Surat Cinta untuk Dilan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Surat Cinta untuk Dilan

31 January 2018

Jangan bilang-bilang Dilan, surat ini adalah bentuk perlawanan “Senjatanya orang-orang kalah” (Foto: Dok. Pribadi)
Dilan bagaimana kabarmu? sudah lama kita tidak berjumpa atau sekedar bertegur sapa. Meski hanya lewat pena, aku ingin engkau tahu Dilan bahwa aku baik-baik saja sekarang. Aku menjadi seorang mahasiswa Dilan, cita-cita yang aku pernah ceritakan kepadamu dulu saat kita berkencan dengan motor tuamu.

Syukurlah, aku masih diberi kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan dikala jutaan anak di negeri ini tidak bisa merasakannya. Dilan kau bilang rindu itu berat tapi ternyata tidak, yang berat itu adalah berjuang melawan pemimpin rakus yang serakah.

Mereka memakai alatnya polisi, tentara untuk melawan perjuangan kami Dilan, belum lagi perjuangan melawan sistem kapitalis yang terus merongrong sendi-sendi kehidupan negeri ini.

Mereka begitu rakus sayang. Kau tahu Dilan, tahun 2017 bulan November lalu kawan-kawan ku di Palangka Raya, Kalimantan Tengah mengalami tindakan represif oleh aparat kepolisian saat mereka melakukan aksi demonstrasi menolak program Reforma Agraria palsu yang sedang dijalankan di Kalimantan Tengah.

Padahal niat mereka baik mereka ingin menyampaikan aspirasi agar pemerintah menjalankan program Reforma Agraria sejati sesuai dengan mandat undang-undang dan mendudukan kepentingan rakyat diatas segala nya, bukan malah kepentingan pemilik modal.

Tapi, ternyata perjuangan mereka tidak disambut baik oleh aparat terbukti dengan respons berlebihan mereka terhadap kawan-kawan ku itu Dilan. Mereka dipukul dan diperlakukan tidak manusiawi, sungguh tindakan ini telah mencederai demokrasi dan nilai-nilai luhur bangsa ini.

Maaf ya surat kali ini mungkin banyak bercerita tentang penindasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi dan aku saksikan di negeri ini, sebab aku tidak tau Dilan ingin bercerita pada siapa lagi selain kepadamu dan Tuhan.

Kau tahu Dilan, air mata ini kembali menetes menyaksikan perjuangan masyarakat Kulon Progo yang berjuang untuk mempertahankan tanah mereka yang ingin dirampas oleh negara untuk membangun bandara. Baru fasilitas yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat menengah keatas, yang akan bekerja disana pun orang-orang yang memiliki kualifikasi tinggi sesuai standar mereka.

Aku yakin petani yang tanahnya dirampas dan terancam kehilangan tanahnya itu tidak akan bisa bekerja disana Dilan. Tetapi, tuan presiden bilang pembangunan Bandara Internasional itu untuk kemajuan ekonomi kerakyatan, sedangkan pada kenyataan bandara hanya akan dirasakan oleh masyarakat kelas atas saja, pemerintah harus nya menepati janji Dilan untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan UMKM yang sering menjadi jargon nawacita.

Engkau tau menurut data Indoprogres yang aku baca bahwa sebanyak 23, 7 juta petani Indonesia hanya memiliki lahan 21, 5 juta hektar. Sementara 2000 perusahaan perkebunan menguasai 16 juta hektar konsensi hutan. Sedangkan 13, 57 juta petani tidak memiliki lahan alias nol hektar, artinya adalah ternyata salah satu akar dari persoalan ketimpangan tersebut adalah akses pada kepemilikan tanah, tanah adalah investasi.

Artinya, profesi petani merupakan kekuatan utama dalam perekonomian, dengan membuat proyek infrastruktur yang menjajah dan mengusir petani dari kegiatan pertanian negara sudah keterlaluan dalam membuat kebijakan Dilan, aku harus bilang ini adalah proyek ambisius nya tuan presiden.

Dalam perjuangan masyarakat Kulon Progo mereka juga berhadapan dengan aparat negara yang tidak segan melakukan tindakan represif dengan dalil perintah negara dan sudah sesuai dengan SOP.

Rakyat Kulon Progo terancam kehilangan harta dan identitas mereka, marilah Dilan kita tetap berdoa sembari terus berlawan untuk mendukung mereka menolak proyek ambisius negara dan korporasi yang serakah. Cinta kita hanya sejauh doa.

Belum lagi Dilan, baru-baru ini bangsa kita dikagetkan dengan berita yang menjadi headline di koran kompas bahwa 61 anak di Asmat Provinsi Papua meninggal dunia karena busung lapar.

Bayangkan Dilan, Papua itu begitu kaya mereka punya banyak emas, batu bara dan kekayaan alam lainnya tapi mengapa mereka bisa kelaparan? Ah Dilan ternyata benar kata temanku, Papua memang kaya tetapi kekayaan nya diambil dan kendalikan oleh negara lain untuk kepentingan mereka bukan untuk kepentingan masyarakat Papua itu sendiri.

Rakyat Papua tetap hidup didalam lingkaran kemiskinan dan ketidakadilan. Banyak yang ingin aku ceritakan Dilan, banyak sekali tetapi ditengah-tengah kesibukan ku sebagai mahasiswa semester tua yang juga aktif berorganisasi di organisasi eksternal kampus, aku juga sambil bekerja yang membuat aku hampir tidak punya waktu untuk mengabari mu.

Jangankan mengabarimu, mengurus diri saja aku tidak, maklum aku harus berjuang 2 kali lebih giat dibanding yang lain untuk tetap mampu bertahan di dunia yang kejam ini Dilan. Orang miskin dan tertindas seperti aku dianggap gila karena terlalu peduli pada ketidakadilan yang terjadi diatas bangsa ini, kenapa aku peduli karena aku adalah objek ketidadilan yang terjadi.

Aku mengalami dan merasakannya. Aku selalu marah Dilan ketika banyak orang menjerit dibawah kuk penindasan dan ketidakadilan, segelintir orang merayakan pesta kemenangan karena berhasil menggenggam keadilan untuk diri sendiri dan kelompoknya.

Praktik ketidakadilan akan selalu melahirkan kemiskinan sebagai realitas sosial yang tidak dapat dipungkiri, dinegeri ini Dilan kemiskinan dianggap sebagai fakta yang jarang dipersoalkan, bahkan kita terkadang dengan lantang menuduh orang miskin malas bekerja padahal kemiskinan itu diciptakan akibat dilenggangkan nya ketidakadilan ditengah-tengah masyarakat yang terjajah oleh sistem klas seperti Indonesia.

Dilan, sudah dulu ya.. aku ingin kau berdoa bagi masyarakat Dayak Maratus di Kalimantan Selatan yang sedang berjuang menolak perusahaan beroperasi di hutan mereka. Sebab bagi orang Dayak hutan adalah identitas dan sumber kehidupan, masyarakat suku Dayak dan hutan saling berintegrasi dalam sebuah harmoni yang indah.

Jangan biarkan harmoni itu lenyap dan terkerus di hiruk pikuk zaman, dan dirampas oleh kaum serakah yang birahi akan kayanya hutan Kalimantan. ijinkan anak ku dan anak mu menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.

 Doakan juga untuk kami tetap kuat dan konsisten pada perjuangan ini. Doakan semua kejadian yang aku ceritakan diatas ya sayang, jangan biarkan surga berhenti bergetar terus naikan doa dan permohonan agar kaum serakah kalah percayalah Tuhan beserta dengan orang-orang tertindas.

Jangan bilang-bilang Dilan, surat ini adalah bentuk perlawanan “Senjatanya orang-orang kalah”.

Oleh: Novia Adventy Juran
Ketua GMKI Cabang Palangka Raya