Persahabatan Yang Selalu Dikenang

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Persahabatan Yang Selalu Dikenang

19 January 2018

Kematiannya adalah hal terberat yang pernah aku alami. Tetapi aku percaya bahwa Tuhan menempatkan hidup dan hati kami bersama karena satu alasan. Kami membutuhkan satu sama lain. Emma membutuhkan seorang teman, dan aku membutuhkan kekuatan dan keberaniannya. (Foto: Ilustrasi)

Namanya Emma. Dia adalah siswi baru di sekolah. Aku merasa kasihan padanya karena setiap siswa menatapnya, menunjuknya, dan berbisik tentang dia. Ia sangat kecil, kurus dan terlihat jelek. Dia gadis berusia 12 tahun yang tidak memiliki rambut (botak).

Emma satu kelas denganku. Dihari pertama ia telah memperkenalkan diri kepada teman-teman dan menempati sebuah kursi yang kosong. Emma duduk dengan jarak dua baris dari tempat dusukku, disebuah kursi yang kosong.

Dia membaringkan kepala diatas meja barunya, menyilangkan kakinya dan meletakkan kedua tangannya di wajahnya. Ia mencoba menyembunyikan rasa malunya tetapi semua orang bisa merasakan itu.

Saat makan siang, Emma duduk sendirian disebuah meja. Aku pikir dia terlalu takut untuk mendekati siapapu, sementara disaat yang bersamaan semua orang juga takut mendekatinya.

Setelah sepuluh menit kemudian, aku memutuskan untuk meninggalkan mejaku dan berjalan kearahnya. Aku menarik sebuah kursi lalu duduk. Aku berkata, "hai, Aku Veneta. Apakah kamu keberatan jika aku duduk denganmu?"

Emma tidak menjawab, tetapi mengangguk, Ia tidak pernah mengangkat kepala atau matanya untuk melihatku. Mencoba membuatnya merasa lebih nyaman, aku mulai berbicara seolah aku sudah lama mengenalnya.

Aku menceritakan kepadanya tentang guru-guru, kepala sekolah, dan beberapa temanku. Dan akhirnya kami duduk bersama selama 20 menit, dia menatapku tepat di mata, tetapi masih belum ada ekspresi apapun di wajahnya. Dia menatapku dengan tatapan kosong.

Ketika bell berbunyi dan waktunya untuk memulai pelajaran berikutnya, aku berdiri, mengatakan bahwa senang rasanya bisa berbicara dengannya, dan akupun melanjutkan perjalananku.

Aku merasa tidak enak untuk meninggalkannya karena aku tidak bisa membujuknya untuk berbicara atau bahkan tersenyum. Hatiku sakit saat melihat gadis ini karena rasa sakit yang ia alami sangat jelas bagiku.
 
Sekitar 3 hari kemudian, ketika aku berada si loker untuk mempersiapkan segala keperluan kelas Emma akhirnya berkata kepadaku. "Aku hanya ingin nengucapkan terimakasih karena sudah mengajakku berbicara pada hari itu," katanya. "Aku menghargai niatmu untuk mencoba berbaik denganku". Ketika dia mulai berjalan, aku mengumpulkan barang-barangku dan mengejarnya. Sejak hari itu, kami tidak dapat dipisahkan.
 
Gadis ini benar-benar memikat hatiku. Dia penyayang dan peduli, penuh empaty dan jujur, tetapi yang terpenting, ia kesepian. Kami menjadi sahabat, dan dengan berbuat demikian, aku menata diriku diusia 12 tahun dalam mengimbangi berbagai banyak kehancuran yang pernah aku alami. Aku mengetahui bahwa Emma mengidap penyakit kanker dan tidak diberikan kesempatan yang baik dari penyakit yang menimpahnya.
 
Selama lima bulan, Emma dan aku menjalin hubungan yang baik. Kami selalu bersama di sekolah setiap hari dan hampir selalu bersama setiap malam untuk belajar atau hanya nongkrong dan, tentu saja setiap akhir pekan juga. Kami berbincang, tertawa, bercanda tentang cowok-cowok dan kami berkhayal tentang masa depan kami. Aku ingin menjadi temannya untuk selama-lamanya tetapi saya tahu bahwa itu tidak akan terjadi. Setelah lima bulan menjalin sahabat, Emma mulai sakit.
 
Aku menghabiskan waktu luangku dengannya. Aku pergi ke rumah sakit ketika ia berada di sana dan tidur di rumahnya setiap hari ketika dia berada di rumah. Aku tahu aku sudah meyakinkan hatiku untuk membuat dia mengerti bahwa dia telah menjadi teman terbaikku di dunia---adik yang tidak pernah aku miliki sebelumnya.
 
Aku berada di rumah pada hari minggu, duduk bersama ayah sambil menonton sepak bola. Telephone berbunyi dan mama menjawabnya. Aku bisa mendengar desahannya dan kemudian dia menghindar. Dia berjalan ke dalam ruangan, matanya memerah, dan air mata jatuh di pipinya. Aku langsung mengetahui apa yang telah terjadi. "Apakah Emma baik-baik saja?" Tanyaku. Mama tidak sanggup untuk menjawab semuanya itu.
 
Emma dilarikan ke rumah sakit. Dia menderita demam tinggi. Kabar buruk. Kankernya tidak merespon semua jenis pengobatan---Kankernya sudah menyebar. Emma gagal mempertahankan hidupnya.
 
Tiga hari kemudian, Emma meninggal di rumah, di tempat tidurnya. Dia baru berusia dua belas tahun. Aku merasa kaku, mengetahui bahwa dia telah meninggal, tapi sedikit tidak mengerti bahwa semuanya akan berakhir seperti ini. Selama dua minggu, dengan cepat aku belajar pelajaran terberat yang pernah aku pelajari dalam hidup.
 
Aku tidak hanya belajar untuk menghadapi kematian, mental dan emosional, tetapi aku juga belajar untuk berduka cita. Aku tidak bisa melakukan itu. Pada suatu hari, mamanya datang dan membawakan aku sebuah kotak. Dia mengatakan telah menemukan itu di dalam barang-barang Emma.

Di sana ada sebuah catatan, mengatakan untuk memberikan kotak itu untukku ketika dia tidak lagi berada disini. Aku membawakan kotak itu ke kamarku, aku menatap kotak itu selama satu jam atau bahkan lebih, lalu akhirnya aku memperoleh keberanian untuk membukanya.
 
Di dalamnya, sekali lagi aku menemukan sahabat terbaikku. Emma telah menyimpan beberapa foto dia dan aku di dalam kotak, beberapa perhiasan kesayangannya dan yang paling penting adalah sebuah catatan untukku. Aku mulai terseduh tetapi aku tetap memilih untuk membacanya.

"Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan mengetahui persahabatan yang sebenarnya," dia memulai. "Aku selalu diperlakukan seperti orang luar, orang yang aneh. Jika seseorang berbicara padaku, itu biasanya menanyakan apa yang salah denganku atau, bahkan yang lebih buruk lagi, menanyakan apakah aku akan mati.
 
"Kamu adalah sahabat terbaikku di dunia ini dan aku tidak akan pernah melupakanmu. Jika kamu membaca catatan ini, aku berada di surga. Tolong jangan menangis. Aku bahagia sekarang, dan aku tidak sakit lagi atau botak. Aku adalah malaikat yang cantik dan sempurna.
 
"Aku akan selalu mengawasi hari-hari hidupmu. Aku akan berada disampingmu saat kamu patah hati dan saya akan menyaksikan dengan penuh suka cita di hari pernikahanmu. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik, Veneta. Jangan pernah berubah dan jangan pernah lupa dengan persahabatan kita. Aku sangat bersyukur bahwa Tuhan mengijinkanku untuk mengenal dirimu. Aku akan menunggu untuk bertemu denganmu lagi. Sahabatmu, Emma.
 
Membaca surat itu mampu mengubah hidupku. Meskipun dia dalam keadaan sakit dan kehilangan nyawanya, dia masih meluangkan waktu untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Dia ingin memastikan bahwa aku bisa merelakan kehilangan dia.
 
Kematiannya adalah hal terberat yang pernah aku alami. Tetapi aku percaya bahwa Tuhan menempatkan hidup dan hati kami bersama karena satu alasan. Kami membutuhkan satu sama lain. Emma membutuhkan seorang teman, dan aku membutuhkan kekuatan dan keberaniannya.

Bahkan sampai hari ini aku bersyukur kepada Tuhan atas Emma. Aku juga masih berbicara dengan Emma setiap hari. Aku tahu dia mendengarkanku dan aku tahu dia mencariku. Persahabatan kami tidak akan pernah pudar atau mati. Orang mungkin datang dan pergi, hidup mungkin berubah dalam sekejap, tetapi cinta dan persahabatan akan bertahan untuk selamanya.

Cerpen terjemahan.
Judul asli: A friendship to remember
Penulis: Vicki Datus.
Mahasiswa Setiba  Saraswati Denpasar