Beranda Rindu, Kumpulan Puisi Helena A.W. Ole
Cari Berita

Beranda Rindu, Kumpulan Puisi Helena A.W. Ole

15 February 2018

“ I wanna be humble for you “ Pelita hati melindungi hidup yang naif. (Foto: Ilustrasi)

Kan kujadikan rindu mengepungmu tanpa ragu,
Keadaaan apapun aku tak pernah beda
Yang kulakukan adalah mencintaimu
Aku dan lelahku selalu tuli untuk sebuah kata perpisahan...

Mengikuti lara dalam diam  yang terus menyeruak
tanpa batas..

Meratapi mimpi yang pernah disulam bersama,
tentang luka yang tak pernah bisa lagi hilang
Mencintaimu tanpa syarat,adalah kata-kata yang terus bertengger

tanpa jenuh dalam beranda rindu
Kupikir ini adalah benci tapi ternyata rasa yang kian terpendam

Jangan datang untuk pergi,jangan berbahagia lau menyakiti

Kini aku sendiri berdiri bersama segumpalan duka

Dipenghujung waktu yang hampar hilang …

Waingapu,08 Februari 2018

WAKTU

Yang kutinggalkan adalah suara sunyi
Suara-suara yang tak pernah sampai pada kata
Hembusan nafas yang perih

Menebarkan harum cinta dengan lirih
Rumput-rumput liar menutupi batu-batu
Seolah-olah harapan dan luka selalu menyatu
Hingga bening berguguran mengubur pesona dewi malam

Secangkir doa beriringan dengan irama hujan
Pada jejak yang meriwayatkan usisa-usia menunggu

Memintal aksara tentang riwayat yang membaru

Aku ingin terukir disetiap waktu,ketika aku tak bisa lagi menemui waktu

Belum hilang semua yang berlalu
Lagi,kau bakar siang malam menjadi bara

Tapi maaf,aku sudah terbiasa
Hingga jejak bara dapat kukenal

Semoga kau dapat membersihkan jejak bara yang tersisa

Karena aku hanya melihat tanpa peduli..

Waingapu,24 september 2017

Nama itu Rindu

Ada binar kejora dibening bola matamu
Ketika rindu mengejek,detak jantung pun lemah

Ketika rindu merengek,gelisahku kerut
Bentang sayapku melemah

Deburku retak gelisah..
Kepak sayap yang lebar adalah wadah rindu yang tebar

“ I wanna be humble for you “

Pelita hati melindungi hidup yang naif
Kan kujadikan rindu mengepungmu tanpa ragu,
Seperti udara mengintaimu

Embun yang kutitip dilintas pelangi,
Haruskah ruah kini?

Membunuh mata hati,menjeda kasih sayang
Mengakui cinta hadir disanubari

Semalaman ini kumerindu
Ijinkan hatimu kuketuk.

Waingapu,31 Agustus 2017

Titik Panggilan Alam

Setiap ketukan nada,
Mengiringi tangisan sinden

Pelita itu mencium panggung aksimu
Walaupun dengan setitik minyak akan tetap terlihat

Oleh malaikat pencabut nyawa..
Menelan liurmu,disetiap lelap dalam pelukan kabutmu

Merasakan sentuhan rembulan,membaca teriakan waktu.

Berselimut,memakai suara serangga dan kunang-kunang

Dedaunan yang keringpun akan meyebarkan harum surga
Dan kau tahu akan kemana?

Waingapu, 23 November 2016

I Won’t Give Up

Aku dulu percaya,kita pernah membara
Diujung yang indah.

Ya. Sesuatu yang indah, menjual mimpi tentang sebuah keajaiban

Surga yang patah sedang pergi.
Jangan tidur!

Aku sedang menggenggam erat senyummu
Aku akan katakan dengan penuh semangat :

Dimasa depan kita akan bersama,
Kita bakal beriringan tangan dan beriringan hati

Sehingga sejuta tawa kita tak pernah tertutup
Oleh cahaya rembulan

Yang selalu menebarkan cahaya redup
Dan endingnya,kita menang dalam perang menatap rembulan.

Waingapu, 07 Agustus 2017

 Oleh: Helena A.W. Ole