Adam Djudje dan Niko Naput Berbohong dan Karang Cerita Palsu, Kata Mantan Camat Komodo
Cari Berita

Adam Djudje dan Niko Naput Berbohong dan Karang Cerita Palsu, Kata Mantan Camat Komodo

6 February 2018

Adam Djudje dalam proses penyerahan bertindak sebagai saksi di hadapan pemerintah yakni Frans Padju Leok Asisten I penganti bupati Gaspar Ehok. "Kalau sekarang Dudje bilang itu tanahnya, itu Bohong besar. Adam Djudje itu dia pembohong dan dokumennya itu palsu," tegas Anton. (Foto: Floresa.co)
Labuan Bajo, Marjinnews.com. Sengketa lahan seluas 30 hektar di Labuan Bajo ibu kota Manggarai Barat Flores Nusa Tenggara Timur memulai babak baru. Lempar keterangan dari beberapa oknum yang terlibat didalam sengketa itupun mencuat.

Anton Nusa Batan, yang merupakan camat Komodo sewaktu Mabar belum menjadi Kabupaten sendiri memberikan keterangan yang mengejutkan.

Dilansir dari Media Indonesia.com. Mantan Camat Komodo itu mengatakan bahwa Adam Djudje dan Niko Naput tidak berkepentingan di dalam masalah tanah yang kini sedang menjadi polemik. Serta mereka telah mengarang cerita soal lahan itu.

Status sejarah kepemilikan tanah seluas 30 hektar di Keranga Ujung Batu Gosok dalam wilayah hukum kelurahan labuanbajo kecamatan komodo kabupaten Manggarai Barat NTT, yang diklaim sepihak oleh Adam Djudje dan Niko Naput merupakan cerita yang dikarang sepihak.

Tanah tersebut syah milik pemerintah diserahkan oleh fungsionaris adat Ngorang pada tahun 1990 dan 1997. Proses penyerahan tanah 30 hektar itu dari fungsionaris adat di tahun 1990 saat itu kepada Anton Nusa Batan sebagai Camat Komodo.

Kemudian, dalam kunjungan bupati Manggarai, Gaspar Parang Ehok meminta ke fungsionaris adat tanah untuk bangun sekolah perikanan dan disanggupi oleh Dalu Ngorang Bapak Haji Isyahka (Kepala Fungsionaris adat).

"Waktu itu tidak sedang dalam berkepentingan dengan tanah itu. Tanah di Keranga ini benar-benar untuk bangun sekolah," terang Anton Nusa Batan saat diminta konfirmasi, hari ini.

Adam Djudje dalam proses penyerahan bertindak sebagai saksi di hadapan pemerintah yakni Frans Padju Leok Asisten I penganti bupati Gaspar Ehok. "Kalau sekarang Dudje bilang itu tanahnya, itu Bohong besar. Adam Djudje itu dia pembohong dan dokumennya itu palsu," tegas Anton.

Lanjut Anton, Niko Naput mengklaim tanah itu miliknya itu juga bohong. Di tahun 1992 kalau tidak salah, Niko datang mengaku sebagai orang suruhannya bupati Gaspar Ehok dan mengatakan tanah ini akan di bangun yayasan untuk sekolah. Namun, hingga kini tidak jelas.

"Dia Niko juga bohong. Tanah itu milik pemda," ucap Anton.

Kepala tata Pemerintahan kabupaten Mangarai barat Ambrosius Sukur di konfirmasi mengaku status tanah di keranga adalah milik pemerintah karena sudah di serahkan oleh fungsionaris adat Dalu Ngorang. "Dokumen semua lengkap. Dan pernah ada rapat bahas masalah tanah Keranga, yang disebabkan adanya surat protes dari Adam Djudje," katanya. (RN/MN/MI)