Cinta dan Belis
Cari Berita

Cinta dan Belis

MARJIN NEWS
23 February 2018

Aku tidak bermaksud untuk meninggalkannya. Natasia gadis polos bermata coklat dan pipi lesung itu masih bergulat dengan tangisnya (Foto: Ilustrasi). 
“Kami sudah berusaha. Tapi mereka tetap pada pendirianya”. Bisik juru bicara (tongka) kepada Budi.

“Saya juga berpikir demikian. Mereka konsisten”. Jawab Budi.

Malam terlalu sunyi. Sepih. Bulan dan bintang masih beristirahat. Aku dan Natasia, nama gadis itu berselimut dalam sepih. Meneguk kesunyian malam. Mencari penawar racun rindu. Berat. Itu kataku. Hati ini masih terlalu mudah untuk menuntutnya. Entah apa yang terjadi, kami masih membayangkan perpisahan. Kali ini aku percaya pada takdir. Keadaanku memaksaku untuk meninggalkanya. Tapi ini cara yang harus ditempuh. Satu-satunya, Ia.

Hubungan ini sudah kami jalankan hampir lima tahun tujuh bulan depan. Perkenalan  yang pada mulanya hanya biasa saja akan tetapi pada hari ini aku betul bertanggung jawab. Keputusanku untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius mengharuskan berada pada situasi ini.

Aku tidak bermaksud untuk meninggalkannya. Natasia gadis polos bermata coklat dan pipi lesung itu masih bergulat dengan tangisnya.

“Mengapa ini bisa terjadi, Tuhan? Haruskan aku….”. Nata tidak melanjutkan pembicaraanya.

“Kamu tidak tahu apa-apa”?. Ini hanya sebuah keegoisan”, lanjut Budi.

“Apakah engkau akan meninggalkan aku, jika memang orang tuaku konsisten”.

“Aku masih memikirkannya. Entah..! Sekarang aku masih mecintaimu” jawab Budi.

Peristiwa ini memang menyakitkan. Aku tidak memaksa Nata bersamaku jika dia menyayangi orang tuanya. Itu sudah pasti. Aku berusaha melupakannya dengan cara meninggalkanya. Rindu tidak seperti fajar yang muncul sekali dalam sehari.

Tapi rinduku seperti angin yang menghembuskan kemesraan. Rindu lebih miskin dari pada  cinta kata dosen filsafat di sekolahku. Tapi apapun kata mereka tentang rindu yang pasti aku merindukannya.

“Bud, jangan pernah menyerah”. Bisik Emak. “Aku dan ayahmu sudah berusaha”. Lanjut emak.

“Jujur Ma, aku tidak ingin berpisah dengan Nata” jawabku. “Tapi orang tuanya tidak pernah mengerti”

“Emak tau, tapi…?” Emak menyeka air matanya. “Saya mengerti emak, kita tidak mungkin memenuhi permintaan mereka”.

“Emak dan ayahmu berencana menjual sebagian tanah milik kita” kata Emak.

“Jangan emak”. Bantahku cepat. “jika memang orang tuanya tetap konsisten, aku akan bersikap. Aku akan meninggalkan Nata”. Lanjutku.

Ini memang berat. Angka yang diberikan oleh orang tua natasia sebagai belis sangat diluar kemampuanku. Seratus lima puluh juta masih menghantuiku. Dari mana aku mendapatkannya. Penghasilan ayah tidak cukup sebagai buruh pelabuhan. Sebagian biaya sekolah si bungsu dan sisanya mencukupi kebutuhan kami setiap hari.

Hasil ojekku setiap hari cukup untuk bayar listrik dan air. Berat. Kenekadtaanku menikahi Nata gadis serjana ekonomi darah manggarai itu berujung masalah. Materi memang segalanya. Tapi materi tidak bisa membahagiakan selamanya. Ah…itu tidak mungkin. Hanya berbeda perspektif. Itu pasti. Orang tua Nata mati-matian dengan angka seratus lima puluh juta. Niat untuk membahagiakan Nata dengan ketulusanku ternyata hanya ilusi bagi keluarganya.

“Jika anda ingin menikahi anak saya, anda harus memenuhi permintaan kami” kata ayah  Nata.

“Aku tidak mengijinkan anakku menikah dengan tukang ojek seperti anda, dengan apa anda membahagiakan anak saya, sementara  penghasilan anda tidak memungkinkan” katanya lagi.

Aku sangat malu. Dia mengataiku di depan semua keluarga Nata. Hatiku seperti tertusuk  duri ikan pari yang beracum. Aku sudah harus meninggalkan Nata.  Perjuanganku sudak cukup. Aku sudah membuktikan bahwa aku mencintainya.

Dengan apa  lagi aku mencintainya, jika angka belis tersebut menjadi syarat untuk menikahinya. Ah…mungkin bukan dia yang dikirim Tuhan untuk menerimaku apa adanya.

Aku mengirim pesan singkat kepada Nata:

 “Nata tersayang, dulu aku mengagumi keindahan bulan dan keelokan mentari di bukit itu. kita berselimutkan senja beralaskan awan mengganti bantal. Sedikitpun benci dan keji di dalam hati ini, pasti engkau tau hanya ada ketulusan.

Masihkah engkau ingat ketika engkau hampir gagal kulia dan aku menjual motor membantu  melunasi uang registmu. Aku tidak memaksa engkau untuk mengingatnya, tapi itu semua adalah caraku untuk mecintaimu agar masa depan kita lebih baik dari sekarang. Nata, aku tidak menginkan perpisahan di antara kita. tapi engkau dan aku harus menerima kenyataan ini. aku harus pergi dari kehidupanmu. Maafkan aku natasya.”

Sebulan kemudian aku mendengar berita natasia  masuk rumah sakit karna serangan  jantung.

Oleh: Waldus Budiman
Mahasiswa STFK Ledalero,
Tinggal di Rumah Filsafat Scalabrinian Maumere, Flores, NTT