Menakar Peran Mahasiswa Masa Kini
Cari Berita

Menakar Peran Mahasiswa Masa Kini

18 January 2018

Berbeda dengan siswa, hakekat terdalam yang melekat dalam diri mahasiswa adalah tanggungjawab intelektual, sosial kemasyarakatan dan tanggung jawab individual demi Bangsa dan Negara (Foto: Dok. Pribadi)
Mahasiswa. Apa sih mahasiswa itu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. Biasanya, seorang dikatakan mahasiswa jika memiliki Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) dari kampusnya.  Ya, definisi mahasiswa sesimple itu. Namun sesungguhnya, dibalik definisi Mahasiswa yang terkesan sederhana itu, terdapat makna yang lebih mendalam lagi artinya yang bukan hanya sekedar menempuh sebuah pendidikan terakhir secara formalitas.

Seorang mahasiswa bukan lagi seperti siswa SD, SMP, SMA. Seorang mahasiswa memiliki perbedaan dengan siswa pada umumnya. Kata "maha" yang mendahului kata "siswa" memiliki arti dan makna yang menandakan bahwa mahasiswa sedikit lebih tinggi tingkatannya dari siswa, lebih tinggi dalam aspek tanggung jawab, pelayanan, juga kadar intelektualnya.

Jika dulu saat masih menjadi siswa kita dituntut agar memiliki intelegensi yang tinggi di bidang akademik, selalu mendikte apa yang diterangkan oleh guru didalam kelas. Berbeda dengan siswa, hakekat terdalam yang melekat dalam diri mahasiswa adalah tanggungjawab intelektual, sosial kemasyarakatan dan tanggung jawab individual demi Bangsa dan Negara.

Menjadi mahasiswa bukanlah perkara yang mudah. Menurut hemat penulis, mahasiswa bukan soal menyelesaikan kuliah dan mendapat izajah sebagai bekal untuk bekerja. Mahasiswa tidak sekedar untuk menuntut ilmu semata tetapi lebih dari itu mahasiswa harus bertindak.

Mahasiswa diharapkan agar tidak terkungkung dan berdiam diri dalam mewahnya gedung dan ademnya AC ruangan kelas. Mahasiswa juga harus keluar dari zona nyaman dan meluangkan waktunya untuk menengok situasi yang terjadi di lingkungan masyarakat saat ini.  Sekiranya peran mahasiswa dalam melayani masyarakat seperti yang tertuang Dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi benar-benar diaplikasikan.

Dalam artian, mahasiswa bukan sekedar fokus untuk menekuni jurusan yang dia ambil atau juga fokus dalam penelitian semata, tetapi aspek pengabdian masyarakat juga harus diimbangi. Dengan kekhasan dan intelektual yang kita miliki sudah barang tentu itu modal yang cukup untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang menurut kita tidak pro terhadap rakyat.

Tetapi realita yang terjadi sekarang, eksistensi mahasiswa era milenial tidaklah sama seperti mahasiswa jaman dulu. Mahasiswa jaman sekarang lebih cenderung dengan sifat individualisnya dan sikap apatis yang sangat tinggi. Kita saat ini lebih cendrung menghabiskan waktu luang di warung-warung kopi untuk mengaksakses wifi daripada berdiskusi tentang fenomena-fenomena yang tidak lazim terjadi di lingkungan masyarakat.

Kita seperti dininabobokan oleh perkembangan teknologi. Dunia yang serba instan berhasil memanjakan kita. Ini menandakan bahwa terjadinya degradasi makna dan karakter mahasiswa itu sendiri, kita seperti kehilangan jati sebagai mahasiswa.

Kalau kita kembali membuka sejarah, bagaimana mahasiswa jaman dahulu begitu aktif dalam dinamika kehidupan sosial dan turut andil dalam setiap perubahan-perubahan yang membawa sesuatu yang berdampak positif terhadap masyarakat. Sejak tahun 1908 lahirnya organisasi Boedi Oetomo dipelopori oleh Dr. Soetomo dan kawan-kawan yang kemudian organisasi ini menjadi titik awal lahirnya gerakan-gerakan untuk menentang kolonialisme Belanda.

Kemudian pada tahun 1945 para pemuda, mahasiswa khususnya telah berhasil mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklambirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dengan cara menculik dan membawa Soekarno-Hatta ke tempat yang kita kenal Rengasdengklok.

Pada tahun 1972 dimana para mahasiswa lagi-lagi menunjukan eksistensinya dengan melahirkan Forum “CIPAYUNG” yang kemudian forum ini menjadi awal mulai munculnya gerakan-gerakan untuk menumbangkan rezim Soeharto. Kemudian pada tahun 1998 ketika ribuan mahasiswa turun kejalan menuntut agar presiden Soeharto segera lengser jabatanya karena kepemimpinannya dianggap otoriter dan menyengsarakan rakyat kecil.

Beberapa peristiwa besar ini telah membuktikan bahwa segala bentuk perubahan yang terjadi di bangsa ini tidak terlepas dari peran pemuda, mahasiswa khususnya. Menjadi pukulan telak bagi mahasiswa jaman ini dimana kita yang sudah menikmati jerih payah generasi pendahulu. Bila pada waktu itu, mahasiswa memilih diam dan apatis terhadap penindasan juga masalah yang terjadi di masyarakat niscaya perubahan tidak akan terjadi di bangsa ini.

Mahasiswa jaman dulu lebih memiliki rasa tanggung jawab kepada nusa dan bangsa yang sangat tinggi. Usaha-usaha mereka yang mengkritisi sistem pemerintahan dan penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah sampai mereka rela berkorban dan turun langsung untuk menyuarakan aspirasi dari masyarakat kecil yang tertindas dan belum merasakanya keadilan dari sistem yang ada.

Sejarah telah membuktikan bahwa golongan terpelajar ini memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara. Tingkat kepedulian mahasiswa jaman dulu dengan mahasiswa jaman sekarang sangat jauh berbeda. Ibaratkan langit dan bumi. Mahasiswa jaman dulu sangat kritis dalam menyoroti mengenai isu-isu yang terjadi di masyarakat.

Mari kita lihat potret kehidupan kita mahasiswa jaman sekarang. Mahasiswa sekarang mungkin terkesan lebih study-oriented, dimana kita lebih mengejar indeks prestasi (IP) sempurna dan lulus dengan cepat. Kita bahkan tak pernah lagi memikirkan kedaan bobrok yang terjadi di masyarakat.

Pemerintah semakin semena-mena dalam mengambil kebijakan yang merugikan rakyat, penindasan semakin merajalela, kelaparan dan kemiskinan masih sangat tinggi angkanya di masyarakat kita.

Kita sebagai mitra kritis dari pemerintahan seharusnya menjadi garda terdepan untuk mengontrol dan mengkritisi setiap kebijakan itu. Setiap harapan dan rintihan dari rakyat menjadi tugas kita. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan selain kita mahasiswa. Coba bayangkan ketika kita masih saja diam, apalah jadinya bangsa kita ini. Buat apa kita mendapatkan IP yang tinggi jika kita tidak bisa mengabdikan diri pada masyarakat dan tidak bisa memberi perubahan bagi nusa dan bangsa.

Maka dari itu, mari kita genggam tangan, rapatkan barisan dan bulatkan tekad untuk perubahan. Kita sudah cukup lama berdiam diri dalam nikmatnya zaman, sampai kita lupa kita sendiri adalah korban dari penindasan itu. Alasan kesengsaraan rakyat sudak cukup untuk kita bergerak. Salam..

Oleh: Alfius Riberu
Mahasiswa Jurusan hukum Universitas Kanjuruhan Malang
Kader PMKRI Malang