Dilan Fever, Penyebab Murid Berlaku Kriminal Terhadap Guru?
Cari Berita

Dilan Fever, Penyebab Murid Berlaku Kriminal Terhadap Guru?

5 February 2018

Pidi Baiq harus menulis ulang novel ini jika masih mau mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Fenomena kekerasan terhadap guru selama ini bisa jadi terinspirasi dari novel ini (Foto: Istimewa)
Beberapa waktu terakhir kita dikagetkan dengan fenomena pendidikan kita yang merosot dan tidak berprikemanusiaan. Di Madura, seorang guru mengalami keretakan tulang leher yang menyebabkan ia meninggal akibat ulah anak didiknya sendiri.

Beberapa waktu sebelumnya murid SMK di sebuah kota di Indonesia membunuh seorang driver taksi online menyebabkan keluarga, terutama anak-anaknya yang masih kecil harus kehilangan kasih sayang dari sang ayah.

Saat ini beredar juga video seorang siswa menantang kepala sekolahnya berkelahi. Tidak hanya siswa berusia sekolah, mahasiswa setingkat kampus berkualitas di negara kita pun berlaku tidak sopan bahkan terhadap pemimpin negara Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo.

Bagi penulis ini merupakan persoalan serius. Ketika kita disibukkan dengan euforia pesta demokrasi yang semakin hari semakin menghangat, ada beberapa hal yang acap kali kita abaikan yaitu proses belajar anak-anak kita dalam lingkungannya sehari-hari.

Lingkungan membuat rekonstruksi pemikiran, dan pola pikir sesorang terpengaruh hingga berimbas pada tindakannya kepada keluarga, diri sendiri dan orang lain. Beberapa masalah pada paragraf pertama tulisan ini merupakan persoalan klasik yang semakin hari bukannya membaik malah semakin buruk dan menciptakan sebuah kebobrokan dalam sistem pendidikan kita.

Kita memang tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, tetapi sangat penting bagi kita merefleksikan ini sebagai fenomena sosial yang harus segera kita selesaikan bersama-sama.

Mengacu pada data-data penyebab seorang peserta didik berlaku kriminal terhadap orang lain, harus kita akui bahwa pengaruh perkembangan teknologi informasi sangatlah besar. Pelaku pembunuhan terhadap driver taksi online misalnya mengaku melakukan pembunuhan yang hanya membutuhkan waktu 7 menit itu terinspirasi dari game online yang sering mereka jajal di internet.

Contoh tersebut hanya bagian kecil namun berdampak besar ketika dipraktekan kepada orang lain. Sensasi membunuh atau melakukan tindakan kekerasan seolah menjadi sesuatu yang harus dipenuhi seorang pelajar sekarang ini.

Yang menjadi kecurigaan penulis dalam tulisan ini adalah rentang waktu tindakan kekerasan yang semakin masif terjadi dengan fenomena Dilan 1990 besutan Pidi Paiq yang membuat banyak orang dari berbagai usia menjadi demam Dilan "Dilan Fever".

Kita mengetahui bahwa Dilan adalah sosok remaja SMA kelas dua yang menjadi kebanggaan kekasihnya Milea karena kepintaran serta romantismenya. Mungkin sebagian orang hanya melihat Dilan Fever yang muncul kepermukaan adalah petikan kata-kata romantis Pidi Paiq untuk berbagai alasan.

Namun, ada beberapa adegan dalam novel Dilan 1990 itu yang menginspirasi dan disalahtafsirkan oleh beberapa remaja, terutama ketika Dilan melawan dan memukul seorang guru BP karena hal sepele dalam sebuah upacara bendera.

Jadi disitu diceritakan Dilan berbaris pada barisan yang bukan kelasnya untuk bisa lebih dekat dengan Milea. Melihat hal itu, guru BP yang sudah sejak lama tidak menyukai Dilan lantas menghardik dia menimbulkan sebuah konflik yang berimbas pada aksi melawan dan memukul guru oleh peserta didik.

Anehnya, Dilan merasa ia benar dengan alasan pembenaran sepihak dengan mengatakan begini kepada Milea "Guru BP harus berterima kasih kepada anak nakal. Kalau tidak ada anak nakal, guru BP tidak akan mendapat pekerjaan".

Ini lucu. Tetapi, tidak baik!

Pidi Baiq harus menulis ulang novel ini jika masih mau mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia. Fenomena kekerasan terhadap guru selama ini bisa jadi terinspirasi dari novel ini. Siapa yang tahu?

Toh kita cenderung melihat segala sesuatu karena ketidakmampuan kita merasionalkan sebuah diksi penulis novel dengan hanya mengedepankan perasaan semata. Pidi Baiq sudah terang-terangan mengatakan bahwa Dilan itu cerminan kemunduran bangsa ini.

Oleh: Andi Andur