Nafas Kanvas Andreas Bagian IV

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Nafas Kanvas Andreas Bagian IV

16 January 2018

Bulan ini bulan Februari, bulan petaka bagi petani Manggarai karena dureng yang tak pernah mengasihani mereka (Foto: Dok. Pribadi)
“Ada yang ingin bertemu denganmu” kata Elisabet
“Siapa?” tanya Andreas
"ku” kata pemuda itu.
“Ya, dia adalah anggota keluarga kita yang baru, sekarang dia akan bekerja di sini membatu semua pekerjaan kita. Soni kamarmu ada di belakang” kata Elisabet.

Sama seperti Andreas, lelaki itu diam. Hanya Elisabet yang berbicara di antara keambiguan mereka. Setelah beberapa saat Andreas kembali melukis, Elisabet kembali bercumbu dengan kata-kata dan Soni lelaki pendiam itu sibuk membersihkan kastil yang dibangun oleh Andreas.

Bulan ini bulan Februari, bulan petaka bagi petani Manggarai karena dureng yang tak pernah mengasihani mereka. Dalam kesibukan masing-masing hanya Soni yang setia menyuguhkan kopi bagi mereka.

Sudah hampir sebulan Andreas menikmati kopi yang bukan di racik Elisabet. Tak seperti biasanya, Andreas seperti semakin menggila dengan kopi buatan Soni.

“Ada yang berbeda dari kopimu”  kata Andreas kepada Soni yang saat itu sedang meletakan cangkir kopi di meja kecil di depan teras.

“Aku hanya meraciknya dengan penuh perasaan” kata Soni dan kemudian meninggalkan mereka berdua.

Seperti sebelumnya, setelah semua pekerjaan selesai, Soni kembali mengurung dari dalam kamarnya. Pernah sesekali Andreas bertanya kepada Elisabet tentang kemisteriusan Soni tapi yang di dapat hanya gelengan dari Elisabet.

Sudah beberapa hari  Soni menampilkan kegelisahannya dalam kastil kecil itu. Sedangkan Andreas sibuk membaca sebuah buku kecil dan melukis sesosok dari buku itu. Dan Elisabet hanya bingung melihat mereka berdua yang sibuk dengan kemisteriusannya.

“Ada yang berbeda dari kopimu sore Soni, sepertinya terlalu pahit di lidahku ” kata Elisabet
“Aku punya sesuatu untukmu, semoga kamu menyukainya” kata Andreas sambil memberikan sebuah lukisan kepada Soni.

Air mata jatuh perlahan dari matanya ketika memandang lukisan itu. Andreas dan Elisabet bingung melihat kejadian itu.

“Maaf, aku tak bermaksud merusak dan mengungkit masalahmu, aku menemukan buku ini di atas meja, tulisanmu sangat bagus, kenapa kau tak buatkan buku saja?” tanya Andreas
“Dia adalah gadis cantik yang Tuhan ciptakan untuk membuatku bahagia dan sedih” kata Soni sambil merabah lukisannya.

Bersama air mata, kembali kenangan pahit itu muncul dalam sekejap menghancurkan hati Soni.
Aku tak mengerti apa rencana Tuhan hingga dia ciptakan diriku dan dirinya dalam sebuah kebetulan. Aku lahir dari rahim seorang ibu yang miskin . Keluarga Ibuku sangat dihormati di kampungnya, mereka adalah tetua Adat di kampung itu, namun sayang mereka justru membuang ibuku secara adat juga hanya lantaran sebidang tanah. Dan ayahku, dia sebatang kara. Ibunya meninggalkan dia saat masih berumur 3 tahun dan pergi menikah lagi. Petaka ini yang membuatku tak bisa berbuat banyak.

Untuk makan saja ibuku harus pergi pagi dan pulang malam.
suatu sore, saat aku baru saja menutup warung kopi, seorang gadis datang dan memesan segelas kopi. Saat itu Ruteng hujan dan kopi menjadi satu dari sekian hal yang dapat mengusir dingin.

Pada saat itulah dia jatuh cinta cinta dengan kopi racikanku, setiap hari dia selalu sempatkan waktu untuk bercinta dengan gelas kopiku. Entah itu pagi hari, siang hari, sore hari atau malam sekali pun, ketika otaknya di rasuki kopi dia lansung ke tempatku.

Kopi bukan saja membawa sebuah kenikmatan tetapi juga cinta. Cinta itu tumbuh bersama senyum yang selalu di tampilkan Soni.

Hampir dua tahun kami menjalin cinta, senja bagi kami adalah anurah karena saat-saat seperti itu kami bisa menikmati dengin sambil melihat bagaimana kegagahan mentari di pukul mundur sang malam dan kopi menjadi topik yang selalu kami bahas ketika senja. Dia pernah bilang, “dari sekian banyak kopi yang pernah kunikmati hanya kopi racikanmulah yang mampu membuatku jatuh cinta”.

Malapetaka justru hadir di tengah kami, hubungan kami rupanya terdengar sampai ke telinga ayahnya. Dia tak melarang kami untuk berhubungan tapi keadaanku yang membuatku sakit hati. Ini lebih dari Romeo dan Juliet. Ini adalah kepahitan yang pernah ku alami dan ku racik sendiri.

“Jesi, kamu sudah menyelesaikan pendidikanmu dan umurmu juga sudah matang untuk memulai kehidupan yang baru, suruhlah pacarmu agar melamurmu secepatnya” kata Ayahnya.
Bagi Jesi itu adalah kalimat terindah yang penah dia dengar dari ayahnya, tapi bagiku itu justru sebuah pisau yang siap mengujam di jantung.

Aku diam, tak tahu harus berbuat apa, ku utarakan semuanya kepada Ibu dan dia hanya tersenyum sembari meneteskan air mata.

“Nak, bukanya Ibu tak mau mengurusi hubungan kalian tapi lihatlah pacarmu itu, dia seorang sarjana dan terlahir dari keluarga yang tersohor, Ibu belum punya uang untuk mengurus semua keperluan itu. Kamu ingatkan, untuk makan saja ibu bahkan harus keluar pagi dan pulang sore hari” kata Sofia yang tak lain adalah ibunya

“Lihatlah keluarga kita, ayahmu ini sebatang kara dan ibumu telah di buang oleh saudara laki-lakinya. Kita mau mengharapkan siapa lagi untuk mengurus  hubungan kalian. Bapamu sudah tak punya harta, tanah yang diwariskan udah di rebut oleh paman-pamanmu. Bukan bermaksud melarangmu tapi pikirkanlah baik-baik” kata ayahnya

Mendengar perkataan itu, Soni seperti kehilangan sebuah harapan. Keadaan yang membuatnya tak bisa berbuat banyak dan harus memutuskan hal yang sulit untuk dijalankan.
Sore itu Soni sengaja menemuinya untuk mengatakan sesuatu hal.

“Jesi pacarku yang cantik, aku tak tahu harus memulai semua ini dari mana tapi bagiku engkau adalah penemuan yang paling hebat oleh cangkirku. Aku hanya berpesan jika kamu merindukanku, racik saja kopimu dan nikmati bersama senja sebab saat itu aku pasti ada di dekatmu” kata Soni

“Maksudnya apa?” tanya Jesi.
Tak ada jawaban, Soni pun pergi meninggalkannya. Tak ada yang tahu dia kemana, ayah ibunya hanya mendapati sebuah amplop yang berisi uang dan selembar foto milik Soni.

Dan Jesi, dia telah menjadi gila karena Soni. Sejak di tinggal pergi oleh Soni, hampir setiap jam dia meminum kopi. Kadang dengan amarahnya dia memecahkan gelas karena tak mendapati racikan kopi yang sesuai keinginannya atau mungki sesuai racikan Soni

Melihat Soni menangis, Elisabet memberikan sebuah tisu.
“Sekarang bagaimana hubunganmu dengan Jesi, apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu” tanya Elisabet.

Soni hanya tertawa dan seperti menikmati keadaanya sekarang.

“Kelak jika rupiah dalam saku ini cukup, akan ku buat sebuah kastil diperairan dangkal dan akan ku rawat semua yang ada di sana. Ku tanamkan pada keturunanku bahwa cinta adalah kemurnian dan uang tak akan ada maknanya” kata Soni

\Andreas hanya tersenyum melihat hal itu dan merungi kejadian yang ada di tanah tercintanya,

“Antara cinta dan pengorbanan harta dalah musuh pagi para pasangan hidup” kata Andreas
Sore itu senja tak lagi indah, kopi sore itu kental, sekental rindu yang tumbuh bersama pahitnya dan kenangan menjadi pemanis untuk pahit itu.

Lukisan wajah Jesi kini ada di dalam kamar Soni, dia mulai menulis bersama Elisabet dan Andreas sibuk dengan lukisan-lukisannya.

****
Suatu sore seorang tukang pos mengantarkan sebuah surat untuk Elisabet. Tiba-tiba air matanya jatuh berderai saat dia membaca surat dari seseorang yang tak di kenalnya.

Jauh di dalam kamar tiba-tiba Andreas merindukan sosok ayahnya. Dia ingin melukis wajah ayahnya yang sedang memeluknya.

Taga, 14 Januari 2018
Oleh: Klaudius Marsianus Juwandy
Penulis adalah mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Jika ingin lebih dekat dengan penulis bisa melalui media sosial Facebook atas nama Arsi Juwandy, WA dengan Nomor 085338242730 atau bisa kunjungi blog pribadi Arsijuwandy@blogspot.com