Nafas Kanvas Andreas Bagian V

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Nafas Kanvas Andreas Bagian V

MARJIN NEWS
23 January 2018


Elisabet hanya tersenyum, tatanan senyum yang indah di pagi itu membangkitkan gairah Adam pada diri Andreas. Diletakannya gelas kopi itu dan memeluk Elisabet erat (Foto: Dok. Pribadi)
“Mengapa kamu tiba-tiba gelisah” tanya Andreas
“Tidak, aku hanya mau memastikan apakah tukang pos itu sudah pergi” kata Elisabet sambil melihat di sekeliling rumah, seperti ada seseorang yang sedang dia nantikan.

Pagi itu hujan, tak seperti biasanya hujan begitu dingin dan deras.  Andreas yang kepalanya penuh dengan kejenuhan tak menghiraukan kegelisahan Elisabet.

Pagi itu, seorang tukan pos mengantarkan sebuah surat untuk Elisabet, entah mengapa saat membaca surat itu, Elisabet tiba-tiba merindu dan merasa gelisah.

Hujan makin deras, Andreas merapatkan jeketnya dan dalam sekejap aroma kopi memenuhi rumah itu.

"Kopi adalah suguhan yang indah unntuk mengusir  dingin” kata Andreas

Elisabet hanya tersenyum, tatanan senyum yang indah di pagi itu membangkitkan gairah Adam pada diri Andreas. Diletakannya gelas kopi itu dan memeluk Elisabet erat. Rintik-rintik itu seperti sebuah alunan nada saat dengan keperkasaan Andreas mencumbui Elisabet.

Namun, ada yang berbeda saat percintaan pagi itu, tanpa melawan Elisabet hanya membiarkan Andreas mengaulinya, pikirannya saat itu hanya pada surat yang ia baca tadi pagi. Dalam ketidak sadaran antara rintihan dan sakit, Elisabet mengucapkan sesuatu

“Leonardo” katanya

Mendengar hal itu Andreas pun kaget, dalam sekejam gairahnya hilang

“Maaf aku bukan bermaksud” kata Elisabet yang kemudian di potong Andreas

“Tidak perlu meminta maaf, setidaknya dalam kebodohan kita, engkau telah memberitahuku  bahwa bukan hanya aku yang menggaulimu tapi juga dia”

“Elisabet, saat membaca surat ini somoga hari masih pagi, ketahuilah aku adalah diriku yang ada dalam penamu, aku tak pernah mati tapi aku telah pergi ke puisi lain. Disana aku dibesarkan dengan kata dan dawai. Aku berharap engkau tak menceritakan kepada siapa pun tentang surat ini. Besok tunggulah aku kembali depan pintu, aku ingin memberimu sesuatu”

Itu adalah surat ke tujuh yang Elisabet terima selama bulan ini, tanpa nama tanpa keterangan,  surat itu hadir mengusik Elisabet.

Kadang saat senja ketika menikmati kopi, Elisabet sering tersenyum sendiri dan tak lagi rutin menyuguhkan kopi untuk Andreas.
Dan Andreas hanya sibuk membayangkan bagaimana rupa ayahnya. Dia ingin melukis ayahnya dengan pose yang telah ia rindukan sejak kecil.

“Menantimu adalah keputusan terindah dan ujian terberat yang Tuhan berikan ketika jarak memisahkan kita”

Kali ini air matanya jatuh membasahi surat yang dipegang itu. Kembali ingatan Elisabet akan sosok yang dicintainya. Itu adalah puisi yang pernah Leonardo berikan dulu.

Malam itu, penuh bintang, rembulan begitu sempurna dan burung hantu sibuk mencari mawar untuk pasangannya.  Seperti biasa, Andreas dan Elisabet selalu di depan teras menikmati segelas kopi

“Sudah hampir sebulan aku melihatmu sering menyendiri, ada apa denganmu” tanya Andreas sambil menghisap sebatang rokok

"Leonardo, ya dia belum meningal” kata Elisabet

Mendengar hal itu Andreas hanya diam, tak ada kata setelah itu. Bibir mereka masing-masing sibuk dengan gelas kopi dan dalam sekejap dingin seperti menjauh hanya dengan aroma pahit itu

“Pagi ini, aku hanya ingin mengatakan ,dimana pun kamu berada aku akan selalu membuatmu tersenyum, akan selalu ada di sisimu, kau selalu dalam penaku yang selalu gores di atas putih. Mulai sekarng kita punya perjalan jauh, aku membutuhkanmu sekarang karena kaulah malaikatku, aku mencintaimu dan aku berharap kita dua akan menyatu. Pergilah ke tempat terakhir kau melihatku, aku menungumu”

Saat membaca surat itu, Andreas menangis sama seperti Elisabet. Keduanya saling menatap dan sesekali Andreas mengecup keningnya

“Aku mencintaimu Andreas, kali ini aku mohon restuilah kepergianku, aku berjanji akan kembali. Itu pasti” kata Elisabet yang perlahan lepas dari pelukan Andreas.

Di depan pintu Andreas hanya menatap kepergian Elisabet yang perlahan di raib kabut-kabut tebal.
Sesekali ia lemparkan senyum saat Elisabet menoleh kepadanya.

Selama berbulan-bulan Andreas selalu menunggu kedatangan Eisabet seperti menungu sesuatu yang tidak pasti namun selalu disemogakan olehnya.

Tak ada lagi yang merawat rumah itu, tak ada lagi yang rutin meracik kopi untuknya. Kadang ketika ia meraciknya sendiri ada kepahitan yang ia rasakan.

Pernah di suatu sore, Andreas melihat sosok Elisabet, digapainya perlahan namun sayang itu hanya imajinasinya.

Yang lebih menyedihkan ketika sepasang kekasih yang hendak menikah meminta supaya Andreas melukis wajah kekasihnya sebagai mas kawin, namun sayang yang mereka dapati hanya keambiguan Andreas. Dia tak lagi melukis dan hanya menikmati kopi. Tikus seperti telah bebas dari penjajahan karena telah menguasai kastik kecil Andreas. Dan andreas yang kini mengalami masa penjajahan, penjajahan karena cinta.

Dia terus menunggu Elisabet yang telah pergi, baginya suatu saat Dia pasti kembali untuk mengubah lukisannya menjadi kata-kata indah.

*******
Di dalam rumah, Robertus sibuk mengambil makna sebuah lukisan, lukisan yang begitu sederhana namun sulit di definisikan, ada sebuah rahasia di dalam lukisan itu.

Taga,  20 Januari 2018

Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. ingi lebih dekat dengan penulis bisa melalui media sosial Facebook atas nama Arsi Juwandy, WA dengan Nomor 085338242730 atau bisa kunjungi blog pribadi Arsijuwandy@blogspot.com