmen pembangunan adalah wujud kepekaan orang muda dalam membangun Indonesia, membangunn Desa, membangun SDM, dan lain sebagainya.

Fandry Riandu Ketua Badan Permusyawaratan Desa ( BPD ) KESA mengatakan “Desa harus diakui dan harus di beri wewenang untuk membangun dirinya sendiri.

“ Secara periodik perubahan desa terjadi secara dinamis serta penuh dengan probelmatika yang luas. Mulai dari problem regulasi, problem status desa dan juga problem instantsi yang mengurusinya lalu problem Desa ini tidak bisa dipandang sebelah mata dalam periodisasinya”, Pungkas Vandri, Jum’at (9/2).

Isu mendasar yang diangkat pada saat perjuangan undang-undang desa ialah desa harus diberi kemandirian. Hal ini diperjuangkan oleh begitu banyak kaum kademisi, LSM, Legislatif maupun eksekutif.

Permasalahan Desa di Manggarai begitu berdinamika, dinamika tersebut memiliki banyak perbedaan antara desa yang satu dengan desa yang lainnya dan daerah yang satu dengan daerah yang lainnya.

Salah temuan penting yang dibahas oleh KESA dan NGOPI adalah masih minimnya antusiasme orang muda ada di dalam lingkaran aparat Desa dan di desa.

Menurut Nano Giovani, mantan Koordinator Komunitas NGOPI mengatakan “dinamika desa pasca kehadiran UU no.6 tahun 2014, di satu sisi kehadiran dari UU ini memang memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk kemandirian desa.

Namun secara objektif kita bisa melihat ragam persoalan yang di desa khusunya ketidaksiapan desa dalam menerimanya, Artinya bahwa kapasistas kelembagaan dsa masih belum mumpuni untuk mengeksekusinya”. Pungkasnya.

“Dalam teori pemberdayaan hal yang penting sebelum melaksanakan pemberdayaan masyarakat adalah penguatan kapasitas kelembagaan. Dalam konteks kehadiran UU ini, penguatan kapasitas aparatur desa mestinya menjadi langkah awal”, tambah Nano. Jum’at ( 09/02 ).

Seluruh komponen ini bersemangat dalam membicarakan substansi aturan yang nantinya akan dimuat dalam Undang-Undang Desa. Semangat baru ini akan berdampak pada perubahan, menuju desa baru yang telah digariskan oleh UU Desa.

Di satu sisi, Edy salah satu anggota kom.NGOPI menambahkan “masyarakat harus dijadikan subyek bukan objek pembangunan, dikatakan subjek dimana masyarakat akan lebih mengetahui potensi dalam dirinya dan tingkat partisipasinya lebih tinggi Karena masyarakatlah yang menjadi pelaku utama dalam pembangunan ”.

Hal tersebut di sempurnakan oleh Fendy Jehamat salah satu anggota komunitas NGOPI “ ada 2 hal penting yang perlu di perhatikan dalam konteks pembanguan desa, yang pertama pada peran BPD ( Badan Permusyawaratan Desa ).

BPD di harapakan memiliki tugas dan fungsi yang jelas unutk menjalankan fungsi legislasi  dan control serta mekanisme penggajian BPD harus jelas sehingga berdampak pada produktivitas kerja.

Kedua, kebijakan pendampungan desa harus dikaji ulang karena masih banyak konten kebijakan tersebut menjadi kendala dalam implementasinya, kendala tersebut antara lain pendamping desa mendampingi lebih dari satu desa, sumber daya pendamping desa tidak sesuai dalm bidangnya dan pendamping desa tidak permanen atau sistem kontrak”, Tegas Fendy. 
Laporan: Mega jehaman - Marjinnews.com