Namanya Enun

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Namanya Enun

MARJIN NEWS
24 January 2018

Dalam waktu aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Dia mengajariku bagaimana menepis dan menetralkan rindu. Dia mengajariku cara membahasakan hujan di musim dureng agar tidak membencinya, mengajariku untuk mengartikan daun yang jatuh di musim gugur (Foto: Istimewa)
Matahari sudah meninggi saat aku melepaskan selimut yang menghangatkanku. Cahaya matahari, berhasil menempel di kaca jendela dan sedikit menghangat kain gorden jendela kamar. Aku berusaha untuk bangun yang walaupun kepala masih sedikit pusing. Perjalanan yang sangat melelahkan dari Manggarai sampai Maumere.

Namun, bagaimanapun juga aku menikmati perjalanan ini walaupun capek dan badan terasa sakit. Aku masih duduk termangu di atas tempat tidurku. Di kamar makan yang letaknya tidak jauh dari kamarku sangat ramai. Bunyi sendok makan sangat kedengaran menandakan ada orang yang lagi sarapan pagi. Tapi perutku belum memintanya untuk bergabung dengan perut lain yang sudah tidak kuat lagi dan selalu merengek dengan tuannya.

Ah.. biarkan saja mereka melakukan aksinya. Aku meraih hp di atas meja yang sedari tadi berbunyi pertanda ada pesan masuk. Mungkin saja bapa, mama, adik atau keluarga yang menanyakan tentang keselamatanku dalam perjalanan. Tapi yang muncul no baru, “Nana sudah sampai Maumere ka?”. Siapa? Aku mengamati dan berusaha untuk mengingat. Ah.. dia. Wanita yang meninggalkan senja saat malam membawanya pergi. Dia yang pernah hadir dalam mimpiku. Dia yang sedikit kejam dalam rindu. Dia. Aku ingin bercerita tentang dirinya.

Rinai hujan bulan Nopember 2014, aku mengartikannya sebagai sebuah kebahagian saat itu dan saat ini adalah kerinduan. Bukan merindukan rinai hujan di tahun itu, tapi pertemuan singkat yang mengharuskan aku untuk melupakannya. Namanya Enun. Perempuan bermata cokelat, rambut ombak bukan gelombang, bermata seksi dan kulit hita manis adalah mahasiswi fakultas keguruan di salah satu perguruan tinggi di Flores.

Pada mulanya, pertemuan ini berawal di toko buku. Saat itu aku hendak membelikan sebuah buku berjudul “Tidak Terlupakan”. Sampai di kasir aku melirik judul yang ada ditanganya. Judul yang sama. Kami saling menatap. Aku berkesempatan untuk melahap bola matanya dan berzinah dengan senyumanya. Kami melangkah keluar dari toko buku sacara bersama sambil menjinjing plastik yang berisi buku. Aku menyapanya “Enu. Kita berdua membeli buku yang sama?”.

Pertanyaan yang konyol. Tapi aku yakin, ini cara yang tepat untuk melihat gigi putihnya yang berbaris sangat rapih dibalik bibirnya saat senyumannya merekah. Rinai hujam terus menjatuhkan embun yang menimpa kepala kami.

“Ia kaka”. Jawabnya singkat. Petir menggelegar memecah kesunyian hati dan mengusik ketenangan batin, “Musim dureng”. Katanya.

“Ia, enu. Aku selalu siap menjadi payung dan mentel agar dirimu tidak basah”. Aku menggodanya. Sekali lagi senyumannya tersembul dan gigi putihnya kelihatan. Aku tidak peduli dengan musim dureng jika dia memperbolehkan aku menikamati bola matanya dan berzinah dengan senyumnya.

Pertemuan singkat ini berakhir ketika kondektur bemo dari kejauhan menerikan carep..carep? dia menatapku, lalu pergi menuju bemo yang sudah menuggu. Tapi aku tidak berkecil hati dengan kondektur bemo. Dia hanya memberikan lima ribu rupiah, tapi aku memdapatkan no hpnya. Aku bangga dan bahagia. Aku bangga bisa berkenalan dengannya, setidaknya aku memiliki sahabat baru.

Waktu mengajari kami tentang arti sebuah persahabatan. Dalam waktu aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Dia mengajariku bagaimana menepis dan menetralkan rindu. Dia mengajariku cara membahasakan hujan di musim dureng agar tidak membencinya, mengajariku untuk mengartikan daun yang jatuh di musim gugur. Katanya, itu wajah alam yang diperlihatkan kepada kita. Singkatnya, aku mendapatkan banya hal dari pertemuan ini.

Chating di Wa (whatsApp) tidak terlewatkan dan komentar di facebook pun selalu menghadirkan rindu yang dalam. Persahabatan sungguh sangat berarti bagiku. Ada sesuatu yang lebih dibalik rasa persahabatan ini. Aku sangat menyadari hal itu.  Tapi aku berusaha untuk menyembunyikan dari padanya. Aku tidak mau dia kecewa jika aku mengatakan kepadanya. Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Kehadirannya sebagai seorang sahabat sunguh luar bisa bagikku.

Suatu sore, pada musim yang berbeda dengan pertemuan kami di kota dingin (Ruteng), dia mengunjungiku. Aku kaget sekaligus bahagia dengan kehadirannya. Artinya bagiku, persahabatan ini sangat berarti bagi dirinya. Di mana, dia mengorbankan waktu dan segalanya untukku. Dia menanyakan kabarku, kuliah dan hal-hal lain. Aku meresponnya dengan santai dan sedikit aku selipkan godaan kecil untuknya.

Senyumannya memperlihatkan gigih putih yang berbaris rapih. Aku merindukan senyuman ini. Aku merindukan bola matanya. Dan pada saat ini semuanya ada di depanku. Aku mengajaknya untuk menikmati senja di puncak sebelah atas seminariku. Kami menikmati pemandangan sore ini. Hening. Aku memperbaiki tempat duduk dan sengaja mengambil tempat di depannya. Agar aku leluasa menikmati semuanya yang ada padanya. Percakapan pun dimulai.

“Kaka, embun tidak membutuhkan daun untuk jatuh cinta” katanya. Aku tersentak dan berusaha mengerti apa maksudnya. Kata-kata ini sudah seringkali aku mendengarnya dan aku juga pernah membacanya pada sebuah buku, tapi lupa judul bukunya.

“Kaka, aku ingin jujur, aku tidak membutuhkan kedekatan yang lebih untuk jatuh cinta. Kehadiran kaka lewat kata-kata sudah sangat berarti bagiku. Aku memang salah dan tidak pantas untuk mengatakan ini. Karena aku baru tau kalau kaka sudah menjadi milik Tuhan”. Aku membiarkanya bicara dan berusaha untuk menjadi pendengar setia.

“Kaka, aku tidak ingin rasa ini dibuang ke laut lalu disiksa oleh ombak dan terdampar di pantai dalam keadaan tidak berdaya. Aku jatuh cinta dengan kaka”, matanya berkaca-kaca.

Aku memegang tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam lalu menatapnya dalam-dalam.
“Enu, semua apa yang enu rasakan dan apa yang enu katakan tidak ada salahnya. Tidak ada penghakiman di sini kecuali dalam diriku. Aku juga merasakan demikian. Tetapi aku meminta maaf untuk pertama dan terakhirnya, aku tidak mungkin menghianati Dia yang sudah aku pilih sebagai kekasihku.  Aku menghargai semua apa yang enu katakan dan itu adalah motivasi bagiku dalam menapaki krikil hidup yang aku lalui.”. Dia menangis. Lalu pergi meninggalkan senja yang setia menemani kami sebelumnya. Namanya Enun. Terima kasih untuk segalanya.

Oleh: Waldus Budiman
Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Puncak Scalabrini