Tali Kematian

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Tali Kematian

21 January 2018

Pergaulan yang berlebihan bagiku hanya akan membagi waktu dan dibuangkan begitu saja, bicaraku ketika bantal memanggil untuk tidur (Foto: Tini Pasrin)
Di sebuah rumah kontrakan, aku tinggal  sendirian. Rumah itu dibayar setiap bulan sebagai tempat tinggal yang nyaman. Setiap hari menjalankan aktivitas dengan semangat. Malam harinya aku membaca sebuah tulisan.

Tulisan yang menarik itu mengingatkan kembali kisah yang sudah dilupakan. "Memang majunya teknologi memudahkan siapa saja gampang mencari sumber bacaan", kataku pada Lina yang datang mengerjakan tugas di rumah malam itu.

Disela-sela mengerjakan tugas, Lina bercerita. Aku hanya mendengarkan saja. "Kenapa kamu tidak menerima Ical lagi? Padahal selama ini Ical sering kabarin kamu", kata Lina tersenyum. "Kamu kenal aku to? Aku sudah membenci Ical. Apalagi menerima cintanya!(Sambil membuang ludah)".

"Pacaran sangat mengganggu konsentrasi belajar Lina. Nanti ada saatnya". Pikiranku fokus masa depan dulu. Lagian pacaran untuk apa? Saling mengenal? itu semua bohong! Dulu aku pernah mencintai Ical. Sangat mencintainya. Beberapa bulan kemudian, dia hilang, pergi dariku begitu saja.

"Untuk apa aku menerimanya kembali? Menambah luka? Kesendirian lebih senang dan rasa bahagia" kataku.

Pergaulan yang berlebihan bagiku hanya akan membagi waktu dan dibuangkan begitu saja, bicaraku ketika bantal memanggil untuk tidur. Setiap hari waktuku bersama buku, handphone dan kegiatan lainnya. Pagi hari ketika sedang bersih kamar, handphone berbunyi.

"Halo, kamu bagimana kabar?", Isi pesan itu.
"Kamu siapa?", Tanyaku penasaran.
"Ini Ical. Aku sudah ganti nomor".
"Oh", Jawabku singkat menutup pesan itu.

Simpan kembali handphone dan lanjut bersih halaman rumah. Setelah selesai bersih-bersih aku duduk  sambil membuka SMS masuk. "Aku pernah mencintaimu. Pernah juga pergi tanpa sepengetahuanmu, itu bukan karena bosan. Tetapi, waktu itu lebih senang sendiri. Salahkah, jika cinta di perjuangkan?"

Isi pesan Ical lagi. Aku tidak merespon. Bagiku Ical laki-laki pengecut, Sosok yang pernah melukaiku. Siang hari aku teringat kembali isi "Salahkah jika cinta diperjuangkan?" pesan Ical.

Kalimat itu menyihir pikiranku. Lama berpikir. Tiba-tiba Ical menelpon. Pembicaraan panjang lebar siang itu.  Hatiku jatuh rayuan Ical, seperti petani dimusim kering yang merindukan turunya hujan. Jarak yang jauh, perasaan rindu selalu muncul.

"Liburan kami sudah dekat", ucap Ical dari kejauhan.
"Nanti kalau libur harus bertemu", kataku.
"Aku pernah sedih Ical. Pernah berusaha melupakanmu, tapi sekarang menjadi orang yang sangat rindu kehadiranmu", menutup pembicaraan kami siang itu.

Hari-hariku yang terbiasa dengan buku, hidup sendirian, kini menjelma menjadi sosok wanita perindu cinta, seperti burung yang terbang mengibaskan sayapnya dengan sangat bahagia . Harapan kedatangan Ical selalu ditulis ketika sedang SMS dengannya. Belajar yang selama ini menjadi nomor satu, kini lebih belajar SMS di handphone. Keinginan membeli handphone baru selalu menjadikan sebuah usaha menipu orangtua.

Hari yang begitu cepat dan tak terasa, keinginan bertemu Ical tinggal melewati beberapa hari. Bahkan usaha bertemu dengan Ical ingin secepatnya. Hari bertemu pun kami sudah sampaikan. Rinduku sedikit terobati.

"Saya sudah sampai, tempat tinggalmu di mana?", Pesan ical ketika sampai di kota itu.
"Kamu melewati jalan itu dan ada gang kecil sebelum jalan masuk menuju ke sini", jawabku.

Kerinduanku bertemu kini sudah menjadi nyata. Bukan lagi mimpi dalam tidur, tetapi mimpi dalam sadar, bicaraku dalam hati  ketika  melihatnya.

"Kamu tinggal sendirian di rumah ini?" tanya Ical melihat ruangan itu.
"Iya, tinggal sendirian", jawabku.
"Ruangannya besar sekali. Kenapa tidak cari teman supaya ringankan biaya bayarnya?"Lanjud Ical.
"Aku lebih senang tinggal sendiri. Kamu laki-laki biadap dulu. Pergi begitu saja. Saya kira kamu sudah mati" candaku memukul pundaknya. Rumah kecilku kini diwarnai kebahagiaan canda tawa kami berdua. Kopi sore menjadi pengantar cerita kami.

Disela candaan lucu, kami selalu memandang dengan gaya begitu cepat berpura-pura. Awan sore semakin tebal. "Bagaimana mau pulang, hujan belum berhenti", kata Ical resah sambil berdiri dekat jendela dan mata memandang keluar.

Sore sudah mulai malam. Ical pamit pulang. Selama liburan sepekan, Ical sering mengunjungiku.
Rasa bahagia menyelimuti dengan cinta yang dia berikan. Ketika aku sedang bahagia, Lina datang dan mengagetkanku.

"Hey Lina. Aku dan Ical sudah balikan lagi. Kemarin dia datang kesini", kataku pada Lina.
"Ical libur kah? Bukannya kau sudah membencinya? Masa laki-laki yang sangat kau benci kini menjadi orang yang kau dambakan?", kata Lina.

"Cinta itu buta hae, kadang susah, kadang baik", candaku sore itu. Lina sahabat paling dekat dan orang yang paling mengerti. Ketika ada masalah selalu kuceritakan. Kebahagian saat itu, Ical menjadi topik ceritaku.

Dua hari kemudian Ical mengunjungiku. Aku sempat kaget  Ketika melihatnya dalam keadaan basah.
"Kenapa kamu tidak beritahu datang kesini?",tanyaku.
"Nanti saya ceritakan. Mana kamar mandi? Saya mau ganti pakaian dulu. Sengaja tidak beritahu datang ke sini", katanya.

Aku hanya senyum saja. Kami bercerita sore itu, tentang kuliah, dan masa depan di kemudian hari. Jarum jam yang pindah begitu cepat, gelap di luar rumah mulai kelihatan. Tiba-tiba aku sandarkan kepala di pundaknya. Ical sempat mengelus kepalaku. Malam semakin larut dan hujan belum juga berhenti. Keinginan Ical pulang sepertinya terhalang. Ical lalu memelukku. Kami berjalan menuju kamar kecil.

Entah setan apa yang membuat kami bercumbu dalam ranjang kotor itu. Pagi hari menyapa, kami pun bangun. Saling menatap.

"Apa yang sudah kita lakukan Ical", kataku sambil menangis. Ical diam, tidak mengucapkan apa-apa.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu", katanya sambil memelukku dan pamit pulang.

Aku sempat menahannya, tapi dia berusaha pergi. Semenjak kepergiannya, ia jarang memberi kabar. Aku berusaha SMS terus tetapi tidak pernah balas, begitu pun ketika telepon. Keberadaanya pun tidak pernah aku tahu. Komunikasi diantara kami hilang total.

Setiap hari aku selalu murung. Fokus kuliah tidak diperhatikan. Bulan yang cepat berganti, sesuatu yang terjadi padaku menjadi-jadi. Aku merasa heran, beban, dan bingung. Suatu hari, sahabatku Lina menelpon, Ical sudah mempunyai istri. Air mata mengalir. Buntu pikiran menimpaku. Aku berjalan ke kios kecil membeli tali nilon berukuran tiga meter.

Diikat pada tiang kayu dan leher. Apa yang harus aku lakukan?

Oleh: Yohanes Jefrianto Nabor
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP St. Paulus Ruteng

Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian itu hanya kebetulan saja.