Pejabat Pembohong, Kok Rakyat Dijadikan Bahan Taruhan

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pejabat Pembohong, Kok Rakyat Dijadikan Bahan Taruhan

23 January 2018

Tuan yang terhormat, Kami sebenarnya bosan dengan kebohongan dan kemunafikan yang ada di negeri ini. Sampai kapan kami jadi bahan taruhan kalian Tuan? (Foto: Istimewa)
Tuan  yang terhormat, Kami sadar kami adalah golongan jelata yang mungkin tidak kamu dengar pendapatnya. 

Tapi indahnya negeri modern ini, mungkin karna faktor demokrasi dan demi mengejar kursi empuk yang harus kalian tempati.  

Kita sempat bertemu di persimpangan jalan bebatuan. Tuan dengan ramah menyapa kami dari balik kaca mobil R3. 

Dengan setianya tuan menoleh dan mendengarkan jeritan suara kami ketika kami sedang bercerita. 

Lantas saat itu suara kami seperti kicauan anak ayam yang di tinggal pergi induknya. Oh... iya tuan, Sebenarnya otak kami tidak sanggup jika harus berdebat, karna bahasa tuan tidak mampu kami cerna. 

Sebenarnya kami mampu hanya karna banyak pihak menilai kalian adalah orang pintar yang menamakan diri sebagai kaum ELITE dalam birokrasi, sedangkan kami hanya rakyat biasa yang hanya mengadalkan sedikit logika saat kami merasa haus dan lapar. 

Tuan yang terhormat, Kami sebenarnya bosan dengan kebohongan dan kemunafikan yang ada di negeri ini. Sampai kapan kami jadi bahan taruhan kalian Tuan?

Apakah menurut tuan kita hidup kami sudah makmur? 
Makanan lezat yang kalian sediakan merupakan tawaran yang membawa kehancuran dan malapetaka untuk masa depan anak cucu kami. 

Tolong ingat ketika kami berbondong-bondong menuju sebuah tempat yang menurut team penyelenggara itu merupakan tempat pemunggutan suara. 

Bahkan banyak orang tua di desa tanpa merasa malu dengan melangkah kesana tanpa beralas kaki dan berpakyan seadanya dengan membawa sejuta harapan, harapan yang datang saat kami mendengar janji manis untuk perubahan masa depan bangsa yang lebih cerah. 

Betapa iklasnya 15.000 (tarif buruh tani di desa) kami relakan hanya untuk mendatangi sebuah pesta yang Tuan hasutkan sebagai pesta rakyat. 15.000 sangat berharga yang kami dapatkan dari pekerjaan untuk terus bertahan hidup. 

Tapi hari  itu sengaja kami menolak tawaran pengusaha dengan alasan kami harus memilih agar dapat merubah upah 15.000 menjadi 50.000 per hari. 

Namun harapan kami salah, kami kembali harus berjuang sendiri dengan harga jual tenanga kami seharga 15.000. Sedangkan Tuan untuk sekedar duduk dalam ruangan rapat malah tertidur lalu di bayar dengan harga jutaan rupiah.  

Lalu tuan dengan santai dan tanpa merasa bersalah sedikitpun berdandan diri di sallon kecantikan tante Ria (salon kecantikan di kota kabupaten) untuk menebal telingga saat mendengar jerit tangisan rasa sakit rakyat kecil dari pelosok negeri ini dan membeli kaca mata hitam di Swalayan lokal (Tempat belanja bintang lima di kota kabupaten) agar sengaja telihat buta warna untuk melihat kesedihan rakyat kecil. 

Adakah Tuan lihat kami begitu miskin di tanah yang subur?  Hutan kami kemana? Gunung emas kami di jual kepada siapa? Kami makan akarnya, dan terigu menumpuk di gudang tuan. 

Tuan yang terhormat,  Kami sebenarnya menangis harus menderita seperti ini. Kemiskinan dan pendidikan rendah yang menurut tuan adalah kami pemicunya.  Apakah kemiskinan ini salah kami?  Ataukah pendidikan rendah salah kami? 

Kami bangga di lahirkan di desa Tuan, setidaknya kami perna alami bagaimana pahitnya harus berada di terik matahari demi harga jual 15.000, Karna menurut kami itu jauh lebih mulia daripada harus berada di ruangan megah dan berAC, malah asyk tertidur dan bermimpi membeli Avanza atau R3 terbaru. 

Kami selalu mendapat makanan sisa, dan tuan sendiri mengatasnamakan kami  untuk mendapatkan makan lezat! Tuan yang terhormat, Kapan kita ngopi bareng? Saya bersedia membayar semahal apapun pesanan tuan. 

Tapi kalau tuan izinkan,saya akan pesan secangkir kopi pahit, Disana tuan mengerti, sebanarnya kenikamatan bukan selalu berasal dari hal-hal yang manis. Pahit pun dapat di nikmati. 

Oleh: Oswaldus sirno
Mahasiswa-Universitas Wijaya Putra SURABAYA 
semester 3