Cinta dan Persahabatan
Cari Berita

Cinta dan Persahabatan

MARJIN NEWS
15 February 2018

Ruteng terkadang membosankan, dia pembawa masa lalu yang membuatku tidak menjadi penikmat masa depan sepertimu.(Foto: Dok. Pribadi)
Nyatanya dicintai sangat membuatmu lupa diri.

"Tar, kamu masih ingat nggak 4 tahun yang lalu ketika kita  begitu kerasnya belajar melawan rasa cinta dengan kaca mata minus  dan bersetubuh dengan berbagai sumber buku? Kita yang selalu menjelajahi alam unik ciptaan Tuhan saat merayakan kejuaraan level 1 dalam kelas?" ririn yang terjebak dalam nostalgia bersemangat mengingatkan sahabatnya yang sedari tadi diam itu.

"Kenapa diam? di otakmu terlalu banyak ilmu ya? Atau universitas terbaik di Bali itu mengambil segala ingatanmu?"

Ruteng terkadang membosankan, dia pembawa masa lalu yang membuatku tidak menjadi penikmat masa depan sepertimu.

Ah bodoh, seharusnya kita akan selalu bersama-sama dulu; belajar bareng, ngelancong ataupun menertawakan gadis-gadis malang yang gila karena cinta itu
.
"Tapi kamu berhasil meraih IPK sesuai dengan perjanjian kita kan?" kali ini Tirin dan Tari beradu pandang.

Ada air penyesalan terbendung dibalik sorot mata bulat nan istimewa itu. Kata yang tak kesampaian juga janji yang telah diingkari.

"Kamu tak pernah mengerti Rin bahwa kerasnya kehidupan mampu mengalahkan komitmen dan harapan" ujarnya.

"Iya, anak orang kaya sepertimu  takkan pernah tau arti mencari yang sesungguhnya"kata Ririn.

Kamu berlari diatas kepastian waktu, enggan menengok namun terus mempengaruhi takdir yang adalah aku dalam batas perbedaan. Kau tak perduli arti kepulangan dalam pergi, arti kata dalam pengucapan.

"Apa maksudmu?" Ririn bertanya dengan polos.

"Sudalah.. kiranya pencari juga penikmat takkan pernah satu dalam dua raga. kamu tetaplah menjadi pemburu masa depan cemerlang dengan prestasi bergengsi. Jangan tinggalkan pesan pada buruh kasar karena debu jalanan adalah teman beribu alasan untuk mereka segera melupakan" katanya.

Tari pergi setelah pertemuan masa  liburan semester tiga kami tanpa kabar.

Pulau Dewata,15 Februari 2018

Dear  Ririn,

Setelah melangkah cukup jauh ternyata ada yang lebih penting dari komitmen masa lalu dalam sebuah tugas sahabatku.

Aku malu telah ingkari janji padamu yang selalu menagih. Maaf...

Bali memperkenalkan sesuatu yang baru padaku, bahwa gelar adalah bagian terkecil dalam hidup jika disetarakan dengan pengalaman dan uang.

Aku tau kamu sedikit bingung, Ya.

Kerasnya kehidupan telah merubah jalanku. Aku tak menyesal karenanya. Masih saja aku bersyukur atas waktu dan keadaan yang selalu mengujiku. Bukan ingin melupakan lalu mengingkari, hanya saja aku sedikit lebih mengerti dari pada janji konyol kekanakan kita dulu. 

Rin, aku telah meninggalkan kampus sejak krisis Bali yang disebabkan erupsi Gunung Agung itu. Aku kewalahan membagi waktu kerja dan kuliahku. 

Aku kesulitan perolehi pendapatan, hingga takdir pertemukan aku dengan pemuda negeri seberang yang berhati baik.

Maaf, aku tahu kamu kecewa. Marah. Aku mencintainya.

Untuk pertama kali, aku menyukai seorang lelaki dan sejenak mengabaikanmu dan janji kita. Dia tak mencintaiku seperti kamu. Telah kusadari itu. Dia hanya kasihan padaku.

Aku akan pergi bersamanya, Minggu ini. Mencari pengalaman baru dengan bayaran yang secukupnya.
Aku tak ragu karena dia sama sepertimu. Hanya saja aku lebih memilih pergi bersamanya ketimbang tetap tinggal bersamamu.

Tetaplah jadi kamu, sang pemburu prestasi. Aku akan kembali untuk mengulangi cerita yang sengaja kulewatkan. Kembali dengan diri yang berbeda namun akan selalu menjadikanmu sahabat pilihan terbaik.

Thingking of you

Tari

Kiranya sepucuk surat yang kuterima dari petugas pos itu, berhasil menguras banyak air mata. Satu tahun sudah beribu pertanyaanku tentang sikap asingnya tahun lalu kini telah terjawab. Maaf jika selama ini janji telah memikatmu.

Pergilah Tar,  just follow your heart and destiny.

Oleh: Vylan Dahul