Selembut Sutra Bagian 1

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Selembut Sutra Bagian 1

30 January 2018

 Akupun terlelah dalam virus kemunafikanmu. Dan malam gulita pun tiba membawa sejuta kenangan, hatiku risau dekap tak bersuara (Foto: Istimewa)
Seperti tangan terlentang dan darah berlumuran, tulang-tulang retak, dan di saat itulah mulut diam lumpuh tak bisa berkata, seolah suara jeritan berdatangan terus menerus, dan kini sesuatu telah terjadi, kata wanita itu, Lydia namanya.

Dia adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Usianya kira-kira 20 tahun. Wajahnya yang anggun dan sikapnya yang sedikit arogan membuat para lelaki  enggan untuk berhubungan dengannya. Wajar saja, apalagi Lydia berasal dari keluarga yang berada.

Kegagalan dalam berasmara bukan hal yang baru baginya. Kini pada usia 20 tahun, Lydia lagi-lagi mendapat  kesempatan. Seorang pria dengan wajah bersih, berkulit putih dan berhidung mancung itu memikat hatinya.  Lydia diam-diam menaruh rasa pada Verell, nama lelaki tampan itu.

Berawal dari sebuah lelucon dari suatu organisasi yang Lydia ikuti, saat itulah cinta kedua ingsan ini bersemi. Kira-kira sembilan bulan lamanya mereka berpacaran. Sejak saat itu Lydia dan Verell sering bersama bahkan tak ada waktu yang mereka sia-siakan untuk berdua.

Tepat di hari senin, kira-kira pukul 03.00 waktu sore hari,  Lydia meminta Verell  menjemputnya untuk  menemani dirinya membawa lamaran kakaknya pada sebuah   instansi. Namun, tak terduga Verell menolaknya dengan alasan sibuk dengan pekerjaannya.

Lydia tak begitu merespon negatif dengan alasan Verell.

“Ahh,  barangkali Verell benar-benar sibuk, bagaimana tidak? Dia kan arsitek”, gumam Lydia dalam hati.

Kini hari pun berganti, pagi siang bahkan malam Verell  tak pernah lagi menghubunginya. Lagi-lagi Lydia merenung “Apa Verell sibuk selama 24 jam? mungkin saja dia lelah dan butuh istirahat”, tukas Lydia dengan wajah sedikit cemas. Begitu banyak pertanyaan muncul dari wajah perempuan cantik itu .

Pada suatu hari, Lydia dan bersama seorang teman bernama Dona duduk sambil bersantai menikmati udara sore dengan segelas teh hangat di kantin tempat biasa mereka mengobrol. Tiba-tiba Lydia tersentak kaget.

“Lydia!”, Dona memanggil dirinya dengan nada kaget.
“Dona,  ah kamu buat aku kaget saja, apa sih Dona?  kok kamu macam kaget gitu. Liat apa kamu disana?”, tanya Lydia  dengan wajah cemas.

“Lydia bukankah itu Verell pacar kamu ?” tanya Dona.
 “Ah, kamu salah liat kali.  Mana mungkin itu  Verell?” tukas Lydia.

Lalu, Lydia begitu kaget ketika melihat ke arah tujuan pandangan Dona dan lebih kaget lagi ketika melihat lelaki yang Dona katakan itu mengecup kening seorang perempuan. Wajahnya yang tadinya gembira berubah seolah menikmati kopi yang hambar .

“ Harummu menyengat dalam pikiranku, mengalir dalam ragaku, puing-puing kenangan jatuh, perlahan pudar dan hilang. Merbak menanti kusutnya rembulan, kini alunan merdu itu menusuk parasku yang pernah kau genggami. Akupun terlelah dalam virus kemunafikanmu. Dan malam gulita pun tiba membawa sejuta kenangan, hatiku risau dekap tak bersuara. Berhimpun sejuta rasa yang tersimpan, erat aku genggami dan ketika esok fajar tiba biarkan langit membuka mimpi baru dan melepaskan genggaman dalam terang. Kini hanya bayangan sekejap sayup-sayup menebar kerinduan, bergelora dengan awan dan menggambarkan akan hadirnya, melukiskan ingsan tak ternoda  dan terlihat seperti teka-teki sebagai kiasan dari cinta dan kehidupan."  Lydia merekam sebuah kalimat singkat dan dikirimnya kepada Verell, berharap Verell membuka dan mendengarkannya.

Namun, tak ada respon dari Verell. Laki-laki itu benar-benar tidak menghargai semua pengorbanan Lydia . Tok … tok … tok ... Suara itu terdengar oleh Lydia. Dia segera berlari membuka pintu rumahnya .

“ Eh kamu?”  Lydia begitu kaget dengan sosok yang muncul di depannya itu.
 “Boleh aku masuk?” tanya  Verell dengan wajah sedikit tegang.
“Ohh ia, silahkan masuk” Lydia mencopot headset yang saat itu diputarnya lagu berjudul “Perfect” dari Ed Sheeran.
  
Setelah malam itu, wanita cantik itu tak begitu semangat. Namun,  apalah daya hidup tak selamanya bahagia. Cinta kadang membawa luka setiap waktu bahkan  hilang sekejap karena ego adalah hasrat paling ampuh mengalahkan ketulusaan.

Bersambung ke bagian dua ...     

Oleh: Alisia Marselah H. Jahu