Mahar Berjemaah, Trend Politik Oknum yang Mengatasnamakan SARA Jelang Pemilu
Cari Berita

Mahar Berjemaah, Trend Politik Oknum yang Mengatasnamakan SARA Jelang Pemilu

15 January 2018

Singkat kata,  Mahar adalah syarat mendapatkan dukungan dan rekomendasi dari partai politik tertentu (Foto: Dok. Pribadi).
Mahar Berjemaah.  Menurut hemat saya adalah sebuah bentuk "pemerasan"  baik yang dilakukan oleh partai politik,  kelompok agama,  organisasi maupun etnis tertentu pada calon gubernur, calon bupati ataupun caleg.

Mahar Politik memang dikenal dalam dunia politik terutama oleh partai politik terhadap seseorang yang ingin didukung dan mendapatkan rekomendasi dari partai politik tertentu untuk maju menjadi cagub,  cabup atau calon walikota.

Mahar dapat disebut sebagai barter politik antara calon dengan partai politik tertentu, dimana sebagai balasan atas dukungan dan rekomendasi dari partai tersebut,  sang calon harus menyediakan sekian juta bahkan miliaran rupiah untuk diberikan kepada partai pendukung.  Singkat kata,  Mahar adalah syarat mendapatkan dukungan dan rekomendasi dari partai politik tertentu.

Sebastianus Salang (Koordinator Formappi),  harus mundur dari pencalonannya sebagai calon bupati Manggarai dalam pilkada 9 December 2015 karena Mahar Politik yang sangat fantastis .  Demikian juga dengan La Nyalla,  harus membuka borok partai Gerindra dan sang Ketum Pak Prabowo karena alasan mahar yang berujung pada tidak didukungnya La Nyalla sebagai cagub Jatim.

Dua kenyataan di atas sebenarnya menjadi fakta di balik gencarnya permainan partai politik lain bahwa money politic masih menjadi Raja bagi Partai Politik tertentu. Uang menjadi penentu terakhir mendapatkan dukungan dan rekomendasi atau tidak.

Terlepas dari guncang guncing Mahar Politik antara Partai politik tertentu dengan calon yang hendak didukung yang melahirkan cemooh dan bahkan gugatan di kalangan massa,  ada satu hal yang luput dari perhatian kita semua yaitu Mahar Berjemaah di kalangan kaum bergama,  rumah ibadah,  etnis atau kelompok suku dan organisasi tertentu.

Kalau Mahar dilihat sebagai bentuk pemerasan,  maka sejatinya dalam setiap agama,  organisasi, suku,  etnis dan kelompok yang oleh oknum-oknum tertentu mengatasnamakan agama, organisasi, suku,  etnis dan kelompok juga selalu melakukan pemerasan atau mahar terhadap setiap calon baik capres,  cagub,  cabup, calon walikota meski dalam bentuk yang berbeda-beda.

KAMI SIAP MENDUKUNG BAPAK,  IBU,  SAUDARA,  SAUDARI ASAL BANTU UNTUK PEMBANGUNAN GEREJA,  MESJID,  VIHARA,  KLENTENG,  PURA KAMI.  KAMI SIAP MEMENANGKAN KALIAN,  TAPI APA YANG AKAN KALIAN BERIKAN UNTUK KELOMPOK,  SUKU, DAN ORGANISASI KAMI?

KAMI PASTI MENCOBLOS KALIAN TAPI BERAPA YANG BISA DIBERIKAN DAN DIBAYAR KE KAMI.  Berbagai macam proposal dan kontrak pun mulai berseliweran.  Tergantung siapa yang memberi lebih banyak dan besar itulah yang didukung.

Hampir tidak ada dalam setiap agama,  kelompok, organisasi,  suku dan etnis adalah Penyelamatan Lingkungan Hidup,  Pemberdayaan dan Perlindungan terhadap masyarakat adat,  Perlindungan air, tanah dan sawah dari keserakahan Pertambangan atau kelapa sawit dan tidak ada suara berani yang bersuara melawan calon pemimpin yang mendukung pengrusakan lingkungan dan keutuhan ciptaan serta penggusuran tanah dan lahan masyarakat adat melalui Pertambangan dan Perkebunan kelapa sawit yang rakus dan serakah.

Yang disuarakan adalah kepentingan agama masing-masing,  kelompok, suku, etnis dan organisasi dan bukan kepentingan bersama, masyarakat serta bangsa sebagai satu Indonesia.

Cara-cara yang dipertontonkan setiap kali Pilpres,  Pileg dan Pilkada oleh kita adalah sebuah tindakan mahar politik.  Masih calon,  sudah dibebani dan disandera oleh aneka kepentingan kelompok,  agama,  suku,  etnis dan organisasi.

Kesempatan perayaan hari besar keagamaan pun menjadi saat paling tepat mendatangkan para calon oleh oknum dengan alasan partisipasi dan di sana terjadilah selfie dengan bangga bersama para calon.

Kalau disadari dengan sungguh maka sejatinya kitapun ; agama apapun,  kelompok, suku, etnis dan organisasi manapun sedang MENG-COPY PASTE PRAKTEK-PRAKTEK MAHAR POLITIK PARTAI TERTENTU TERHADAP PARA CALON YANG DIDUKUNG.

Jika demikian,  APA BEDANYA KITA DENGAN MEREKA ATAU PARTAI POLITIK TERTENTU YANG HARI INI KITA GUGAT ATAS NAMA MAHAR POLITIK?  WASPADA!!! LANTARAN MAHAR BERJEMAAH LEBIH KEJAM DAN SERAKAH.

Manila, 15 Januari 2018
RP. Yohanes Tuan Kopong MSF