Wasiat, Puisi-Puisi Agust Gunadin

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Wasiat, Puisi-Puisi Agust Gunadin

MARJIN NEWS
24 January 2018

Engkau cahaya negeri yang kelak mengerdip-edipkan nalar ide tentang kepemudaan tlah menangkap pecahan langit bahkan sarang kemahaan menjinggakan langit biru bersikukuh membakar kritis sehingga ranum hasrat melukai negeri (Foto: Istimewa)
Taukah Aku Tentang Diri

Mencari jejak di hamparan kata
tentang keakuan yang sering hijrah ke ayat-ayat suci
yang sering mangkal di bait-bait sajak
atau yang berbalada ria dalam nyanyian-nyanyian kuno.
keakuan yang tak lagi mengenal diri
pada kini aku terkadang lelah

Dalam kitab tua renta yang katanya Mahatahu
Tentang aku. Keakuan memetakan kata
“Tuan, sekiranya diriku berkenan pada-Mu”!
memohon atau memelas. Kucari kata plong  lalu
mendarat tanya “siapa gerangan”?
Jawabnya: “tanyakan pada nilam atau ketilang. Mereka
yang mengenal apa dan siapa, sedang aku belum sempat mengurai
‘Aku itu siapa’ atau ‘siapa itu Aku’. Lantaran curiga, aku menyangka
Keakuanku belum kutemui
Aku terperangkap dalam kata, setengah tak percaya.
Akankah aku mengetahui siapakah aku?

San Camillo, 12.10.2017



Kerinduan Negeri

Selendir mata, memancar setiap celah
T’lah celaka dalam keadaan ada
Yang muncul kegelapan suaka, tersandera
Dalam kegopohan langkah, membatas
Hanya dalam relung kehampaan kritis

Indonesia punya banyak kisah pilu
Merangkak dalam identitas masih berkembang
Memiliki variasi tujuan, namun menutup kebenaran
Bahwa terlahir untuk bersatu
Membangun wajah terlantar
Teriming-iming dalam perjuangan

Angin timur seperti gerigi
Kepemudaan ini harus dibahas
Jangan terlelap dalam teoritis
Karena, negeri dalam keroncong kritis
Perlu diwanti dalam praksis
Kepemudaan ini....
Terlahir menguburkan negeri reot
Memangkas gelas retak birokrasi
Membawa negeri kembali dalam jalur
Itulah bukti kepemudaan ini....

Uma rante Gelang, 26/10/2017. 

Wasiat dalam Kepemudaan

Pada serakan buku-buku tua
Membekas dalam huruf mati
Ada sosok yang sok tahu, sok kenal
Padahal habirim kelengkingan belum tertanam dalam jiwa

Engkau cahaya negeri
yang kelak mengerdip-edipkan nalar
ide tentang kepemudaan tlah menangkap pecahan langit
bahkan sarang kemahaan menjinggakan langit biru
bersikukuh membakar kritis
sehingga ranum hasrat melukai negeri, akan lenyap

Pada pose sosokmu yang agung
Kutitipkan guman seperti rayap walang
Bernafaslah untuk negeri
Daraskan sepucuk kemahaan, beritakan pada koran langit
Bahwa pengimajinasian memecahkan
Suntuknya negeri, menerawang selagi masih bisa
Bernafas kepemudaan

Bukit cepang, 10.10.2017

Tangan Licin

Membaca Nur di balik gulita gua Hira
Mengalirkan Dar dalam napas mantra
Pada lelaki berjubah kabut yang tersesat mimpi
Dalam memuja ilmu kelelawar

Hari-hari sabat tlah mengalpakan nyanyian suaka
Melepaskan bahasa sayap sebagai mentari
Yang bertuah dalam doa
Pada sajak sebagai jembatan gaip

Kemanjaan hari sabat tertangkap pada pembekuan udara senja
Menjadi sebilah pedang dalam ranum si maling Aguna
Kini sosok...
Kepemudaanmu dulu bernazar
Menjadi culun melampaui harimau lapar
Pada cengkeraman perjamuan mamon

Wae tera, 11 September 2017

Agust Gunadin, Peramu Kata-Kata Sampah di Rumah Filsafat San Camillo