Narasi Panjang: Marjin in Story and History
Cari Berita

Narasi Panjang: Marjin in Story and History

MARJIN NEWS
30 January 2018

Tetaplah menjadi pelaku sejarah masa depan. Lukislah bila senja selalu merayumu, bernyanyilah jika patahan daun mawar gugur di musim semi, bersyairlah jika pena memangggilmu (Foto: Tini Pasrin)
Kalian tahu? Ketika kita benar-benar jatuh hati maka akan sangat sulit untuk berpuisi. Yah, menggabungkan angin untuk bertemu utara hanya sekedar ingin mengumbar perasaan itu susah. Seakan menggeser kapal ke tepian. And now i feel that.

Tapi mengapa aku memilih memberi diri dirayu tangan yang digerakkan hati untuk menjual cerita dan sejarah ini pada kata? Dalam film "RELATIONSHIT" pemeran utamanya yang adalah penulis berkata "kunci kesuksesan menulis bukan hanya soal meracik kata, tetapi kejujuran di dalam racikan itu."

Dan jujur aku ingin menulis dari setiap getaran, gertakan bahagia, dan pengalaman yang hadir di setiap kernyitan dahi melihat kejutan yang hadir pada setiap hari di marjinnews.com. saya belajar bahwa cinta dan komunikasi adalah 2 hal yang harus berjalan beriringan. Di marjin yang lebih suka ku sebut rumah, hal sesederhana apapun bisa dibawa menjadi hal spesial.

Kata "salam kemana saja", "monitor", "ganti", "target terkunci" dan sejenisnya mungkin hanya bisa dipahami anak marjin sendiri. Tapi jujur saya tidak mau membingungkan suguhan yang teruntuk setiap pribadi ini. Jadi tidak usah bingung. Bingung itu berat. Biar aku saja.

Jika ingin mengkrucut aku lebih suka melihat marjin seperti Piramida Mesir. Tapi bukan soal tatanya yang sering dianalogikan dalam pendidikan politik sebagai sebuah sistem yang berpusat pada satu orang lalu memiliki subnya masing-masing lalu melebar. Ya, bukan tata cara itu yang dipakai di marjin. Tidak ada yunioritas dan senioritas.

Tidak ada yang benar-benar paham sampai ditopang untuk sama-sama saling mengisi. Tak ada pria dan wanita. Yang ada hanyalah makhluk Tuhan yang normal. Meracik kata membius pandangan. Permainan kata yang gampang juga ditemukan pada  kamus gombal berkelas menyelinap masuk sebagai candaan berbobot untuk menghidupkan suasana. Ada yang pernah baper karena permainan kata-kata sendiri di marjin? Iya, banyak.

"Journalist of marjinnews" adalah group Whats App berisi anggota marjin sendiri. Marjin memang istimewa. Formalitas itu selalu dikemas kreatif bertopeng kata-kata yang tidak pernah menggurui. Semua dipersilahkan memainkan peran sesuka hati dan hati tak pernah terganggu. Dengan sendirinya pasti paham pembicaraan ini mau diarahkan kemana.

(Bahkan berbicara begini kalau mengingat anak marjin yang membaca pasti ini terkesan formal. Karena biasanya anak-anak marjin kalau berbicara tentang Merauke pasti pesiar-pesiar dulu ke Bali mencubit surga disana, pergi mencuri sajak di Ruteng dan Makassar lalu ke Yogya; tapi bukan sibuk mencari koalisi untuk momen pilkada, terus coba-coba mencuri monas di Jakarta bahkan pesiar ke Sumba mengintip "susah signal", ke Malang mencuri rasa. Azeekk. Padahal intinya cuma 1, yah bertepi ke Merauke. It's different guys).

 Kalau ditanya tentang ada yang cinlok (cinta lokasi)? Tidak ada. Karena hampir semua anak marjin berjauhan. Menjaga Indonesia dari Sabang-Merauke. Iya, cinlok tidak. Tapi kami menjalin LDR yang menggairahkan bahkan sebelum jadian dan memang tidak ada yang pernah benar-benar jadian. Japri (chat pribadi; yang sampai sekarang saya masih bingung diambil dari mana untuk menyebutnya japri) itu menarik ketika kita membiarkan diri larut pada kata sendiri. Sedikit terlelap dan tidak lupa siap-siap bangun mewujudkan mimpi-mimpi. Nice.

Dari Sabang-Merauke semua punya cerita dan caranya sendiri dalam menyajikan diri. Yup semakin berbeda semakin kaya. Dari marjinnews saya belajar betah jomblo. Why? Tanpa sadar melihat keunikan itu dunia terasa tidak sesempit yang bisa dibuat google. Dunia ini terlalu luas untuk menangisi kecemasan akan masa depan. Jika nanti engkau lelah pergilah ke hutan sekalian cari kayu bakar daripada sekedar pergi teriak melepas diri dan pergilah ke laut mencari ikan dari sekedar berlari memungut pasir berserak (Abdur; SUCI).

Dunia ini luas untuk mencari pengalaman di lembah yang bisa kau gunakan untuk menjinakkan buaya-buaya, mengantar diri ke padang berumput hijau yang dibaringkan dalam kedamaian ketika kamu sadar ada pribadi yang diam-diam kau semogakan selalu dalam do'amu dan diaminkan dalam doanya. Doa mereka diantara selipan doa-doa lain.

Di marjin kekuatan doa itu disajikan dalam bentuk keyakinan positif, saling menegur ketika tiba di persimpangan jalan dan beauty of pray itu hadir ketika saling bertamu dalam doa di setiap pasrah dan lantunan masing-masing. Yah hidup terlalu singkat untuk diisi tanpa gerak. Kualitaskan diri dan siap-siap membawa diri kemana saja.

Sengawur apapun anak marjin itu adalah salah satu trick agar segala hal tetap menarik. Menjaga eksistensi akhirnya dipahami bukan hanya sekedar buat berita, publish dan selesai. Tetapi ada tanggung jawab lebih setelah itu. Mendiskusikannya bersama. Kadang membuat masalah baru tanpa solusi tapi tetap memberi jawaban dengan pesan yang tersurat dari masalah itu sendiri.

Tetap memberi jarak untuk membawa diri pada kesendirian tentu dilakukan anak marjin. Walau tanpa kesepakatan tetapi setidaknya semua sadar setiap yang kadang hilang  hanya mau kembali membawa karya dan cerita. Tidak ada yang benar-benar hilang. Jarak itu hadir bahkan kadang dibuat iseng untuk sekedar bercanda sejauh mana kita dirindukan dan dicari keluarga marjin.

Tapi menyadari perasaan cemas tidak sebercanda itu waktu 1 hari terlalu lama untuk tidak  pulang ke rumah. Intinya jarak memberi definisi sendiri. Dalam film Indonesia "3 cm Di Atas Langit" kisah persahabatan sejati mereka pada akhirnya mengambil keputusan untuk keluar sedikit dari zona nyaman mereka selama 3 bulan.

Alhasil keputusan itu membuahkan hasil. Yang belum selesaikan skripsinya menguji diri dan akhirnya lulus setelah bertahun-tahun dan hal menarik lainnya. Mereka tidak berlari tapi pada akhirnya yang mengisi sesuatu yang kosong di hati juga selalu kembali seutuhnya ke diri sendiri. Dia menghadirkan keheningan untuk refleksi diri dan berkarya. Diam itu emas. For sometime.

Menjadi pendengar yang baik sangat diajarkan di marjin.  Sangat penting untuk membuat semua orang merasa  diutamakan. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Semua itu tanggung jawab bersama. Di marjin ketika sudah siap mendengarkan, percayalah pada ujungnya juga pasti akan ketagihan menjadi pembicara setia dan pemberi semangat bersamaan.

Berbaur dengan hal-hal yang tidak pernah dilirik sebelumnya akan membuat rinso anti noda berguna. Yah itu terlihat seperti iklan di TV dimana ibu membiarkan anak-anak bermain bola di tengah lumpur pada musim hujan untuk belajar bahwa satu tendangan yang berhasil adalah bahagia besar. Bahagia itu sederhana. Ibu adalah nurani dan guyuran hujan adalah tantangan baru untuk dinikmati yang menghadiahkan lumpur pada tendangannya. Jangan takut membaur dengan zona baru.

Membangun kedekatan emosional dalam sebuah media menjadi fondasi dasar dalam hidup dan gairahnya. Sampai pernah tidak peduli apa yang disuguhkan marjin dibaca atau tidak saking nyaman dan sadar mengetahui bahwa anak-anak marjin adalah orang-orang bertahan dengan kesetiaan tinggi. Untuk bertumbuh bersama di dalam media.

Namun, melebihi apa yang disuguhkan Dilan di awal 2018 saya hanya mau bilang mencintai dan mensyukuri apa yang sudah dipercayakan ke dan di marjinnews membuat kritikan-kritikan segar, masukan, tulisan yang diarahkan menjadi lebih baik dari pemula menjadi pemuja bahkan kadangkala kritik tanpa solusi tentu tidak dimakan mentah-mentah. Semua diterima bersama walau kadang di balik layar ada yang susah awalnya menerima kritikan mengingat usaha-usaha untuk mengkualitaskan bersama marjinnews yang tentu sakit seakan gampang saja diberi kritik tanpa solusi.

Tapi  sedikit celoteh itu hanya 1 menit dari  60 menit, 59 menit berikutnya digunakan untuk diam-diam memikirkan solusi, berbenah  diri dan akhirnya memberi diri diproses lagi dan lagi.

Iya, marjinnews adalah wadah anak muda. Iya, marjinnews berisi anak-anak muda ingusan yang membuka diri terhadap setiap anak-anak bangsa yang mau diajak dewasa bersama dalam karya.

Bukan diajar dalam porsi digurui satu sama lain. Tetapi dirangkul dengan rasa kasih yang dibungkus kekeluargaan. Marjinnews hebat tapi kuatnya bukan karena sekedar ada banyak pribadi-pribadi luar biasa seperti mantan presidium PMKRI, orang-orang yang ahli di bidang komputer, anak-anak pencetus organisasi, berani keluar dari zona nyaman di usia belia; ke luar negeri dan akh, tak habis diceritakan. Iya, bukan karna alasan-alasan ini. Semua hanya merekat dalam kedekatan emosional yang diusahakan bersama.

Hanya usaha itu mungkin diusahakan pada awalnya karena saya yakin sekarang semua tidak butuh usaha banyak lagi. Hanya harus siapkan secangkir kopi pahit untuk pertemuan termanis. Menyiapkan jempol dan bergulat di sosmed. One day i believe can release that. We will meet. Amen.

Ketika tahu kunci komunikasinya hanya harus menggeser sedikit tawa dan mengeluarkan apa yang ada dipikiran. Iya, tidak akan dihakimi. Semua begitu soalnya. Buka-bukaan. Bahkan luka bisa jadi tawa, bencana jadi canda apalagi kata-kata puitis dan sastra dibalut politik atau kurang durasi dari kembaran Marion Jola. Semua hal di bawa ke langit ke 7. Mengembun dan siap menjatuhkan tetes gairah yang menyerap di ujung bumi dan bertumbuh.

Satu tahun usia marjin tetapi serasa sudah berabad-abad mengenal dan menapaki jalan ini bersama. Segala pergolakan; menangis, tertawa, kecewa, terluka, resah bahkan sampai pada tahap ingin mengundurkan diri pada anggotanya sudah pernah dirasakan bersama. Tetapi seperti benciku terhadap pion.

Keluar dari filosofi pion yang selalu  menarik. dia kecil tapi tak pernah mundur. Fokusnya 1, yaitu ke depan. konsistennya jelas. Tetapi 1 hal yang membuat saya benci dengan pion adalah dia tidak pernah keluar dari zonanya. Hal itulah yang membuat dia tidak akan mengerti sensasi bahagia dari lekukan kuda atau permaisuri yang merdeka bahkan sensasi seorang raja yang  berarti lalu butuh dilindungi banyak orang, bahkan menteri yang siap meluruskan setiap sisi.

Semakin banyak sensasi, akan semakin menarik minat untuk dimainkan, dipertahankan dan diberi peran. Itulah mengapa pion tidak selalu disesali jika sewaktu-sewaktu harus dikorbankan. Iya, semakin banyak sensasi semakin bergairah kita mencinta. Saya kenal itu di marjinnews. Keluar dari fase itu bersama-sama membuat saya yakin apapun yang akan dilewati ke depan adalah tantangan yang ditebus bersama teka-tekinya. Terima kasih rumah, keluarga, cinta dan doaku marjinnews.com. Tetap melebarkan sayap.

Salam karya anak muda! Tetaplah menjadi pelaku sejarah masa depan. Lukislah bila senja selalu merayumu, bernyanyilah jika patahan daun mawar gugur di musim semi, bersyairlah jika pena memangggilmu. Berteriaklah jika dunia ingin kau ajak berkaca. Dunia ini panggung kita. HADAPI! Believe in us. Believe in your self!

TEMUKAN, CIPTAKAN, GEBRAK!!
SALAM KARYA!!

Sampai jumpa di pertemuan termanis dari kopi terpahit

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang