Perempuan Tangguh Dari Flores, Marta Muslin: Diam adalah Pengkhianatan, Bicaralah!
Cari Berita

Perempuan Tangguh Dari Flores, Marta Muslin: Diam adalah Pengkhianatan, Bicaralah!

14 January 2018

Marta muslin, seorang aktivis yang memiliki jiwa pejuang yang sudah ditanamkan dalam keluarga. Marta adalah perempuan asal Ruteng yang sekarang bekerja di Labuan Bajo sebagai Comunity Project Manager (Foto: Dok. Pribadi)
Indonesia adalah negara yang memiliki dasar yaitu Pancasila. Pancasila terdiri atas lima butir penting yang menjadi pedoman kehidupan bangsa. Pedoman tersebut tidak hanya bermaksud untuk menyatukan bangsa, tetapi juga sebagai tolak ukur dari masalah-masalah yang terjadi dalam bangsa.

Di Indonesia banyak sekali masalah yang terjadi dalam masyarakat. Masalah tersebut tidak terlepas kaitannya dengan Pancasila. Salah satu masalah yang sering dihadapi adalah tentang keadilan. Poin tentang keadilan terdapat dalam butir kelima Pancasila yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluaruh rakyat Indonesia”.

Berbicara soal keadilan juga tidak terlepas dari bagaimana kita menyuarakan keadilan. Dalam Undang-Undang Dasar sebagai landasan negara, terdapat Undang-Undang nomor 9 tahun 1998 tentang “Kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum”.

Hak untuk bersuara dalam mencari keadilan sudah diatur pemerintah. Hak tersebut berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Dalam kehidupan, sangat jarang kita temui wanita  berperan aktif dalam bersuara, namun beda dengan perempuan asal Ruteng bernama Marta Muslin. Marta sangat gencar menyuarakan kepentingan masyarakat di Flores.

Marta muslin, seorang aktivis yang memiliki jiwa pejuang yang sudah ditanamkan dalam keluarga. Marta adalah perempuan asal Ruteng yang sekarang bekerja di Labuan Bajo sebagai Comunity Project Manager. Marta dibesarkan dalam keluarga dimana  dalam hal kebebasan berpendapat sangat didukung terutama oleh sang ayah. “Sudah terbiasa dan tidak diam kalau ada yang tidak adil, kita sudah biasa untuk bicara. Kebiasaan dari kecil di rumah, kalau terjadi ketidakadilan dalam suatu hal, biasanya kita bicarakan”, katanya.

Perempuan yang lahir pada Januari itu merupakan aktivis yang turut aktif dalam berbagai isu dalam masyarakat. Keaktifan sebagai aktivis itu sudah tumbuh sejak 2005 saat kuliah di fakultas hukum dan mengikuti organisasi MAPALA di Universitas Warmadewa Bali. Saat itu Marta ikut dalam menyikapi beberapa masalah lingkungan seperti masalah pembangunan sebuah geothermal di Bedugul.

Marta dan aktivis lain menolak pembangunan tersebut karena berlokasi di sebuah danau dan banyak terdapat burung-burung enemik Bali. Selain itu, Marta juga bekerja di suatu LSM development yang didalamnya mengadvokasi beberapa hal tapi tidak melalui pendekatan seperti aktivis yang demo, melainkan lebih kepada mengintervensi pemerintah dalam suatu model pembangunan.

Berkat jiwa aktivis dan perjuangannya, perempuan asal kota dingin ini pernah mengunjungi beberapa negara seperti USA, Australia, Vietnam, dan Singapura. Marta gencar menyuarakan kepentingan rakyat dalam berbagai hal seperti dalam hal advokasi terkait kepentingan publik, tentang ruang publik, mengkritisi kebijakan Pemda, hingga persoalan air bersih. Dalam hal persoalan air bersih,

Marta pernah mengadakan riset bersama seorang Doktor asal Inggris, Stroma Cole. Riset yang dilakukan yakni tentang dampak pariwisata terhadap perempuan dan air di Labuan Bajo. “Karena pariwisata itu selalu datang dengan dua sisi pedang, kalau tidak dikelola dengan baik atau direncanakan dengan baik, maka kerusakannya bisa lebih parah dari tambang. Kalau tambang terlokasi di suatu lokasi saja, sedangkan pariwisata itu benar-benar bisa mempengaruhi sosioculture suatu daerah dan saya sangat menyadari itu. Sehingga, kita yang sudah memiliki pengalaman di luar daerah maupun di luar negeri harus memberi masukan kepada pemerintah, karena bagi saya, diam itu adalah penghianatan”, ucap Marta.

Sebagai perempuan yang tangguh dan memiliki jiwa pejuang, Marta yang bekerja sebagai Comunity Project Manager Wicked Diving yang dimana membiayai anak-anak dari SMK Labuan Bajo dan SMK Sadar Wisata Ruteng untuk menjadi dive master dengan program beasiswa.

Selain itu, Marta juga memiliki beberapa posisi dalam pekerjaannya seperti sebagai manajer  Wicked diving, sebagai koordinator Indonesian Waste Platform, sebagai Board Management Eco Flores, sebagai President Dive Operator Comunity Komodo dan juga Legal Comitee atau bagian hukum dari Asosiation of Indonesian Travel Agency,  dan sebagai Research Asistant untuk beberapa universitas di luar negeri.

“Saya buat diri sibuk, saya juga seorang penyelam, kadang-kadang juga jadi guide. Saya punya banyak kegiatan sosial disamping kegiatan yang berbayar. Hal itu karena di kota kecil ini kita harus buat diri sibuk agar banyak waktu yang dipakai untuk hal-hal yang berguna”, pungkas perempuan tangguh itu.

Adapun kegiatan lain yang pernah dilakukan Marta seperti penelitian, Marta juga pernah mengelola Destination Management Organitation sebagai organisasi tata kelola pertama di Indonesia. “Jadi, masalah tata ruang khususnya di Labuan Bajo sebagai pintu gerbang pariwisata NTT, hal itu mengharuskan anak muda berpartisipasi aktif untuk memberikan masukan kepada pemerintah.

Hal itu karena yang terjadi di Labuan Bajo adalah pemerintah sebenarnya sangat butuh masukan/input dari masyarakatnya karena ketidaksiapan kita terhadap masisnya pertumbuhan investasi yang diikuti dengan masuknya pekerja-pekerja dari luar daerah dan menyebabkan peningkatan populasi yang sangat signifikan. Jadi kita harus bantu mengintervensi, memberikan input kepada pemerintah bahwa kita harus mempersiapkan destinasi Fores khususnya Manggarai Barat dengan benar dan komprehensif. Maksudnya bahwa semua lini harus dipersiapkan secara bersamaan dan hal itu yang saya kerjakan selama ini, saya menyebutnya support government planning”, jelasnya.

Pada tahun 2014, Marta dan rekan aktivisnya membentuk komunitas yang bernama “Bolo Lobo”. Pada awalnya, komunitas itu dibentuk untuk kampanye lingkungan. Saat itu Marta memitigasi dampak pariwisata terhadap lingkungan. Salah satu masalah yang membawa dampak yakni masalah sampah yang menjadi masalah nomor satu di Labuan Bajo. “Masalah sampah menjadi masalah 10 besar  pengalaman paling tidak menyenangkan bagi turis”, ujarnya.

Kami membentuk komunitas dengan pendekatan seni budaya untuk memberikan kampanye tentang kesadaran lingkungan kepada masyarakat. “Bolo Lobo” sering membahas isu-isu yang terjadi di masyarakat, tidak hanya isu tentang masalah lingkungan tapi juga tentang masalah sosial-budaya yang terjadi di Labuan Bajo.

Berbicara tentang dukungan atau pihak yang berkontribusi dan membantu Marta dalam menjadi aktivis, dia menegaskan bahwa “Bekerja sebagai aktivis tidak bisa sendiri. Kita harus bisa meningkatkan kesadaran orang tentang suatu kasus”. Contoh kasus lain yang pernah diikuti Marta yakni dalam mengadvokasi Pantai Pede.

“Hal itu dasarnya karena keprihatinan bahwa investasi masuk di suatu daerah, itu bagus. Namun, investasi itu harus direncanakan untuk menyejahterakan rakyat di lokasi tersebut, bukan berarti bahwa masyarakat lokal harus berkontribusi untuk kepentingan investasi, itu salah. Jadi, Investasi yg masuk benar-benar untuk kepentingan masyarakat. Kepentingan masyarakat tidak hanya tentang berapaa jumlah uang yang diinves di daerah itu tapi juga mengenai  masalah kesejahteraan masyarakat di lokasi itu”, jelasnya.

Marta dan beberapa aktivis menolak keras masalah pantai pede karena menurutnya perkembangan destinasi berjalan tanpa ada tata ruang wilayah yang sudah ada sebelum menjadi destinasi.

“Jadi investasinya sudah masuk duluan sehingga terjadilah kemudian akses ke pantai dari jalan utama tertutup oleh bangunan hotel, restoran, dan lainnya. Sehingga masyarakat lokal menjadi terpinggirkan. Orang hanya berpikir berapa uang yang masuk, tapi tidak berpikir tentang orang-orang yang terkadang ingin berpiknik. Jika pantai ditutup, orang mau piknik kemana? untuk orang yang mampu, mereka bisa saja ke Bali. Bali itu contoh yang bagus. Sebagus itu pun masih ada Pantai Kuta yang 24 jam bisa diakses bebas tidak berbayar. Maksud kami dulu bahwa Pede itu dibuat seperti Kuta, tempat orang bisa bersenag-senang datang dengan keluarga, setidaknya sisakanlah satu di dalam kota, jangan semuanya dipakai untuk investasi. Kesejahteraan tidak bisa hanya sekedar uang tapi juga tentang masyarakat dapat bersenang-senang, sejahtera batin berkumpul dengan keluarga. Hal seperti itu yang perlu kita perjuangkan”, jelas perempuan alumni fakultas hukum itu.

Dukungan dari berbagai sisi juga berdatangan, “Teman saya banyak yang dukung dan kebetulan saya bekerja dengan perusahaan Amerika sebagai Comunity Project Manager, jadi sebenarnya posisi saya mendukung aktivisme saya juga”, tambahnya.

Jika ditanya tentang tujuan menjadi aktivis, bagi Marta tidak ada tujuan menjadi aktivis. Menurutnya, sebagai manusia kita harus menjalani hidup yang baik dan benar. Kalau ada sesuatu yang terjadi dan itu merugikan banyak orang daripada menguntungkan, maka dapat dikatakan “biang dari penghianatan”.

Karena itu, bicaralah. “Jadi tujuan saya hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan masyakarat banyak dan dalam jangka panjang tidak bagus untuk masyarakat, untuk lingkungan, dan untuk masalah sosial dan budaya” ucap perempuan berdarah Manggarai itu.

Dalam kegiatannya menjadi seorang aktivis, Marta juga menghadapi banyak kesulitan. “Kesulitan menjadi aktivis adalah awalnya menjadi musuh pemerintah, pemerintah tidak suka dengan kita, pemerintah tidak suka diprotes atau dikritik” pungkasnya. Dari sebab itu, lambat-laun Marta belajar bahwa dia mengkritisi dengan keras tetapi juga mendukung program kerja pemerintah dengan keras.

Marta mengundang beberapa investor atau program yang dibawa dan turut bekerja sama dengan pemerintah. Seiring berjalannya waktu, Marta belajar bahwa dengan aktivisme bisa juga dilakukan dengan melakukan strategi pendekatan yang beda. “Jadi kita mengkritisi dengan keras, tapi kita juga memberikan tawaran alternatif solusi bagaimana pemerintah harus melakukan suatu program. Jadi kita menawarkan alternatif solusi, tidak dengan protes lagi seperti dulu”, tambahnya.

Menurut Marta, wahana atau sarana yang membantu kepentingan rakyat adalah jurnalisme. Melalui seorang jurnalis, kita dapat memberi suara. Zaman sekarang, media sosial dan jurnalistik sangat membantu untuk menyuarakan kepentingan masyarakat.

Marta adalah sosok yang tidak mau terkenal menjadi aktivis, Marta sudah merasa puas dengan penghargaan yang dia terima. Pada tahun 2016, Marta mendapat Australia Awards dari pemerintah Australia, tahun 2017 dia diundang menjadi International Leadership Visitor ke Amerika dan tahun 2018 dia juga diundang untuk mengajar di Austria. “Saya pikir itu semua sudah merupakan pencapaian yang cukup bagus. Saya hanya ingin suatu saat bisa menulis buku.

Saya ingin menulis buku tentang perempuan Manggarai yang bisa keluar dari bagaimana mereka dibentuk di Manggarai dimana ‘weta’ itu hanya ada untuk ‘sida’ saja, untuk ambil keputusan kita tidak ikut. Dalam hak waris juga kita tidak termasuk atau ‘ata peang’. Kalau mau jadi aktivis terkenal, itu bukan mimpi saya”, ungkapnya.

Marta juga berbagi sebagai perempuan bahwa kita bisa jauh melompati batasan-batasan yang diberikan kepada kita pada saat kita masih kecil. “Hidup saya adalah bukti bahwa saya bisa melampaui batas-batas yang dulu diberi, termasuk batasan fisik. Saya dari Ruteng, orang gunung yang tidak bisa berenang sampai umur 27 tahun.

Tetapi sekarang, saya sudah jadi penyelam. Saat saudara saya patah arang, tidak punya biaya untuk kuliah, saya berani bertahan untuk bekerja sambil kuliah, menjadi sarjana, bekerja untuk orang banyak seperti saat di LSM saya bekerja untuk delapan Kabupaten di Flores. Kalau orang hanya bermimpi bagaimana berbicara di Jakarta, saya sudah melampaui batas itu, berbicara untuk forum sekelas PBB. Saya cukup puas dengan pencapaian saya sekarang”, katanya.

Marta berharap untuk mempunyai banyak partner perempuan aktivis di Flores, karena di Labuan Bajo sangat sedikit perempuan yang berani, bukan hanya berani berbicara, tetapi juga bicara pakai konsep dan menghindari diri dari mengeluarkan statement yang kemudian memenjarakan diri sendiri/melawan hukum.

“Jadi, kita tetap mengkritisi dengan keras, tapi kita juga harus melindungi diri kita. Harapan saya bahwa saya bisa mendapat banyak rekan perempuan yang berpikir bahwa tidak apa-apa mengkritisi dengan keras, tidak apa-apa dibenci oleh pemerintah, pikirkan suatu strategi alternatif yang bisa ditawarkan sehingga kemudian kita bisa menjadi kolaborasi yang bagus tapi tetap bisa mengkritisi dengan keras. Pesan saya hanya satu ; diam adalah penghianatan, maka bicaralah”, tutup aktivis perempuan itu.

Narasumber: Marta Muslin
Penulis        :Yuni Sung
marjinnews.com Yogyakarta
Anggota KOPERASI Yogyakarta

Artikel ini merupakan salah satu rangkaian dari tiga program focus discussion kami bertema "Perempuan-perempuan Tangguh" edisi bulan Januari dan Februari. Bagi pembaca budiman yang hendak merekomendasikan tokoh-tokoh muda serupa silahkan laporkan kepada kami melalui email: marjinnews@gmail.com. Salam hangat, JABAT ERAT!