$type=carousel$cols=3

Cerpen: Kepergian Sang Ayah

Sambil berkata begitu ku lihat ibuku merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan uang dan menyerahkan pada perawat itu. (Foto: Dok.Pribad...

Sambil berkata begitu ku lihat ibuku merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan uang dan menyerahkan pada perawat itu. (Foto: Dok.Pribadi)
Namaku Maria, saat ini aku berusia 20 tahun. Aku sangat mencintai keluargaku, bagiku keluarga adalah jiwaku, hatiku dan istanaku. Di balik kesusahan hidup keluargaku memang ada kemudahan, nikmat dan kesulitan datang dan pergi silih berganti, sudah biasa dalam kehidupan keluargaku.

Aku terlahir dalam keluarga yang sangat sederhana. Kedua orangtuaku bekerja sebagai petani, setiap hari mereka sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Sebagai anak seorang petani hidupku sangat sederhana berbeda dengan teman sebaya, aku tidak sering mendapat uang saku sejak SD sampai dengan lulus SMA. Sebelum ke Sekolah aku harus makan kenyang dari rumah dan sepulang dari sekolah makan siang sudah di sediakan oleh ibuku di rumah.

Kerasnya hidup dan beban berat yang harus di tanggung oleh keluargaku, memaksa kedua orang tuaku untuk rajin bekerja tanpa mengenal lelah demi menyambung hidup ini, pada suatu hari ibu pergi ke Sekolah adikku untuk menerima raport kenaikan kelas.

Di rumah hanya ada ayah dan aku, ketika aku sedang menyapu lantai ku dengar suara ayah memanggil namaku.

"Mar...Mar..!! tolong ayah, kepalaku pusing! Aku langsung meninggalkan pekerjaanku dan berlari menuju kamarnya, sesampai di kamar aku segera menghampirinya, kulihat tenaganya hampir habis.

"ayah kenapa???.." tanyaku dengan penuh kwatir.

"aku akan ambil minyak untuk ayah yah! Tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulut ayah, aku berlari menuju kamarku untuk mengambil minyak kayu putih untuk oles di kepala ayah. Tapi rasa pusing itu masih ada bahkan menjadi-jadi.

"Ayah....!!!" Teriakku dengan keras.

Aku menggerakan tubuhnya dan teriak di depan telinganya, tetapi ayah tidak bergerak sedikit pun, aku mencoba mendekati tubuh nya dan masih ada denyut jantung yang lemah dan ternyata ayah sudah pingsan dan harus segera di tolongi “ Ya Tuhan, mengapa bisa terjadi seperti ini? “ tanyaku dalam hati.

Karena ibuku belum pulang dari sekolah adikku, aku pergi dari kamar ayah dan berteriak pada tetangga kiri dan kanan rumahku, jeritanku mengundang prthatian mereka, sehingga pada akhirnya mereka datang ke rumahku.

"Ada apa?” Tanya salah seorang tetanggaku.

"ayahku sakit”jawabku sambil meneteskan air mata.

"Sakit apa?” Tanya nya lagi.

"aku tidak tahu, tiba-tiba ayah pingsan” jawabku.

"Ayo!Kita tolong dia, kita bawa dia ke rumah sakit” kata mereka kepada satu sama lain.

Mereka bergotong royong menolong ayahku untuk membawa ke rumah sakit yang letaknya cukup jauh dari rumahku.

Sesampai di rumah sakit beberapa perawat langsung menyambut ayahku menggunakan tempat tidur beroda. Alat-alat kesehatan di sediakan untuknya, kemudian infus di pasang pada tangan kirinya.

Aku melihat semua itu dengan menangis pelan, seorang ibu tetanggaku mencoba menghibur dan menguatkanku dengan memegang tangan yang kuat dan mengajakku berjalan sebab tubuhku lemah karena kesedihan yang ku alami.

Tiba-tiba Ibu dan adikku datang, kulihat wajahnya sangat panic dan penuh kecemasan karena mendengar tentang ayah.

"Mar...apa yang terjadi dengan ayahmu?” Tanya ibuku.

"Bu... tadi ku dengar dia memanggilku dan dia berkata bahwa kepalanya pusing, dan akhirnya pingsan”. Jawabku sambil menangis. Tiba-tiba seorang perawat datang dan bertanya.

"Siapa keluarganya bapak stefanus?, silahkan ke ruangan administrasi”.

"aku isterinya” jawab ibuku. Ibu dan aku mengikuti perawat tersebut ke ruang administrasi.

"Apakah ibu yang akan bertanggung jawab akan biaya pasien tersebut?”.

“Iya... !!! , aku yang bertanggung jawab “ jawab ibuku. Perawat itu memberitahu tentang biaya perwatan ayah yang berjumlah Rp 500.000,00 untuk biaya pengobatan.

“Bu...mengapa biaya pengobatannya mahal sekali, bukankah rumah sakit sekarang ini sudah gratis?”. Tanyaku pada ibu.

"Sudahlah sayang seberapapun pahitnya, nanti ibu mencari biayanya yang terpenting ayahmu bisa sembuh” jawab ibuku.

Sambil berkata begitu ku lihat ibuku merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan uang dan menyerahkan pada perawat itu.

Sejujurnya aku sangat bangga pada ibuku, perjuangannya dalam
membangun keluarga kami begitu besar. Dia jarang mengeluh ketika kami mengalami kekurangan, bagi ku dia adalah seorang wanita yang sangat kuat dalam mempertahankan keluarga kami, aku sangat sayang pada ibuku apapun perkataannya selalu ku turuti apalagi ajakan berbuat baik tidak ada alas an bagiku untuk menolaknya.

Malam itu ibu dan aku menginap di rumah sakit, aku tidak tahan berada di tempat itu aku terus memandang di sekitar ruangan sunyi, sepi, dan hanya ada pasien-pasien yang tertidur pulas. Tiba- tiba tangan ayah bergerak-gerak dan matanya mulai membuka.

"Dimanakah aku? Tanya
ayahku.

"Ayah ada di rumah sakit” jawabku singkat.

"Apa yang terjadi dengan diriku? Tanyanya lagi.

"Ayah pingsan selama seharian”. jawabku singkat.

Menurut hasil pemeriksaan dokter, ayah terserang penyakit tumor. Kami semua sangat sedih mendengar hal tersebut, ayahku harus di rawat 5 hari di rumah sakit. Kami bergantian menjaganya selama 5 hari dan ketika keadaan ayah lebih membaik, dia di bawa pulang dan akan istirahat di rumah.

Sebulan kemudian, penyakit ayah kambuh lagi. Pada waktu itu aku berada di tempat sekolahku, dan pada suatu hari tepatnya hari rabu pukul 03:00 aku terbangun dari tidurku dan tiba-tiba ada perasaan rindu akan ayah dalam hatiku lalu aku segera menelpon ke rumah orangtuaku untuk menanyakan keadaan ayah dan ibuku sendiri yang mengangkat telponku.

Ibu berkata bahwa ayah baik-baik saja dan kami tidak bisa mengganggu nya karena dia masih tidur. Tapi anehnya perasaan ku semakin tidak tenang, aku merasa ada kesedihan, dan ingin menangis tapi tidak jelas karena masalah apa.

Sepulang dari sekolah sekitar pukul 14:00 aku melihat hp ku dan ku jumpai 15 panggilan tak terjawab dari nomor ibuku, dan 3 pesan dari ibu sbb:

1.”Selamat siang Enu (panggilan untuk anak perempuan) mulai tadi pagi ayahmu tidak bisa makan dan berbicara, kamu harus berdoa untuk ayahmu” selesai membaca sms yang pertama ini, hatiku menjadi sedih.

2. "Mar ayah mencarimu, dia memanggil terus namamu. Kamu harus minta izin pada gurumu untuk datang melihat ayahmu”.

3. "Mar ibu mencoba menghubungimu sebanyak 15 kali tapi tak ada jawaban darimu. Saat ini ayahmu kini tiada, dia telah kembali kepada sang pencipta".

Aku sangat kaget membaca sms tersebut, aku tidak percaya dan terus mencoba baca ulang karena aku berpikir mungkin salah baca. Tapi ternyata masih sama. Seluruh badanku menjadi lemas dan air mata bercucuran membasahi pipiku.

“Ayah.., oh ayah mengapa begitu cepat kau pergi tinggalkan kami semua?”. Jeritan tangisku memecah keheningan rumah tempat tinggalku bersama teman-teman.

Beberapa jam kemudian ku lihat pamanku datang menjemputku, aku mempersiapkan diri dan pulang bersamanya. Sesampai di rumah ku, ku lihat jenazah ayah terbaringkan di meja dekat pintu masuk rumah.

Aku di jemput oleh suara tangisan yang meriah, semua keluarga dan warga desaku berkumpul di rumah meratapi kepergian ayah. Dua hari kemudian jenazah ayah di makamkan, warga desa bergotong royong mengantar peti jenazah ayah menuju tempat perkuburan, bagaikan kelompok semut yang bekerja sama mengantar makanan.

Semenjak kepergian ayah tercinta, aku tidak semangat lagi menjalani hidup. Di saat-saat sendiri ada dilema besar yang terus ada di hatiku. Seakan-akan kepergian ayah menjadi malapetaka bagi diriku. Mulai saat itu aku kembali tinggal di rumahku, Aku lebih suka menyendiri dalam kamarku dan jarang bergabung bersama dengan teman-teman di sekolah.

Ibuku selalu bingung harus dengan cara apa lagi menghiburku. Setiap hari dia berusaha meluangkan waktu untuk bisa berbagi cerita yang dapat menghibur diriku, namun sayang sekali Aku hanya berdiam dan terpaku bagaikan bangkai mawar yang hampir mati.

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan perjuangan ibuku untuk membangkitan kembali semangat hdupku berhasil aku mulai membuka mulut dan berbicara serta mengungkapkan segala perasaanku. Tangisan dan jeritan karena kepedihan yang ku alami memenuhi seluruh isi ruangan kamarku.

“Ma,,,Aku marah pada Tuhan, mengapa Tuhan tega memanggil ayah begitu cepat?, Aku sulit menerima kenyataaan pahit ini”. Kata ku dengan nada tinggi.

“Sudahlah sayang..Semua ini adalah rencana Tuhan yang paling indah dalam hidup kita”. Jawab Ibuku.

"Tapi ma..” protesku.

"sayang,,,, kematian adalah awal kehidupan baru, kita semua akan mati sama seperti ayahmu. Tenanglah ayah mendahului kita untuk menyiapkan tempat yang paling bagus untuk kita semua nantinya.”Hibur ibuku”.

"Ma,,, apakah kita punya kesempatan untuk bisa bertemu lagi di dunia akirat nanti?” tanyaku ingin tahu.

"oh yang pastilah sayang, kamu harus yakin kalau ayah juga akan menjadi orang setia saat menjemput kita menuju daerah
surga nantinya”jawab ibuku.

Aku menjadi begitu lega karena bisa melepaskaan segala kepedihan yang selama ini menguasai hati dan pikiranku.

Keesokan harinya, aku dan ibu hendak ke Gereja.

"Mar....bangunlah! Ayo ke Gereja.

"Ibu membangunkanku sekitar jam 05.45”

"ok Ma, aku segera bersiap-siap” jawabku dengan semangat.

Setelah selesai berpakayan kami langsung ke gereja yang letaknya tidak jauh dari rumahku, menempuh perjalanan kaki kurang lebih 10 menit. Sesampai di gereja aku langsung berlutut didepan patung pieta dan mencium kaki Yesus, aku tak bisa menahan air mataku yang berlinang membasahi pipiku.

Sesaat kemudian aku merasakan kehadirat Tuhan, ada kekuatan mendahsyat yang menjangkaui seluruh ruangan itu. Tiba-tiba hatiku bergetar merasakan hadirat Tuhan yang Kudus. Akupun berdoa dan menyerahkan semua kepedihan yang kualami selama ini pada Yesus dan akupun mulai mengikhlaskan kepergian ayah tercinta, Aku menjadi semangat.

Seperti pagi ini di sekolah, Maria yang selama ini hanya diam dan murung kini benar-benar berubah 180 derajat.

Seperti anak yang hilang dalam injil Lukas, Aku tidak berharap mendapat sambutan meriah dari teman-teman sekolahku, apalagi acara pemotongan kambing tambun dan penganugerahan cincin materai emas dan jubah terbaik, aku hanya berharap bisa diterima kembali oleh guru-guru dan teman-temanku di sekolah.

Oleh: Menilda Ahus

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,225,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,4,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,43,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,240,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,54,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,85,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,236,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,855,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,24,Prosa,1,PSK,1,Puisi,62,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,8,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Cerpen: Kepergian Sang Ayah
Cerpen: Kepergian Sang Ayah
https://3.bp.blogspot.com/-8IAiikCdj5E/WosFJw4C9QI/AAAAAAAABxA/_fK6no5BEg4QfIUg5U_3-xx13ja3ukmCQCLcBGAs/s320/IMG-20180220-WA0020.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-8IAiikCdj5E/WosFJw4C9QI/AAAAAAAABxA/_fK6no5BEg4QfIUg5U_3-xx13ja3ukmCQCLcBGAs/s72-c/IMG-20180220-WA0020.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/cerpen-kepergian-sang-ayah.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/cerpen-kepergian-sang-ayah.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy