Cinta Pertama Bagian 1
Cari Berita

Cinta Pertama Bagian 1

3 February 2018

Matanya tak diam pada satu titik. Tangannya direntangkan dan Yolanda menikmati tubuhnya disapu angin perbukitan (Foto: Istimewa).
Berdiri dengan ditemani hembusan angin juga kicauan burung-burung dari dahan ke dahan lain kian menambah damainya pagi itu. Sedetikpun ia tak ingin beranjak dari tempat dimana embun masih pada ujung kelopak bunga. Memang suasana pedesaan yang masih asri telah banyak membuatnya kehilangan kepenatan yang selama ini ia rasakan di perkotaan, tempatnya tinggal.

Sang ayah memutuskan mengirim Yolanda dan mamanya untuk tinggal sementara di sebuah desa dengan alasan yang tidak diceritakan padanya. Keputusan yang terpaksa harus Yolanda terima, meski berat, sebab semuanya pasti berubah, dan tentunya dia harus meninggalkan sahabat-sahabat tercintanya di kota. Yolanda sadar selama ini yang papanya lakukan ialah demi dia dan mamanya, begitu pun dengan keputusannya yang ini.

Walaupun Yolanda tinggal di sebuah desa, namun tempat yang mereka tinggali masih terbilang mewah untuk ukuran tinggal di desa. Tampaknya bukan alasan keuangan yang membuatnya harus tinggal di tempat yang jauh dari jangkauan kota. Ayah Yolanda sengaja menyewa rumah itu untuk membuat istri dan anaknya nyaman selama tinggal di desa.

Untuk hari pertama, Yolanda hanya ingin menikmati angin tanpa dibebani tugasnya sebagai orang baru di daerah itu. Ia pun berjalan santai di antara celah-celah kebun teh yang sangat padat. Cukup melelahkan, ia berjalan perlahan, hingga akhirnya tiba di titik paling tinggi. Terlihatlah semua yang tak pernah ia lihat.

Napasnya masih tak karuan, Yolanda berusaha menghirup udara perlahan untuk membuat pacu jantungnya kembali tenang. Matanya tak diam pada satu titik. Tangannya direntangkan dan Yolanda menikmati tubuhnya disapu angin perbukitan.

"Kau! Itu," suara panik seorang pria mengagetkannya. Pria itu menatapnya dengan geram. Sedangkan Yolanda nampak terkejut atas kehadiran pria itu secara tiba-tiba, atau memang sejak awal Yolanda tidak sadar bahwa ada orang lain selain dia di tempat itu. Ia pun bersikap senormal mungkin.
 
"Kamu, siapa?"

"Seharusnya saya yang tanya, kamu siapa?" tanya Daniel memasang tatapan tajam.

"Oh, itu. Saya Yolanda, dan saya dari..." ucapannya dihentikan.

"Saya tahu kamu dari kota, terlihat dari sikapnya yang arogan." Yolan terbalak, tak mengerti mengapa pria yang baru ditemuinya itu berkata seperti itu padanya.

"Maksud kamu?!"
   
"Jika tidak, bibit-bibit bunga itu tidak bakal kamu injak-injak sampai hancur begitu," mata Yolanda membulat ia menatap kakinya yang berada di atas tanaman-tanaman kecil yang terlihat sudah hancur. Dengan sedikit rasa bersalah ia tersenyum kecil ke arah Daniel.
   
"Ini bibit bunga?" Daniel memalingkan wajah. Tanpa ingin menjawabnya. la hanya berusaha memunguti sisa bibit yang masih bisa diselamatkan.
   
"Bentuknya sama seperti rumput mana saya tahu itu bibit bunga,"

"Dasar orang kota, tidak bisa bedakan rumput dengan tanaman orang." ucap Daniel dingin dan berlalu.
   
"Apa?!"

Di pagi ketiga di tempat barunya. Yolanda mulai terbiasa dan mencoba menjalaninya senormal mungkin. Untuk pagi ini dia sudah siap dengan seragam rapi juga tas yang sudah berada di punggung. Untuk hari pertama di sekolah baru, tentunya ia harus datang lebih awal dari kebiasaannya untuk mendapatkan kesan murid yang baik.

"Mah. Yolan berangkat dulu ya."

"Iya, sayang."

Yolanda berangkat menaiki mobil dengan diantar oleh supir pribadinya yang juga ikut dia tinggal di desa. Tidak butuh waktu lama Yolanda pun sampai di sekolah. Terlihat beberapa anak menatapnya takjub. Parasnya yang cantik juga fasilitas mewah yang ia tunjukan membuatnya terlihat istimewa di mata murid yang lain.

"Harus yah ke sekolah naik mobil mewah beserta supirnya, biar apa? biar kelihatan kalau kamu orang kaya, gitu?" sindir Daniel dengan santai bersandar pada dinding kelas. Yolanda hanya memasang wajah tak peduli. Terlihat Daniel masih kesal dengan sikap Yolanda kemarin.

"Kamu masih baper sama yang kemarin yah? Sensi amat kaya cewek lagi datang bulan, tau!." jawab Yolanda mengejek sambil berlalu melewati Daniel.
     
"Eh, ada urusan apa lagi sih? Kenapa ikut-ikut?" hentak Yolanda yang merasa Daniel membuntutinya. Daniel hanya menatapnya tanpa ekspresi.

"Dasar cewek sombong. Ini kelasku. Seharusnya aku yang tanya kenapa cewek seperti kamu bisa ada di kelas ini?"

"Oh, kelasnya tah. Saya ya disuruh Kepsek,"

"Kalau begitu, sana di ujung jangan dekat-dekat,"

"Ish! Memangnya ini sekolah nenek moyang kamu, apa..!?"

*****
Setelah tiga bulan lamanya Yolanda merasa sudah terbiasa dengan kehidupan yang dijalaninya. Tinggal di desa, bergaul dengan anak-anak desa dan kebiasaan lainnya. Walaupun begitu Yolanda masih beraktifitas dengan supir yang mengantarnya kemana-mana.

Untuk hari ini aktifitas belajarnya sudah selesai, namun tak seperti biasanya sang supir dan mobilnya tak juga nampak di depan gerbang. Yolanda kebingungan dan berusaha menghubungi supirnya. Tiga menit kemudian ia mendapat balasan darinya, mengatakan jika mobilnya tengah berada di bengkel, ada sedikit kendala dan butuh beberapa menit bahkan mungkin jam untuk memperbaikinya. Yolanda menghela napas ia tak tahu apa harus menunggu atau mencari ojek yang ia sendiri tidak tahu di mana.

"Masih belum pulang? Supirnya kemana?" tanya Daniel di atas motornya.

"Emmm... Lagi di bengkel," jawab Yolanda menelisik, ia yakin Daniel akan mengejeknya.

"Masih lama?"

"Sepertinya begitu,"

"Ya sudah. Ayo ikut!"

Yolanda spontan menatap fokus wajah Daniel yang tidak seperti biasanya. Bahkan sebelum ia menjawab Daniel sudah menyodorkan helm ke tangannya, membuatnya sedikit terkejut.

"Oh. Iya," dengan sedikit ragu Yolanda pun naik ke motor Daniel.

Tak sedikit pun ada suara di antara keduanya, mungkin mereka sama-sama menyembunyikan kegugupannya. Hanya ada suara mesin motor dan bisik angin pedesaan. Tak heran, selama ini mereka berdua sering sekali berdebat, bahkan untuk hal kecil sekalipun.

"Ternyata naik motor lebih menyenangkan daripada naik mobil, pemandangannya lebih jelas terlihat," ungkap Yolanda membuyarkan keheningan di antara keduanya.

"Iya, makanya jangan jadi anak manja," celoteh Daniel. Yolanda yang mendengarnya merasa terpancing.

"Kamu, ajak saya cuma buat diejek-ejek yah!" Yolanda mendaratkan beberapa pukulan di punggung Daniel.

"Aw! Tidak, bercanda ih, galak amat jadi cewek."
 
"Syukurin siapa suruh bicara begitu,"

"Iya iya." ucap Daniel sambil membenarkan jaketnya yang gak karuan.

Daniel memacu motornya kembali setelah berhenti beberapa menit akibat perdebatan itu. Mereka selalu terlihat seperti anak kecil yang tengah berebut mainan, karena sejatinya yang diperdebatkan itu bukan masalah besar.

Tak begitu jauh dari tempat pemberhentian awal, mereka kembali berhenti di suatu tempat. Bukan di halaman rumah Yolanda ataupun di depan rumah Daniel, mereka berhenti di sebuah bukit yang terdapat bangunan berdinding kaca. Tentunya itu membuat Yolanda kebingungan sekaligus berpikiran buruk pada cowok di depannya.

"Kamu kenapa ajak-ajak saya ke sini? Mau macam-macam yah?!" tanya Yolanda penuh kecurigaan.

Sedangkan Daniel hanya tersenyum ringan, justru ia malah menarik tangan Yolanda untuk mengikutinya.

BERSAMBUNG ...

Oleh: Heribertus Kandang
marjinnews.com Makassar