Para Srikandi Amanat Bali Buka Suara Soal Pilgub NTT

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Para Srikandi Amanat Bali Buka Suara Soal Pilgub NTT

25 January 2018

Pada dasarnya keterwakilan perempuan memang sangat diharapkan karena perempuan  mempunyai kedekatan tanggung jawab empati terhadap persoalan domestik dan juga perempuan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi  terhadap masalah-masalah lokal. (Foto: RN)
Denpasar, Marjinnews.com. Pesta Demokrasi NTT tersisa beberapa bulan lagi. Antusias masyarakat mulai nampak dengan komentar-komentarnya terkait dengan hajatan Pemilukada tersebut.

Keterlibatan Perempuan memiliki peran penting dalam dunia politik. Perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, yang hanya untuk mengurusi suami dan anak-anak.

Akan tetapi juga dapat mengurus khalayak umum dengan adanya keterwakilan  dan peran serta perempuan diharapkan dapat membawa NTT keluar dari daftar provinsi termiskin ke-3 di Indonesia serta dapat mengatasi persoalan-persoalan yang ada di NTT.

Mengutip pernyataan Presiden Pertama RI Bung Karno bahwa" Wanita adalah tiang negara,  jika wanita rusak maka Negara juga rusak.

Atas dasar itu, para Mahasisiwi asal NTT yang tergabung di dalam Aliansi Mahasiswa NTT (Amanat-Bali) buka suara. Mereka mengomentari hajatan Demokrasi lima tahunan tersebut.

Maria Sisilia Memu, salah satu Mahasiswi NTT asal Manggarai Timur yang bergabung di dalam Aliansi itu berkomentar" libatnya kaum Perempuan dalam Pilgub adalah contoh nyata emansipasi kaum wanita. Wanita sudah tidak lagi hanya sebagai Ibu rumah tangga saja. Namun dengan segala energi positif yang dia miliki, bisa berusaha untuk disalurkan kepada masyarakat umum yang kemudian berguna bagi bangsa dan negara ini.

Lebih lanjut Mahasiswi Universitas Dwijendra Denpasar ini mengatakan, dengan berperan aktifnya Perempuan dalam perpolitikan, Perempuan Indonesia bisa berkontribusi penuh untuk memajukan bangsa melalui kebijakan - kebijakan yang nantinya dapat ia ciptakan.

Hal senada juga disamapaikan oleh Elianora Ingkuk. Mahasisiwi Jurusan Manajemen Udayana ini mengamini pendapat rekannya itu.

Kata Elionora " Benar, bahwa perempuan tak hanya sebagi IRT saja, akan tetapi Perempuan juga bisa menjadi seorang Pemimpin".

Mahasiswi asal Manggarai Barat ini lebih jauh menjelaskan, seperti di beberapa periode yang lalu, di mana negara RI kita ini, pernah di pimpin oleh kaum hawa yaitu ibu Presiden Megawati.

Sambungnya, kemudian contoh lain lagi di beberapa daerah di Indonesia, ada Bupati dan Gubernur perempuan. Tandasnya.

"Keterwakilan perempuan dalam pemilihan gubernur, kelak diharapkan mampu menyuarakan aspirasi perempuan khususnya perempuan NTT. Dilain sisi keterwakilan mereka dapat menghilangkan stigma bahwa politik adalah ranahnya kaum laki-laki saja". Tutupnya.

Untuk diketahui bahwa, belum lama ini Direktur Eksekutif perkumpulan untuk pemilu dan Demokrasi (perludem) mengatakan keterwakilan perempuan dalam pilkada tahun 2018 mengalami penurunan dibandingkan dengan pilkada sebelumnya.

Mereka merilis bahwa ada 123 calon perempuan di pilkada tahun lalu apabila dibandingkan pada pilkada 2018 jumlah calon perempuan menurun 0,3 persen.

Pada dasarnya keterwakilan perempuan memang sangat diharapkan karena perempuan  mempunyai kedekatan tanggung jawab empati terhadap persoalan domestik dan juga perempuan memiliki tingkat kepedulian yang tinggi  terhadap masalah-masalah lokal.

Partisipasi calon perempuan dapat mewakili perempuan yang ada di NTT dan dapat  menyuarakan adanya kesetaraan gender sehingga tidak ada lagi diskriminasi terhadap kaum perempuan.(RN/MN).