Sepucuk Surat Di laut Lepas, Kisah Anak PMKRI Yang Berlabuh Ke Pulau Dewata

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Sepucuk Surat Di laut Lepas, Kisah Anak PMKRI Yang Berlabuh Ke Pulau Dewata

22 January 2018

Membawa aku terbuai jauh, sulit tuk ku rangkai. Seperti mentari yang selalu terbit di timur mengawali hari dan terbenam di barat demi senja dan malam. (Foto: Gracia Ampur)

"Matahari pertama dari laut untuk indonesia"

Itulah caption yang pertama aku buat lalu aku unggah di sosmed ketika aku mulai melihat cahaya matahari yang nampak begitu polos di lautan awal kami mulai berlayar. 

Saat itu aku hanya mampu berkehendak dan berdoa, ah, ternyata alam ini terlalu indah ketika harus dipuisikan. 

Sepasti musim dan waktu  bersama deburan ombak yang terhempas di pinggiran, rindu pun mengusik ketenangan hati.

Membawa aku terbuai jauh, sulit tuk aku rangkai. Seperti mentari yang selalu terbit di timur mengawali hari dan terbenam di barat demi senja dan malam. 

Hingga kini aku belum mengerti. Mengerti tentang rasa yang ada di atas kapal sewaktu berlayar ke pulau dewata. Iya rasa!

Rasa dimana muncul getaran-getaran lama yg dulu ada dan berakhir dengan sebuah cerita. Sejenak aku mulai termenung ketika  pemandangan indah yang bermandikan senja diiringi suara burung camar. 

Uh... aku sudah jauh melangkah dari kota Ruteng. Aku rindu seseorang di gunung. Namun tak dapat kupungkiri, aku terhanyut dalam pesona senja ditengah lautan. 

Aku bahagia.
Disana aku berharap sebuah takdir ah, entalah. 

Sampai nanti dia menyatakan takdirnya padaku, sekuat hati akan ku jaga rasa ini, rasa yang pernah menggores kepedihan. 

Apakah aku bodoh? 
Atau mungkinkah ini hanya sebatas rindu dengan dia  yang telah sering berlayar? Beginikah rasanya rindu yang terhalang luasnya samudra? 

Sejenak terlintas dalam pikirku berkhayal, apakah dulu dia juga pernah merindu? 
Andai saja senja ini yang mengakhiri kisah. Ternyata indah. 

Jika boleh aku berharap aku ingin kembali lagi. Terlalu banyak hal yang ingin aku katakan bahkan ada setumpuk rindu di pojok hati ini yang ingin aku bagi bersama di atas kapal yang sedang berlayar di lautan lepas.

Maaf jika egoku akhirnya hanya membuat cerita kelam. Kupikir aku kuat ternyata tidak.

Aku hanya bersandar pada sebuah dinding kapal yang sewaktu - waktu bisa berlayar pergi meninggalkan dermaga. 

Sekian!!
Januari 2018

Penulis: OSWALDUS SIRNO. Mahasiswa Universitas Wijaya Putra SURABAYA

Editor: Remigius Nahal