Sumba Aset Wisata Potensial NTT Masa Depan
Cari Berita

Sumba Aset Wisata Potensial NTT Masa Depan

29 January 2018

Salah satu pemandang sunshine di Sumba, Nusa Tenggara Timur (Foto: Alfonsus O. Deak)
Berbicara tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) haruslah orang yang bernalar bagus. Bagaimana tidak, provinsi yang selalu akrab dengan predikat tertinggalnya untuk beberapa aspek berdasarkan hasil kajian beberapa pusat statistik itu selalu memberi kejutan tak terduga yang membuat banyak orang berpikir ulang soal predikat-predikat yang melekat dalam tubuhnya.

Pertemuan tak terduga dengan salah satu putra daerah NTT asal Sumba yang juga sebagai pembina dan ketua Ikatan Keluarga Besar Sumba Surabaya (IKBSS), Alfons Oma Daek membuat pikiran penulis berubah seribu persen soal NTT di masa depan terutama soal pariwisatanya.

Alfons yang sudah hampir 17 tahun menetap di Surabaya bersama keluarga bercerita banyak soal potensi alam Sumba yang mengantar saya pada sebuah imajinasi reflektif soal bagaimana sekiranya orang muda berlaku sebagai putra dan putri daerah dimanapun mereka berada.

Menurut Alfons, kekuatan terbesar orang NTT yang tidak dimiliki orang lain adalah kemampuan mereka untuk selalu menanamkan identitas daerah mereka dimana pun berada. Ketika ditanya soal mengapa ia berpendapat demikian, Alfons dengan antusias menjelaskan bahwa bersama IKBSS mereka sudah membuktikan itu sampai memilih turun ke jalan raya Kota Surabaya menggelar Fashion Show on The Road dengan mengenakan atribut Sumba dalam tubuh mereka.
Fashion Show On The Road yang dilakukan oleh IKBSS di depan Kantor DPRD Kota Surabaya dalam rangka memperkenalkan budaya NTT kepada masyarakat luas (Foto: Alfonsus O. Deak)
"Dengan hanya bermodal tanggung jawab moral kami melakukannya dengan suka rela tanpa tendensi apa pun untuk tanah kelahiran kami. Sehingga untuk siapa saja yang sudah merasa nyaman di tanah rantau, jangan sampai lupa tanah kelahiran. Jangan lupa kalau ko orang NTT. Biar ko tidak pulang tanam satu pohon saja disana minimal mengingat saja itu sudah cukup" ungkap Alfons.

Sebagai putra asli Sumba, Alfons merasa resah dengan fenomena menjual lahan sekitar tempat pariwisata yang dilakukan oleh masyarakat Sumba akhir-akhir ini. Meski merupakan hak setiap orang untuk hal demikian menurutnya, masyarakat sudah semestinya memikirkan masa depan anak cucu mereka. Masih banyak cara lain untuk mendapat uang cepat.

"Dengan prestasi Sumba melalui asetnya, Pantai Nihiwatu yang menempatkan diri sebagai resort terbaik dunia dua tahun secara berturut-turut banyak orang mulai melirik Sumba sebagai lahan basah pariwisata di NTT. Sayangnya, masyarakat kita seperti tidak punya perencanaan jangka panjang soal ini. Banyak lahan dijual untuk kebutuhan sehari-hari. Pemerintah daerah maupun provinsi sudah seharusnya memperhatikan ini jika tidak mau masyarakat Sumba menjadi penonton di tanahnya sendiri. Masih ada banyak cara untuk dapat uang cepat, hanya soal bagaimana melihat peluang itu" jelas Alfons prihatin.
Alfons bersama salah satu pemeran film Susah Sinyal ketika mengambil gambar di Sumba beberapa waktu lalu (Foto: Afonsus O. Deak)
Pria yang ikut terlibat juga dalam pengambilan film Susah Sinyal ini juga sangat mengapresiasi anak-anak muda NTT yang dengan potensi luar biasa dengan caranya masing-masing mempromosikan pariwisata NTT.

"Sebagai anak muda, saya awalnya prihatin dengan fenomena media sosial yang tidak dipergunakan semestinya oleh beberapa kelompok tertentu namun saya optimis anak-anak muda kita tanpa kenal lelah meluangkan waktunya untuk mempromosikan pariwisata NTT di media sosial. Semoga pemerintah kita bisa mengakomodir mereka semua untuk NTT yang lebih baik" lanjut Alfons.

Menurutnya ada cara lain untuk mempromosikan sekaligus menyadarkan masyarakat NTT untuk bisa lebih paham dan potensi pariwisata disekitar mereka salah satu caranya adalah anak-anak muda tidak berpangku tangan ketika pulang kampung. Mereka harus mampu membaur di tengah masyarakat untuk berdialog soal segala sesuatu hal terkait masa depan pariwisata NTT.

Sumba ternyata memiliki banyak tempat wisata yang belum dikenal masyarakat luas. Sebut saja Danau We'e Kuri, Pantai Walakiri, Pantai Mandorak, Pantai Maujawa, Pantai Watuparunu, dan Pantai Tarimbang yang katanya bagus untuk para pecinta olahraga selancar.

"Semoga semua orang NTT tidak habis-habisnya mempromosikan pariwisata kita. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi? NTT punya masa depan bagus, kalau kita kompak mengatakan kita siap pulang dan membangun daerah bersama-sama" tutupnya.

Narasumber: Alfonsus Oma Deak
Oleh            : Andi Andur