Cinta Butuh Ruang dan Waktu
Cari Berita

Cinta Butuh Ruang dan Waktu

14 February 2018

Bingung dan aku malu. Menyadari bahwa rasa ini tak pernah bohong untuk mencintai mu. Tapi aku bingung harus berkata apa? Menyadari bahwa aku miskin kata (Gambar: Ilustrasi)
Menjadi cerita indah di sepanjang hidup dan hariku. Ketika engkau yang selalu bertebaran disisiku dan terus bergentayang dalam mimpi dan hariku. Aku teringat akan suasana hati saat aku menjumpai diri mu di sebuah pelataran gedung pencakar langit itu. Aku bingung ketika menjumpai.

Bingung dan aku malu. Menyadari bahwa rasa ini tak pernah bohong untuk mencintai mu. Tapi aku bingung harus berkata apa? Menyadari bahwa aku miskin kata. Tatapanmu yang kian terus berbinar. Bagai mentari yang kian terus menyingsing. Menunggu mulut berbuai kata mesra dari ku.

Maafkan aku sayang. Saya menyadari diriku sendiri. sebagai manusia bisu jika harus berhadapan siapa saja. Apalagi engkau yang begitu selalu ku kagumi sebagai wanita cantik yang pernah ku kenali.

Aku mencintai mu! Rasaku hanya untukmu seorang yang selalu ku dambakan. Kecintaan ku kepadamu, tak terbatas dalam pujian. Aku bingung harus dengan cara apa ku menyampaikannya. Hari dan waktuku berlalu begitu saja. Tanpa ada tindakan yang ku berikan untuk cintamu. Rasa resah ku semakin menggebu. Menginginkan rasa ini dilepaskan sebagai pelempiasan cintaku padamu.

Senja di Bukit Kemiri menjadi saksi kala itu. Senyum dan tawaku kala itu ternyata tak sia-sia. Rasa ku menjadi saksi bahwa aku pernah menginginkanmu. Ruang hati tetap menjadi saksi dan tempat di mana aku mulai menabur rasa. Metode pendekatanku berhasil diterapkan. Senyum dan rinduku adalah salah satunya. Tetapi deritaku adalah luka dan gelisahku yang tak pernah terungkapkan. Kala aku berani untuk memulai menanam rasa untuk mencintai mu.

“Aku mencintai mu”, kataku.

Itulah diksi yang kesekian kalinya yang ingin kuucapkan. Tapi ini merupakan yang pertama kali ku ucapkan. Meski telah lama ku lukiskan ketiga kata ini menjadi kunci dan tanda bahwa aku menginginkanmu. Raut wajahnya terlihat bingung. Kala aku melantunkan ketiga diksi itu. Hal ini seakan menjadi jawaban atas apa yang telah ku ucapkan. Hatiku seakan tak percaya bahwa dia memiliki rasa untukku.

Sekian lama ku menanti untuk menuai jawaban yang dia berikan. Kebingungan dan rasa percaya diri ku untuk mencintainya seakan hilang pergi. Kebingungan ku selalu menghampiri. Kala raut wajahnya selalu memamparkan muka bingung pada ku.

“Kenapa Julia?”, kataku.

"Aku membutuhkan jawaban yang jelas dan pasti darimu tentang apa yang telah kulantunkan", lanjutku.

Dengan nada yang spontan dia merespon, “aku kebingungan untuk menjawabi semua itu. Kedengarannya seakan samar-samar terhadap apa yang telah kau bisikan”.

Maafkan aku Julia, aku telah membuatmu bingung dan ragu untuk pertama kali dan semoga ini juga yang terakhir kalinnya. Semoga cinta ku ini kedepannya tak akan diragukan lagi olehmu.

Dengan nada yang begitu lembut dia merespon, "maksudnya?"
“Aku mencintaimu Julia”, kataku.

Sekian lama telah ku rajut rasa ini. Menginginkan. Agar aku dan kau menjadi “kita”menjalinkan kebersamaan hidup untuk bersama merajut kebahagiaan.

Dengan senyuman yang lebar, dia menjawab, "ah, kamu bercanda!"

Dengan perlahan saya merespon. julia, cinta itu bukan candaan. Meski dalam alurnya nanti, ada canda dan tawa, suka dan duka yang kita lalui itu adalah bagian dari cinta yang perlu kita bangun dan atasi dalam melewati setiap persoalan. Tapi cinta yang sesungguhnya adalah membangun keseriusan yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang  yang perlu di rajut untuk kebahagian yang di impikan, tegas ku.

“Terimaksih sayang”, katanya.

"Kau telah memberi aku pengertian tentang artian cinta yang sesungguhnya. Semoga pengertian dan ketegasanmu dalam menjelaskannya kepadaku, engkau sendiri pun memahaminya. Agar kebahagian yang ingin dirajut, kelak akan terwujut untuk kehidupan kita bersama. Dan maafkan aku. Karena aku tak memahami maksudmu. Jujur. Sejak kala itu sebenarnya aku telah menanamkan rasa untuk mu. Tapi rasa ini terus di baluti oleh rasa malu untuk mengungkapkanya", lanjutnya.

Aku pun merasa terharu, dengan respon yang dilantunkan olehnya. Hatiku pun melonjak kegirangan, merasakan kegembiraan bersama indahnya sunset di bukit itu. Ku tatapi matanya yang berbinar-binar itu. Lalu ku pegang  eratkan tangannya. Dan  berkata, “Sayang, terimaksih untuk kesempatan pertama kalinya ini, kau telah memberi ku ruang dan waktu untuk mencintai mu. Dan maafkan aku juga".

"Sebenarnya, sejak kala itu juga aku sudah memiliki rasa untuk mu. Tapi aku selalu dihantui oleh rasa tak percaya diri atas rasa ini. Aku telah lama berlarut dalam kebisuanku untuk menginginkanmu. Terimaksih, kau telah memberiku secercah harapan, untuk mencoba merajut dan membangun kebahagian yang kita inginkan".

"Terimakasih kau telah mempercayakan ku. Bukit ini telah menjadi ruang dan saksi atas cinta pemula kita, dan senja ini menjadi waktu sekaligus saksi atas kapan aku mengucapkannya kata cinta itu”.

Beranjak dari bukit dan senja ini kita telah memulai kisah baru dengan nada cinta yang ingin selalu di digaungkan setiap waktu.

Oleh: Gordi