Nafas Kanvas Andreas Bagian VI

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Nafas Kanvas Andreas Bagian VI

MARJIN NEWS
27 January 2018

Kenikmatan yang tak tertahankan kala dengan kebiasaannya mereka menutup mata sambil menyentu gelas kopi itu (Foto: Dok. Pribadi)
Sore itu Robertus yang merupakan mahasiswa seni diundang oleh Oktavianus untuk menikmat kopi sore di rumahnya. Di teras rumah itu nampak dia sedang duduk menghadap ke arah Barat. Itu adalah tempat paling indah untuk menikmati kopi karena bisa melihat merahnya senja yan berada di ujung.

Di dinding sebelah kiri sebuah lukisan yang berukuran lumayan berar digantung. Robertus sibuk memutar kepalanya, kadang kekiri, ke kanan atau atas bawah. Merasa tak puas dengan itu akhirnya dia mengambil lukisan itu.

“Hati-hati dengan lukisannya, itu peninggalan ayahku” kata Oktavianus mengagetkan Robertus. Saat itu dia telah meracik kopi untuk mereka, aromanya begitu wangi hingga kehangatan pun muncul dari bibir-bibir gelas itu.

“Silahkan di minum, maaf aku lebih suka rokok ketimbang kue untuk menemani kopi, lebih enak soalnya” kata Oktavianus

Keduanya pun mengambil gelas kopinya, Oktavianus mengambil sebatang rokok dan menghisapnya sambil menikmati kopi sore itu. Kenikmatan yang tak tertahankan kala dengan kebiasaannya mereka menutup mata sambil menyentu gelas kopi itu.

“Itu lukisan Andreas bersama ayahnya” kata oktavianus
“jadi, jadi akhirnya dia menemukan ayahnya?” tanya Robertus

Saat itu ketika luka karena di tinggal Elisabet masih membekas, Andreas memutuskan untuk berhenti melukis, rumahnya tak terawat bahkan dirinya pun tak dihiraukannya. Semuanya tampak begitu menyedihkan,tiap hari  kerjanya hanya kopi dan mengenang Elisabet.

Bahkan beberapa orang rela membayarnya mahal untuk sebuah lukisan namun yang mereka dapati hanya kebisuan yang ditampilkan Andreas. Masalah yang ada pada Andreas pun akhirnya terdengar oleh Soni, salah satu yang pernah bersama Andreas dan Elisabet.

Dia mengunjungi Andreas dan kembali membersihkan segala yang ada di rumah itu, namun Andreas hanya duduk dan diam di depan kanfasnya, sudah hampir setahun dia tidak melukis. Soni yang tahu banyak tentang Andreas pun hanya sedih melihat keadaan Andreas. Dia memutuskan untuk menulis dari rumah Andreas dan merawatnya.

Sore itu hujan turun, pemandangan yang begitu indah ketika senja dan pelangi menemani Andreas, segelas kopi disuguhkan Soni untuknya.

Hingga malam tiba ketika Andreas menyelesaikan ritualnya bersama kopi, antara sadar dan tidak sadar tiba-tiba dia memikirkan seseorang, bukan Elisabet.
“Aku ingin melukis wajah ayah”  katanya pelan

Mendengar hal itu Soni pun tersenyum melihat perubahan pada diri Andreas
“Ayo, lanjutkan minumnya, takut kopinya dingin, tidak bagus kita menikmati kopi yang dingin” kata Oktavianus

“Baiklah, tapi jangan buat saya penasaran dengan Andreas” kata Robertus

Selama hampir dua bulan Andreas melukis wajah ayahnya namun tidak berhasil, dia tak mendapati gambaran wajah ayahnya, dalam mimpi pun dia tak menemukan apa-apa. Melihat hal itu Soni pun menyarankan agarAndreas meminta bantuan para seniman lain untuk mendapatkan gambaran wajah ayahnya.

“Aku pernah mendengar kalau di di labuan Bajo ada seorang pelukis tua, banyak yang mengatakan lukisanya begitu indah.  Mungkin kamu bisa menemuinya untuk membantumu” kata Soni
Mendengar hal itu Andreas pun lansung menemui  pelukis itu.

Sebuah cobaan yang berat kala Andreas dengan keegoisannya bertemu dengan lelaki tua itu yang juga memiliki ego yang tinggi. Selama hampir 4 hari mereka bertemu namun tak ada kata yang terucap. Soni pun harus turun tangan untuk mengatasi masalah pada kedua pelukis aneh itu.

“Tolong ambilkan rokok itu, rokokku sudah habis” kata Oktavianus

Dengan cepat Robertus lansung mengambil rokok dan memberikannya.

“Tenang, malam masih panjang dan mungkin kita butuh kopi lagi sebagai teman untuk malam ini” kata Robertus

Soni menjelaskan dengan baik tentang keadaan pemuda gila itu yang tak ingin berbicara, dia tak memberitahu namanya dan hanya memberitahukan keinginan Andreas.

“Silahkan minum, sore-sore begini paling enak kalau kita menikmati kopi,  namaku Maksimus” kata pelukis tua itu

Andreas tidak menjawab dan tidak memberitahukan namanya pada pelukis tua itu.

"Baiklah, jika engkau tak mau memberitahukan namamu, akan ku beri kau julukan pemuda gila saja" sambung pelukis tua itu sambil tersenyum. Andreas hanya diam, tanpa ekspresi dia meikmati kopi racikan pelukis tua itu.

Sejak saat itu pelukis tua itu hanya memanggilnya dengan julukan pemuda gila.

Andreas pun banyak menceritakan tentang kisah hidupnya mulai sejak kecil hingga ia dewasa, dia menceritakan semua kisahnya dan perasaanya pada Maksimus. Mendengar hal itu Maksimus hanya diam, kadang dia tidak bisa berbuat banyak ketika air mata Andreas jatuh kala mengenang kehidupan di masa kecilnya tanpa kehangantn dan kasih sayang seorang ayah dan ibu.

“Lantas siapa yang membesarkanmu?” tanya Maksimus
“ku diberarkan oleh kanfas, cat yang menafkahiku dan kuas adalah sahabatku” jawab Andreas singkat
“sebenarnya aku juga ingin melukis seseorang”  kata Maksimus
“Siapa” tanya pemuda gila yang tak lain adalah Andreas

Maksimus pun menceritakan semua kisahnya pada pemuda gila itu, aku dulu pernah jatuh cinta dan menikah. Aku jatuh cinta pada seorang gadis cantik yang bekerja di kantor pemerintahan.  Aku begitu mencintainya dan kamu saling mencintai.

Namun sayang cinta kami tak direstui oleh orang tuanya, orang tuanya menginginkan menantu yang memiliki pekerjaan tetap dan jelas apa pekerjaannya. Bagi mereka seni bukan pekerjaan dan tak dapat menghidupi seseorang. Kemauan yang begitu kuat dari ayahnya membuat kami haus berpisah. Tapi saat itu kami sudah sering berstubuh, saat dia pergi meninggalkanku dia sudah dalam keadaan hamil. Dia mengandung anakku, anak kami.

Hampir dua tahun aku mnecari mereka untuk memasikan keadaan anakku namu sayang  mereka telah membuangnya. Bagi mereka itu adalah bayi orang gila yang nantinya tumbuh menjadi gila seperti aku.

Sudah hampir 25 tahun aku mencari anak itu tapi bagai di telan bumi anak itu menghilang entah kemana. Tempat terakhir yang aku kunjungi adalah biara yang merupakan tempat tinggalnya semasa kecil hingga remaja. Namun sayang suster itu hanya menitip sebuah lukisan yang pernah ia buat semasa kecil dulu.

Mendengar hal itu pemuda gila itu pun penasaran akan lukisan itu

“Bisa ku lihat lukisannya?”  tanyanya

Maksimus pun memberikan lukisan itu. Melihat lukisan itu Andreas kembali menangis. Semuanya tampak begitu menyakitkan bagi kehidupannya.

“Ini lukisanku saat aku masih kecil, kuberikan lukisan ini untuk Suster Bergita” kata Andreas
“Jadi kamu”  kata Maksimus kaget yang dipotong Andreas
“Yah, aku Andreas anak dari orang gila yang kau buang itu” kata Andreas

Maksimus pun memeluk Andreas erat. Pertemuan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti Andreas beranjak dari pelukan ayahnya dan pergi meninggalkannya.
Sejak saat itu mereka tak lagi bertemu, ayahnya Maksimus melukis sebuah lukisan tentang harapannya dari dulu, yaitu menimang seorang anak.

Sedang Andreas kembali diam dan kini dia melukis wajah ayahnya, dia melukis dirinya sendiri yang sedang menggendong kakek tua dan itu ayahnya.

Sejak saat pertemuan itu keduanya saling merindukan namun sayang tak ada yang ingin memulai kembali pertemuan itu.

Hingga suatu hari Soni datang membawakan sebuah berita  bahwa Maksimus telah meningga dunia.
Mendengar hal itu Andreas hanya tersenyum namun perlahan air matanya jatuh. Begitu menyedihkan dan sangat mengiris hati

Seminggu setelah kematian ayahnya dia  pun pergi ke tempat peristirahatan terahkir ayahnya.

“Terima kasih terlah meninggalkanku sejak kecil, aku hanya ingin mengucapkan setidaknya walaupun hanya sekali kita bertemu dalam hidup ini tapi wajahmu akan selalu membekas dalam ingatanku” kata Adreas di atas makan ayahnya.

Setibanya di rumah, Andreas medapat sebuah lukisan dari ayahnya. Lukisan itu diterimanya. Dia melihat bahwa lukisan mereka begiutu sama namun maknanya berbeda, Andreas pun memutuskan untuk menggambungkan kedua lukisan itu dalam satu lukisan dan ia tempelkan di dinding kamarnya. Kadang kalau melihat lukisan itu Andreas hanya tersenyum dan air mata kembali jatuh bersama sebuah kenangan.

“Lalu, bagaimana nasib Andreas” tanya Robertus
“Akan banyak cerita yang kau dapati dari gelas kopi itu” kata Oktavianus sambil berdiri dan menempelkan kembali lukisannya, Oktavianus hanya senyum melihatnya.

Robertus pun hanya tersenyum dan kembali mengambil catatan kecil di sakunya.

Taga, 23 Januari 2018

Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. ingi lebih dekat dengan penulis bisa melalui media sosial Facebook atas nama Arsi Juwandy, WA dengan Nomor 085338242730 atau bisa kunjungi blog pribadi Arsijuwandy@blogspot.com