Surat Cinta: Icha Lebih Setia Dari Veronica
Cari Berita

Surat Cinta: Icha Lebih Setia Dari Veronica

15 January 2018

Akhirnya ingatanku beku, tapi masih berhenti pada suatu pikiran. Tetang kisah Ahok dan Veronica yang membuat hati Indonesia terluka. Ternyata masih seperti yang kuduga. Cinta itu mengalir dalam sejarah, melingkari, menghiasi, juga meliliti hati manusia – manusia hebat dunia.(Foto: Ilustrasi)


From : Efraim Reda
To      : Ka Icha Aprillia

Dear  : Ka Icha

Aku jadi ingat pada Whiji Thukul yang meninggalkan surat untuk isteri dan anaknya pada saat ia dikejar – kejar oleh militer Orde Baru.

Aku juga ingat pada Soekarno yang mempersunting anak dari Guru Para Bapak Bangsa, Tjokroaminoto, barangkali dengan tujuan untuk belajar lebih banyak dari manusia yang semasanya dijuluki sebagai Ratu Adil itu.

Lagi, ingatanku kemudian melocat pada suatu masa ketika Bung Karno menawarkan kecantikan (wanita) pada Bung Hatta, kemudian Bung Hatta memperisterikannya, itupun setelah Indonesia merdeka.

Akhirnya ingatanku beku, tapi masih berhenti pada suatu pikiran. Tetang kisah Ahok dan Veronica yang membuat hati Indonesia terluka. Ternyata masih seperti yang kuduga. Cinta itu mengalir dalam sejarah, melingkari, menghiasi, juga meliliti hati manusia – manusia hebat dunia. Revolusi sudah memberi cerita itu. Bahwa cinta adalah hati yang bergelora, ia memproduksi hasrat.

Malam ini agak absurd memang. Aku tertawa pada diriku sendiri. Aku menjanjikannya puisi dan baru kusadari itu kurang tepat. Soalnya ia tak sesingkat puisi. Mungkinkah aku menjanjikannya sajak?

Salah, ia lebih indah dari pada sajak. Oh, iya harusnya aku menjanjikanya novel, rasa – rasanya ia tak serumit itu. Terus apa yang harus kujanjikan untuknya? Kehampaan? Iya, kehampaan.

Agar dirinya belajar untuk tak membayangkan masa depan hingga tak terlalu bekerja keras, belajar untuk tak takut pada setan karena makhluk itu adalah ilusi, dan belajar untuk mengendalikan keingintahuan tentang pernikahan seseorang yang pernah kusampaikan padanya.

Ia adalah gadis yang mengerti soal nasionalisme dan takut pada film G30S/PKI. Ia adalah keindahan dalam kelembutannya, kecantikan dalam senyumnya, dan kekuatan dalam hidupnya.

Jika aku sendiri adalah semesta maka aku akan merespon seluruh imjinasiku, dan menjadikannya kenyataan. Kenyataan bahwa gadis berkulit putih, dengan senyum yang memikat itu mesti mendapatkan pria berkulit coklat dengan cinta yang sempurna dan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap seluruh dirinya.

Kenyataan bahwa gadis dengan tatapan manja itu mesti berelasi dengan pria ‘keren’ yang mampu mengangkatnya lebih tinggi dari hari ini. Karena ia sempurna dan harus mendapatkan yang sempurna pula. Yang kaya akan dialektika sekaligus romantika.

Kalau sedikit berkhayal, terkait dengan kesetiaan ia akan seperti istri seorang Whiji Thukul yang menunggu ketidakpastian datangnya Whiji Thukul dengan perasaan pasti. Ia adalah anak dari Tjokroaminoto yang seharusnya dipinang oleh manusia yang lebih dasyat dari Soekarno.

Ia adalah kecantikan yang tepat untuk dimiliki oleh orang sehebat Bung Hatta. Yang pasti ia adalah kejujuran, kesetiaan yang harus dipelajari oleh Veronica. Ia adalah (Ka) Icha. Tersusun oleh jutaan keindahan, ketulusan dan kelembutan.

Saya yakin bahwa mulai sekarang Ka Icha akan bertemu dengan banyak kehebatan, termasuk lelaki yang hebat. Karena Ka Icha terlalu indah untuk tidak dipotret oleh sejarah bersama pasangan yang hebat. Kalaupun sejarah tak melukisnya, tulisan-tulisanku lah yang akan memotret Ka Icha. Dan itu akan menjadi sejarah.

Surat ini sekaligus doa untuk Ka Icha. Pada usia yang sudah semakin dekat dengan pembicaraan tentang pasangan hidup, Ka Icha berhak dapatkan yang sempurna pula. Sesempurna Ka Icha.

Hormat Kk !🙏
Senin, 15 Januari 2018