Pilkada NTT, Siap Pasang Badan Tetapi Apa yang Mau Engkau Berikan Kepada Kami?

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pilkada NTT, Siap Pasang Badan Tetapi Apa yang Mau Engkau Berikan Kepada Kami?

24 January 2018

Akibatnya adalah kita lupa bahwa tujuan keterlibatan masyarakat dalam sebuah pesta demokrasi itu sebenarnya untuk menentukan nasibnya sendiri dalam jangka panjang bukan hanya ketika siapa yang kita dukung memenangkan sebuah pertarungan politik (Gambar: Ilustrasi)
Tidak bisa dipungkiri bahwa jauh sebelum perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak bulan Juni mendatang, masyarakat kita sudah menentukan pilihannya sendiri soal siapa memilih siapa. Kondisi ini secara alamiah muncul begitu saja akibat beberapa faktor yang hanya bisa dijelaskan oleh masyarakat itu sendiri. Namun, kondisi yang terjadi selama ini adalah pilihan siapa memilih siapa ini cenderung hanya fokus kepada eksistensi masyarakat itu semata.

Eksistensi maksud penulis disini lebih kepada bagaimana kita kadang mendukung paslon tertentu hanya untuk mendapat pengakuan dalam ruang-ruang diskusi, baik di media sosial maupun di dunia nyata. Akibatnya adalah kita lupa bahwa tujuan keterlibatan masyarakat dalam sebuah pesta demokrasi itu sebenarnya untuk menentukan nasibnya sendiri dalam jangka panjang bukan hanya ketika siapa yang kita dukung memenangkan sebuah pertarungan politik.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah kepentingan apa yang dimaksud? Apakah kita menuntut untuk mendapat jabatan tertentu dari para paslon ketika ia menang dalam Pilkada? Atau apakah kita meminta uang untuk suara dan lingkaran pengaruh kita dalam sebuah komunitas masyarakat?

Bukan itu kepentingan yang hendak kita capai. Bagi penulis sendiri, pemikiran-pemikiran seperti ini adalah sebuah penyakit sosial yang sangat tidak bisa diterima karena kita telah mengorbankan diri kita sendiri untuk sesuatu yang sebenarnya menjadi hak kita sebagai masyarakat.

Kepentingan dalam hal ini merupakan soal kepekaan sosial mulai dari dalam keluarga, lingkungan dan segala sesuatu yang memang perlu keterlibatan pemerintah untuk mengatasinya.

Contoh, mayoritas penduduk NTT adalah petani. Dari total jumlah penduduk 5.036.687 orang, ada sekitar 21,85% merupakan kelompok masyarakat tergolong miskin menurut data BPS NTT per Maret 2017. Menurut beberapa survey, bahwa masyarakat yang masuk dalam kategori miskin adalah masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Beberapa survey ini sebenarnya bernilai relatif. Bayangkan hampir sebagian masyarakat kita tidak membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari karena mereka memiliki ladang sawah sendiri.

Menjadi persoalan adalah masyarakat tidak mau menjual beras untuk memenuhi kebutuhan lain karena tidak ada yang mau membeli, kecuali dengan harga yang sangat murah. Akibatnya, ada kelimpahan komoditas tertentu dalam masyarakat kita namun serba kekurangan untuk komoditas lain seperti pemenuhan kebutuhan primer yakni akses pendidikan, kesehatan dll. Tidak semua sekolah dan rumah sakit di daerah kita mau menerima beras sebagai imbalan atas jasa mereka.

Dari contoh tersebut, kita misalnya sebagai petani harus paham persoalan-persoalan yang tengah menjerat kita sejak sekian lama. Kita harus berani berbicara soal apa yang sebenarnya kita butuhkan. Jika persoalannya seperti contoh tersebut maka carilah paslon yang mau menjawab persoalan ini tanpa banyak basa basi. Jika kita radikal untuk sebuah kepentingan bersama tidak akan menjadi persoalan.

Bila ada paslon yang datang menyapa, pastikan sebelum ia menjabat tangan kita ia membawa serta pena dan kertas untuk mencatat kebutuhan kita, bukan hanya handphone untuk berselfie ria sebagai salah satu bentuk "pencitraan". Disitu baru kita paham, mana yang hendak mengayomi mana yang hanya menumpang muka menjual kemiskinan masyarakat agar menang Pilkada.

Demikian juga untuk persoalan-persoalan lain, sehingga istilah "pasang badan" mendukung paslon tertentu itu tidak sia-sia. Argumentasi kita tidak dianggap bualan belaka di mata publik dunia maya dan dunia nyata. Sebelum yakin mendukung, tanyakan kepada diri kita masing-masing: apa yang akan saya dapat dengan mendukung orang ini?.

Oleh: Andi Andur