Cerpen: All Robo Nhonica

Gerincing lonceng mendarat di sekitar cerobong telingaku dengan arah jarum jam menuju ke ufuk barat angka 12.00. Bergegas ku mengambil tas...

Gerincing lonceng mendarat di sekitar cerobong telingaku dengan arah jarum jam menuju ke ufuk barat angka 12.00. Bergegas ku mengambil tas, lalu berjalan keluar istana.  (Foto: Ilustrasi)
Tepat tanggal 12 bulan itu, senja di bulan Juni mengisahkan aku dengan kisah yang penuh makna dalam hidup. Kutersimpan dalam keheningan mentari pagi, tatkala tidak mengerti artinya senja hari, dia telah tiba di halaman sekolah tepat angka 11.30. Dengan penuh percaya diri aku keluar dari kediamanku dan arah sniperku membidik ke ufuk timur.

Keraguan dan keresahan mulai bergulat dengan sikap yang ada. Melangkah rasa berat menuju arah pintu hingga aku tergantung pada sebuah rasa bimbang dengan perasaanku. Penuh dengan kebimbangan, aku coba tuk melangkah ke belakang dengan nafas yang bisa sedikit terengah.

Aku sempat bingung dan tidak mengerti dengan kisah hidupku ini, laksana setumpuk asa yang tak dapat dibaca.

"Hm…aku menulis surat saja”.

Jemariku yang lentik memeluk erat tubuh juru pena yang bergelora di atas kertas putih, hingga melahirkan dua buah kata yang berkolaborasi antara “All and.....” dan rasa tak percaya diri menggeluti relung hatiku, tatkala mendiami seribu rindu.

Celah meja menjadi saksi sekaligus istana yang mendiami mahkota kecilku itu, dengan rangkaian kata yang terukir dari enam huruf.

Gerincing lonceng mendarat di sekitar cerobong telingaku dengan arah jarum jam menuju ke ufuk barat angka 12.00. Bergegas ku mengambil tas, lalu berjalan keluar istana.

“Bagaimana mungkin ini akan terjadi? Dia ‘kan belum mengenalku.”

"Stop! Aku harus percaya diri, pasti dia telah membaca dan membalasnya.” Aku membatin sekedar tuk memacu semangat kecil.

Seketika aku membentangkan tubuh di atas ranjang, hanya diam menatap langit rumah yang bercat biru mudah. Tapi tak sedikitpun situasi itu memberiku sedikit sketsa, biar aku mengerti tentang dia. Bolak-balik kiri-kanan tak jelas laksana cacing kepanasan.

Dia: sekembang mawar yang pertama kujumpa dalam kisah hidupku. Aromanya tak boleh beranjak dariku. Aku harus menyematnya di taman hatiku. Dialah orang pertama yang membuatku terpikat rindu.
Tetesan embun membias di pucuk daun menyadarkanku. Mataku sekejap berkedip. Aduh, ternyata aku sudah baper.

Kring…kring, alarmku berdering ketika ia merangkak ke angka 05.30. Dengan mata yang masih berat dan mengantuk, kuterbangun dari alam mimpi.

Kubergegas dan berjalan masuk kamar mandi untuk memudarkan rasa yang bergelut dalam relung hati dengan dinginnya pagi itu. Dinginnya pagi tak menghilangkan semangatku untuk menyiapkan perlengkapan sekolah.

Ku membidik ke ufuk timur dan dia sudah menuju angka 06.30. Suara mesin kendaraan telah menunggu di persimpangan jalan. Secepatnya aku bergegas mendahului teman sekolahku.

Menginjak gerbang sekolah membuat aku tak ada kepercayaan dalam diriku ketika aku harus masuk kelas. Segalanya penuh keraguan dan kecemasan menuju suatu keadaan yang begitu sulit bagiku.

Duduk di kursi dengan mengarahkan sniperku pada istana yang menitipkan mahkota kecilku. Dengan penuh keyakinan dan penuh perasaan kuambil dan melihatnya kembali. Pikiranku mulai menyulami seribu pertanyaan.

Perlahan membuka, memantulkan sejuta rasa dalam relung hatiku. Mahkota itu menjadi lebih indah ketika diselipkan namanya, sehingga menjadi satu bentuk dari dua raga yang berbeda. Mahkota itu menyimpan sejuta kisah pada senja bulan juni yang tak pernah kualami sebelumnya.

Terhitung lima meter lagi meninggalkan almamaterku, cerobong telingaku kembali menjerat suara yang mengagetkan.

"Hei, berhenti”. Aku menoleh dengan sikap siap untuk menjawab.

"Eh, ternyata dia. Kenapa harus dia yang muncul bukan orang lain?” Tanyaku dalam hati. Aku tidak ingin melihatnya karena aku benci dan tidak suka padanya.

“Adik….. masuklah, lonceng sudah bunyi, nanti telat.” Ia menyuruhnya masuk kelas.

Itu alasan yang tepat agar aku pun tidak melihatnya
Dengan dibaluti rasa senang, aku tak mau pulang cepat. Aku pura-pura berjalan di depan teras kelasku, dengan ekor mata mengintip kembali istanaku dari jauh. Mencari tahu siapa sesungguhnya nama yang ada dibalik mahkota itu.

Arah sniperku mengarah pada sesosok gadis belia yang kujumpa di halaman sekolah sekitar lima meter dari gerbang 40 menit yang lalu.

"Ah, tidak mungkin dia. Dia, adik angkatan SD-ku dan kami tmggal sekampung. Ini tidak boleh terjadi. Aku benci dirinya.” Jangan dia, aku semakin bingung dan panik dengan kejadian ini.

"Oh, iya. Aku tahu… Aku tanya sahabat dekatnya aja. Benar, Nini adalah sahabat dan  sekaligus teman duduknya. Dulu aku pernah berteman dengan dia".

Setelah Nini menceritakan yang sesungguhnya, tiba-tiba perasaanku berubah. Seperti ada getaran di serambi jantung. Aku kagum manjanya.

"Iya, All. Nama yang ada di balik suratmu itu adalah dirinya.” Tegasnya, seakan tidak menganggapku sebagai kakak kelasnya lagi.

Aku tersipu, seperti putri malu, dan rasa benci berubah jadi rasa cinta. Ada aroma asmara antara daun dan kelopak mata.

Getaram jiwa kian terguncang. Ada kagun dan tanya yang membaur dalam kebingungan. Apakah arti semua ini? Daun dengan tubuhnya yang sedikit basah tertawa kecil di kejauhan tatapan.

Sore itu Nini memberikan nomor hp-nya.

"Kalau dia tanya, katakan saja kalau aku yang memberinya untukmu.” Aku terdiam dalam sunyi.

"Aku teman kelasmu yang duduk persis di belakang bangkumu”.

Tidak. Itu salah. Itu dosa: batinku. ‘kan kukatakan sejujurnya. Ku yakin, dia akan terima.

Hari dan malam kian berlalu. Mengajaknya bertemu merasa tidak percaya, karena waktu yang begitu cepat dan singkat. Rumah sahabatnya menjadi pelabuhan dua hati saling memagut rasa yang telah tersimpan lama. Apa yang ingin kau sampaikan? Pertanyaan yang cukup serius.

"Tidak ada,” dengan tegas aku menjawabnya.

"Sudahlah, ceritakan saja apa yang ingin kau ceritakan?" Perlahan dia menanyaiku.

“Sebenarnya aku yang menulis surat itu dan menyimpanya di celah meja persis di tempat duduk kita, dan aku juga merasakan kalau aku dibaluti rasa cinta dari seorang gadis yang ada di balik surat itu. Singkatnya aku menyukainya dan kuingin aku dan dia mengayuh perahu yang sama. Aku terbuai dan ingin mengecup kembang di bibirnya. Dia telah mengubah perasaanku.” Ceritaku singkat.

Dia hanya mengangguk seakan mengerti apa yang kualami. Berdua bersamanya dan bertiga dengan senyum menjadi kisah yang menjadi cerita di masa depan. Langit mulai mendung. Sang penguasa jagat akan mendarat di pelabuhan alamnya yang luas. Badan dan relung hatiku basah kuyup karena renai hujan. Paras wajahku remas meremang tatkala selembar kertas yang jatuh dalam genangan air.

Memang begitulah kalau kita harus menyelam dalam lautan yang luas. Kita harus lebih jauh dan lebih dalam untuk mendapatkan sebiji karang yang meski tak sempurna dan selekasnya pudar.

Tanggal 12 bulan yang sama, persis seperti enam tahun silam, dengan secangkir kopi hangat di sudut teras rumah, kukenang dirinya  bahwa enam tahun sudah kami lalui bersama. Hari yang mulai mengisahkan kembali tentang senja di enam tahun silam, tatkala senja dari ufuk timur mendekap rindu menuju ufuk barat.

Mengingat kisah itu, ingin rasanya waktu berotasi berbalik muka, agar kumohon untuk tidak mengenalnya.
Nhonica, itulah nama yang sempat berteduh dalam hatiku yang penuh dengan sejuta kisah. Nhonica menjadi tempat curahan semua isi hati, bahkan tempat awal aku merajut kisah tentang senja, tentang tujuan panggilan hidupku yang misterius.

“Nhonica, mau jadi apakah kita sekarang dan kelak?”

“Sayang.. Tuhan mau jadikan kita seperti apa yang Dia mau.”

“Apakah Dia merestui?"

“Tak ada yang mustahil bagi semua orang yang percaya kepada-Nya"

Percakapan ini sungguh membuat isi dadaku menumbuhkan sekuntum tanda tanya akan dirinya. Sejuta kata hanya mampu mengental di bibir. Wajah pasi mulai nampak.

“Ssssst… ada apa denganmu? Katakan. Sepoi masih setia merenda alis pada matamu.” Suaranya yang halus dan lembut seakan ia tahu perasaanku saat itu.

Pikiranku kian cemas, takut kehilangan dirinya.

“Kring…kring…” handphone berdering.

Di barat, senja sudah di angka 04.30. Serentak aku pamit pulang, karena pukul 05.00 aku harus tiba di rumah, tempat perapian jiwa. Di sana aku dibentuk untuk menjadi putera-Nya.

“Sampai jumpa lagi di lain waktu. Aku harus pulang sekarang.” Kataku seadanya.

“Apakah ini yang kau lakukan dan kau berikan buatku selama enam tahun? Kau sudah berhasil membuatku jatuh air mata seperti anak kecil yang menangis karena ditinggal ibunya.” Demikian sepenggal kalimat yang tertulis dalam diary yang dikirimkan kepadaku.

Inikah namanya takdir? Ya, takdir untuk tidak hidup bersama. Dia itu bukan miliku, masih ada yang lebih pantas untuknya dan dia selalu setia menunggunya. Memilih untuk melangkah mundur dari yang kujalani sekarang, itu tidak mungkin. Ini sudah pilihan hidupku. Barangkali, kelak aku akan menemuinya kembali dalam wujud yang lain.
***
“Ema, hari ini aku minta izin untuk pulang ke rumah. Ada urusan penting yang harus  aku selesaikan dengan keluargaku”. Sekedar alasan agar aku bisa pulang dan menemui dirinya.

“Pulanglah, tapi ingat… Pukul 06.00 adik sudah kembali ke biara” kata Ema.

Dalam perjalanan, hatiku didesak oleh rasa cemas dan bimbang laksana gempa mengguncangi bumi. Segalanya buyar, ketika kudengar: dia sudah pergi.

"Tabir bait cinta terbelah.” Mataku tak lelah menatap teras rumah sembari membiarkan rintik jatuh luruh dari pelupuk, mengenang sebuah kehilangan.

Ia tidak ingin terus-menerus menunggumu, karena kapiluhan kian hari kian meremang menggerogoti hatinya.

"Dia lebih memilih pergi dan menemukan kekasih barunya di pondok, sebuah istana suci, bersebelahan rumah denganku.”
Perlu kau tahu  bahwa kau telah membuatnya tersiksa hanya demi sebuah penantian semu. Apa yang kau berikan, sungguh meninggalkan bilur piluh di kalbu nan suci.

"Ya, memang kau tidak pantas untuk mengayu sampan cinta dengannya, karena muaramu berbeda. Kau dan dia bukan satu dermaga. Panggilannya untuk menjadi penghuni istana keramat.” Cerita ibunya dengan singkat.

Perjalanan hidup memang panjang dan misterius: batinku. Oh Tuhan kenapa harus aku yang melakoni semua ini. Tak ada yang lainkah selain aku? Inikah namanya takdir? Jemariku gemetar ketika menerima uluran tangan dari seorang yang memberi selembar diary yang sedikit kusam.
Senja itu. Senja di bulan Juni.              

Senja yang membuat orang bahagia karena panoramanya. Enam tahun bukanlah waktu yang mudah kita rajut. Pertemuan tanggal 12 Juni telah membentuk sebuah kisah tentang senja di antara kita. Dan sekarang aku pergi bukan karena tak setia.

Aku pergi untuk cita-cita hidup yang masih miteri dan belum tahu sampai di mana ujungnya. Memori tentangmu takan kulupakan, karena kaulah benang merah hatiku. Aku hanya bisa titipkan dirimu pada-Nya, karena hanya Dia yang aku percaya.

Setialah dengan-Nya. Dan satu hal yang kupinta: jika suatu saat nanti kau sudah menggenggam apa yang pantas kau dapat, jangan jadikan dirimu seperti kembang api yang menerangi malam hanya sebantar saja.

Tapi jadilah seperti pelita yang dapat menerangi semua orang. Sampai ketemu lagi di lain waktu. Sebab hanya waktu yang menentukan semuanya.

Air mata kembali meniti dari dua kelopak mata dan membasahi bumi ketika mengenang kisah bersamanya. Di sudut teras rumah hanya terpampang kosong ketika aku meratapnya kembali.

Di manakah dia, Nhonica kekasihku? Paras wajah yang anggun, rambut yang lembut, dan manis senyumnya hanya dilukiskan pada selembar kertas foto.

Tuhan sekarang kini aku mengerti dengan rencana-Mu. Semua yang kupikirkan dan yang kuatirkan selama ini, kini sudah terungkap jelas.

"Dia memang pantas jadi milik-Mu dan Engkau juga pantas mendapatkannya. Jadilah dia seorang penggembala bagi domba-domba-Mu dan pewarta Sabda-Mu bagi semua orang.”

Kini lirikan kisah itu menjadi dasar dalam perjuangan hidupku agar aku lebih setia kepada-Nya, dan izinkan aku  menamainya 12 Juni bersama Nhonica.

Oleh: Budiman
Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,230,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,5,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,43,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,144,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,244,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,1,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,143,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,39,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,344,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,88,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,65,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,6,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Cerpen: All Robo Nhonica
Cerpen: All Robo Nhonica
https://4.bp.blogspot.com/-XRpkWc2bmbg/WosIKCfNfiI/AAAAAAAABxM/OHZrUKqBBl48riTWE817dU1c2VVeqxOjgCLcBGAs/s320/senja-bersama-59b6a159e2925a46a9219042.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-XRpkWc2bmbg/WosIKCfNfiI/AAAAAAAABxM/OHZrUKqBBl48riTWE817dU1c2VVeqxOjgCLcBGAs/s72-c/senja-bersama-59b6a159e2925a46a9219042.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/02/cerpen-all-robo-nhonica.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/02/cerpen-all-robo-nhonica.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy