Masa Kebebalan, Sebuah Serial Novel

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Masa Kebebalan, Sebuah Serial Novel

15 January 2018

Isi pahanya memberontak lantaran roknya terlalu menyiksa. Paha mulusnya diatur sedemikian rupa untuk dapat menjadi objek perhatian (Foto: Dok. Pribadi)
"Aku bermain di dalam lingkaran
Menelusuri kemisteriusan dengan gejolak yang memainkan jiwa,
Aku mulai mencari titik keutuhan, mendisain bintik kembingan,
Aku bukanlah ketakutan, walau aku hanyalah kertas yang berserakan
Pensil–pensil yang dibuang, dan tulisan–tulisan yang membingungkan
Aku ada, hanya untuk mencari makna rimba belantara."

Ende, September 2015

JIWA

Mencoba merayu jiwa
Agar rasa tidak lagi mencekam kepala..
Tambah satu telinga untuk mendengarkan..
Dan tiga tangan untuk menjangakau semuanya..
Aku menangkap jiwa yang terbang..
Duduk berdua lalu bicara..
Hubungan kami mesra..
Seketika pohon–pohon jadi tenang..
Angin yang berhembus menyegarkan..
Dan kita mulai menetap pada sebuah kenyamanan..
Terlampau basi jika harus dikata..
Bukan lagi diam, karena dunia butuh ucapan..
Kita bebas bersandiwara! namun mata kita tertuju kemana?
Untuk apa menetap pada dunia dilema..
Lebih baik mati dengan tangan terbuka..
Dari pada hidup tetapi digenggam perasaan..
Ketakutan untuk bergerak..
Buka cakrawala! Hingga rasanya dia terbela..
Pantas ditelanjangi agar berjumpa terang..
Masa sekarang bukan urusan berperang..
Namun, melepas rindu dengan cinta..
Aku disiram nasihat..
Penjaraku bebas, jeruji kupatahkan..
Dunia adalah jiwa yang tidak pernah usang..

(Catatan di kos–kosan Durian)

KEPING 1

Kebimbangan adalah hadiah terindah
Kunci dari setiap perjumpaan
Karena pertemuan adalah tanda tanya
Menghantarkan kita untuk bebas memaknainya

Sentilan–sentilan angin menggelitik privasi
Membawa manusia pada kembimbangan berkonsepsi
Stigma seketika memvonis

Jiwa gelisah melihat selangkangan
Ada apa  dengan  perasaan?
Bagaimana mungkin dia dan wanita tipis sekatnya?
Bagaimana mungkin bibir dan rasa tidak terhindarkan?
Jari–jari manis menggeliat pada desahan kekerasan

“Untuk apa kamu melacur kalau kamu punya gelar sarjana? Aku kira sudah lama kamu bergelut dengan buku.” Jeda

“Kupikir otakmu yang tidak bermutu!” dalam keremangan aku menginterogasinya

“Kamu salah dalam menilaiku. Dulu aku adalah salah satu siswa terpandai di sekolahku dan salah satu lulusan tercepat di perguruan tinggi.”

WTS itu semakin membingungkanku.

“Mungkin dulu, kamu hanya belajar untuk memenuhi kewajiban!”

Pernak–pernik lampu diskotik terus menghiasi percakapan antara aku dan wanita tua dihadapanku. Dan sorot mataku tajam menatapanya. Ingin menebus semua bualannya.

“ Ya. Kalau bukan karena kewajiban, kau pikir pendidikan di negeri ini karena hakmu?”

Sembari kata hakmu dilontarkan, WTS itu mendekapkan wajahnya ke wajahku hingga bibir polesan lipstik itu merah merekah. Mengundang pelanggan.

“ Bagiku, pendidikan adalah kesadaran menuju jalan pembebasan! Bukan hak atau kewajiban.”

“ Jadi, kamu berpikir bahwa aku tidak menyadari bahwa aku dididik pada masa pendidikan.”

Semakin lincah dan lihai dia menjawab. Diiringi dengan pergantian kaki kanan yang memangku kaki kiri. Dengan busana selayaknya wanita yang mencari pelanggan. Isi pahanya memberontak lantaran roknya terlalu menyiksa. Paha mulusnya diatur sedemikian rupa untuk dapat menjadi objek perhatian.

“Coba engkau jawab dengan bijaksana,”

“Apa bagimu, aku masih punya etika semacam itu?”

Bibir mungilnya mencibir. Agak oriental.

“Kebaikan itu batasannya luas.”

“Ahhh.. Kamu saja yang sok suci! Kita punya batasan walau secara intim kita tidak terbatas. Kamu belum tahu banyak hal. Apalagi kamu masih mudah dan tampan. Asal kau mengerti dulu, hidup ini pahit, namun nikmat. Aku tidak mau kenal batasan. Karena kerap kali, dunia tidak pernah ramah dengan bakat-bakat baru!”

Sambil mengambil tas kecilnya diatas meja, dia berbegas pulang.

“Kamu mau beri siraman rohani atau uang? Kalau uang, tubuhku untukmu. Kalau siraman rohani aku masih punya suami, dan aku untuk suamiku!”

Dia. Wanita tua yang tidak kutahu namanya siapa, berlari sambil berceloteh melewati lorong-lorong. Aku sungguh sulit untuk bangun dan mengejar karena aku masih cukup pusing. Akhirnya, dia menghilang diantara kupu-kupu malam lainya yang berdiri di gang-gang melemparkan pesona.

Cepat dia menghilang, wanita tua yang masih misterius untukku dan belum sempat kusetubuhi. Cepat dia menghilang. Bak kuda liar. Setelah wanita tua itu menghilang, tatapanku kembali ke khalayakh ramai. Kejahatan di mata orang lain itu semakin nikmat kurasakan. Alkohol terus kuminum agar aku bisa lupakan pertemuan singkat itu. Antara jantan muda dan betina tua.

Tidak ada kupu-kupu lain yang datang menggodaku lagi. Aku tidak tahu apa alasannya demikian. Pandanganku ke kiri, kanan dan menyapu seluruh ruangan. Musik berdendang ria. Kerlap-kerlip cahaya dilengkapi wanita-wanita liar, akhirnya sempurnalah ketamakkan ditempat ini. Kebutuhan duniawi dipenuhi di tempat ini. Dan aku jadi lebih hidup disini.

Tetapi sungguh keterlaluan, benar-benar tidak ada seekor betina pun yang menghampiri aku lagi. Semua hanya memandang cepat. Ketika mataku dengan mata mereka tidak sengaja bertatapan, ada kekagetan yang luar biasa yang aku dapatkan dan mereka rasakan pula. Ini suasana semakin melahirkan tanya, tetapi setelah tanya itu ada alkohol kembali menbuyarkannya.

Masih belum jelas, ini rasa berkecamuk. Maklum. Hari pertama aku mengenal kehidupan yang begitu kejam. Dunia malam. Bosan duduk, aku pun bangun berdiri dan bergoyang dengan musik ala Dj yang dimainkan oleh Dj terkenal itu.

Seorang wanita berbaju merah, rok pendek, ketat, sepatu hak tinggi, ukuran payudaranya lumayan untuk wanita tua seumurannya. Pandanganku tidak buyar saat kuyakini dia menuju ke arahku. Aku tetap menatapnya kendati dia terus berjalan lenggak-lenggok.

Dia semakin mendekat.

“Heii..Mas?”
Pesonanya benar-benar melahirkan hasrat untuk bersetubuh. Tidak ada alasan untuk tidak katakana kalau dia sungguh memesona.

“Hei!” Aku menyapa seadanya.

“Tuan tidak tertarik denganku?”

Seketika aku merasa acuhku berhasil melumpuhkannya.

“Kau sungguh mempesona bagiku. Tetapi aku menyukai wanita yang lain!”

Pikiranku masih berseliweran mengingat wanita tua yang tadi. Aku mengangkat muka dan kembali memperhatikan wanita dihadapanku dengan cermat. Anggota tubuh yang kulihat pertama adalah tulang keringnya. Dibalut dengan kulit putih, dilengkapi dengan bulu-bulu kaki yang begitu rapi, naik ke lutut lalu ke paha mulus itu.

Wanita itu masih berputar–putar hingga kutangkap sebuah tato di pangkal pahanya. Aku tertegun seakan mengingat sesuatu. Secepat kilat mengingat wajahnya, samar-samar aku menangkap sesuatu. Yang dicari mungkin, Ya. Dia.

Wanita tua penuh strategi. Secepat kilat dia mengelabuiku seperti misteri. Cepat berganti posisi. Naluri membangunkan aku dari tempat duduk. Tidak terbersit lagi pengendalian diri, aku spontan memeluknya dari belakang, dan lekas mencium tengkuknya. Seketika sebuah pukulan mendarat di perutku. Merusak seluruh sistem kekebalan tubuh, dan yang kurasakan sekarang hanyalah perih yang mulai merambat senti demi senti. Sampai pada sum–sum yang paling dalam. Tinju, dan efek dari tinju itu membuat cengkramanku melemah. Tidak lama seluruh ruangan itu tampak kabur.

Langkahnya gontai. Meninggalkan aku dengan kesan penuh amarah. Dan dalam keremangan itu dia berlari ke luar sesekali menoleh. Bermaksud menikamku dengan matanya. Semakin remang-remang, kabur, gelap, duniapun hilang. Bersambung...

Oleh: Efraim Mbomba Reda
Ketua Presidium PMKRI Cab. Denpasar
marjinnews.com Bali

Catatan Redaksi:
Cerita Masa Kebebalan ini adalah salah satu dari dari rangkaian cerita serial kami dalam rangka mengapresiasi minat sastra anak-anak muda kita setelah sebelumnya sudah kami terbitkan serial story lain: Nafas Kanvas Andreas dan Cerry Blossom. Semoga terhibur, pastikan anda tidak melewati setiap detail serial story kami ini. Salam, jabat erat!