Menjadi “Terang Dan Garam” Sebagai Tema Natal Bersama Ikasamy Yogyakarta
Cari Berita

Menjadi “Terang Dan Garam” Sebagai Tema Natal Bersama Ikasamy Yogyakarta

14 January 2018

Dalam sambutannya, ketua panitia Narsi Semi menyampaikan, sangat berterimakasih kepada seluruh anggota Ikasamy karena tanpa kerja keras dan semangat kebersamaan acara tidak bisa di laksanakan (Foto: Dok. Pribadi)
Yogyakarta, marjinnews.com-Hujan segera tiba, rupanya belum juga bergerak untuk berjalan ke tempat yang dijadikan sebagai ruang refleksi. Narsi sebagai ketua panitia natal dan tahun bersama, sibuk dengan handpone kecil di tangan untuk menghubungi beberapa anggota lainnya supaya siap untuk berjalan.

Pada Sabtu (13/01), tepat pukul 17:10, rombongan berjalan. Tempat tujuan yang akan menjadi acara natal bersama kali ini adalah pantai Depok. Sesampai di pantai Depok, rombongan beristirahat sejenak, sambil menikmati kopi yang sudah disediakan oleh panitia. Dan menikmati suasana pantai yang indah.

Ikasamy adalah singkatan dari “Ikatan Keluarga Satar Mese Yogyakarta”. Wadah yang dibuat dengan semangat kekeluargaan tanpa mengurangi sisi akademik dan kegiatan sosial dalam berdinamika. Ikasamy di dirikan pada tahun 2013 oleh para senior yang sebagiannya masih menetap di Jogja, dan lainnya sudah berada di kota lain.

Suasana pantai yang indah membuat para anggota Ikasamy semakin semangat untuk memulai acara natal bersama. Rombongan kali ini memang tidak banyak, tetapi tidak mematahkan semangat kekeluargaan untuk menjalankan kegiatan.

Tepat pada pukul 20.00 acara dimulai, di sebuah gedung di tepi pantai Depok. Acara yang dibuka oleh MC dengan mengabstraksikan konsep besar dari acara natal dan tahun baru bersama tersebut. Dalam sambutannya, ketua panitia Narsi Semi menyampaikan, sangat berterimakasih kepada seluruh anggota Ikasamy karena tanpa kerja keras dan semangat kebersamaan acara tidak bisa di laksanakan.

Mahsiswa Universitas Mercu Buana tersebut melanjutkan, bahwa tujuan acara ini dibentuk bukan sebagai hura-hura. Tapi, ada identifikasi personal antara kita untuk merekosntruksi kembali terkait kehidupan bersama sebagai ikatan kekeluargaan. Menutupi sambutannya Narsi mengajak kepada seluruh anggota supaya lebih semangat dalam berdinamika kedepannya.

Sementara dalam sambutan Ketua Ikasamy Viki Banggut, menyampaikan acara ini secara konseptual bukan sekedar “supaya ada kegiatan”. Tetapi, acara ini dengan mengangkat tema menjadi terang dan garam, agar kita harus membatini konsep Yesus Kristus tersebut.

Natal dan Tahun baru bersama, dengan mengangkat tema ini mengajak kita untuk revolusioner dalam berpikir dan bertindak. Artinya, adanya progress dari wadah kita ini kedepannya. Sehingga tidak asal berkumpul, ungkap mahasiswa Akakom tersebut.

Setelah sambutan dari ketua Ikasamy acara dilanjutkan dengan makan bersama. Dengan di iringi lagu romantic yang sangat menghibur membuat suasana kekeluargaan semakin Nampak dalam acara kali ini.

Mengimani Terang dan Garam
Setelah makan, sudah saatnya memasuki acara inti. Tapi sebelum memasuki acara inti, ada beberapa hiburan yang disiapkan oleh panitia, yakni membawakan Stand up, puisi dan sebuah lagu. Stand up kali ini dibawakan oleh Stenly, dengan ciri khas yang sangat lucu membuat seluruh anggota yang hadir terhibur dan merasa bahagia.

Sementara dalam mengisi lagu, panitia membuka kepada forum, untuk siapa saja bisa membawakan sebuah lagu. Velin dan Vany, membawakan sebuah lagu dengan judul “kemseraan”. Suara yang merdu dari duet ini, membuat para anggota juga ikut bernyanyi bersama. Sementara puisi dibawakan oleh beberapa sastrawan mudah Ikasamy dengan puisi, romantisme dan semangat perjuangan.

Waktu sudah menunjukan pukul 22.15 menit, inti dari acara tentang refleksi bersama sudah dimulai. Dalam pembukaan refleksi, Ernesto Terredi menjelaskan bahwa refleksi kali ini, bukan untuk mencerca bagi sesama, tetapi memulai sesuatu yang baru dan mengimani “terang dan garam” sebagai suatu gerekan revolusioner dalam diri Kristus.

Senior Ikasamy, Hery Priyono dalam refleksi dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang reflektif : mengapa kita harus berkumpul? Pertanyaan ini cukup menggugat eksistensial anggota Ikasamy.
Penting dari berkumpul adalah, agar kita berdialektika antara sesama, dan ada hal yang menjadi nilai lebih dari dialektika tersebut, ungkapnya. Sementara satu senior juga Paul Parsego, memulai dengan menceritakan kisah hidupnya untuk dijadikan bahan refleksi bagi anggota Ikasamy lainnya.

Dari seluruh mengenai refleksi  kali ini, ketika di rangkumkan dan mengambil intisari dari seluruh pikiran anggota Ikasamy, Ernesto mengambil pepatah yang satir dari satu filsuf asal Slovenia, yaitu Zizek dengan kalimat “Aku menjadi aku karena kamu”. Mahasiswa STPMD tersebut menjelaskan kalimat ini mengajak kita, bahwa kita bukan manusia yang hidup sendiri di dunia.

Setelah seluruh rangkaian acara refleksi selesai, selanjutnya acara dansa bersama. Dalam acara tersebut, panitia mengajak anggota Ikasamy untuk mengikuti sehingga nuansa kekeluargaan selalu ada dalam beragam aspek kegiatan.

Seluruh rangkaian kegiatan hampir selesai, tiba saatnya untuk istirahat malam. Dan setelah istirahat, pagipun menyambut dengan senyum yang indah, dan keluarga Ikasamy tidak pulang begitu saja, tetapi ada satu kegiatan sosial yang dilakukan. Walaupun kecil tapi memberi efek posititif bagi seluruh anggota Ikasamy.

Jadilah Terang dan Garam!
Menjadi terang dan garam memang sulit tetapi perlu di praktikan sedikit demi sedikit. Memaknai ini, seluruh Anggota Ikasamy pergi ke tepi pantai Depok, tepat pukul 05:30 untuk mengangkut sampah plastic di pantai.

Panitia sudah meyiapkan beberepa kresek besar, seluruh anggota Ikasamy dengan semangat kekeluargaan mengangkat sampah. Hampir lima kresek besar sampah terkumpul, dan di angkut ke tempat sampah umum. Setelah kegiatan sosial ini seluruh anggota Ikasamy berkumpul untuk pulang. Seluruh rangkaian acarapun sudah selesai.

Dalam waktu yang berbeda ketika menghampiri satu senior Ikasamy yang tidak sempat mengikuti acara karena kesibukan, Fais Bo’a memberi statemen mengenai tema “Menjadi Terang dan Garam”. Menjadi terang dan garam sejatinya ingin mempertegas keberadaan sebagai pribadi yang senantiasa hidup bersosial.

Penulis buku “Pancasila Dalam Sistem Hukum” itu melanjutkan bahwa penting untuk “memancarkan” kebaikan bagi sesama kita. Dan mengenai kebaikan secara praktis Harbert Spencer menjelaskan kebaikan adalah kebergunaan bagi orang lain. (Humas IKASAMY)