Kerinduan Teriakan Kata Merdeka Dari Papua

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Kerinduan Teriakan Kata Merdeka Dari Papua

MARJIN NEWS
27 January 2018

Mencintai Indonesia, berarti siap mencintai semua perbedaan itu. Kita harus siap menerima dan mencintai sesama dengan menghargai keberagaman yang ada (Foto: Istimewa)
Bhineka Tunggal Ika untuk Papua dan Indonesia.
Bhineka tunggal ika yang artinya ‘berbeda-beda tapi tetap satu’.
Begitu bait pembuka puisi seorang anak ketika mengikuti lomba membaca puisi di Ibu kota.

Tapi tidak bagi kami!" Teriak seorang bocah memecah keheningan ketika mendengar seorang temannya tadi yang tengah membaca sebait puisi di depan kepala sekolah dan jajaran pengurus sekolah.

"Bhineka Tunggal Ika  sudah tidak berlaku di Negeri ini" lanjutnya.

"Mengapa demikian?"

"Karena kita seperti orang asing di negeri sendiri. Yang berlaku di Indonesia adalah siapa Mayoritas dan siapa minoritas? Siapa yang kulit putih? Siapa yang rambut Lurus?"

"Lingkaran pergaulan sangat sempit. Karena berpatokan pada kaya dan miskin, hitam dan putih, lurus, kriting dan ombak" lanjutnya lantang.

Banyak buku yang menjelaskan bagaimana perjuangan para pahlawan. Dari semua penjuru Indonesia, tanpa memandang suku, budaya, agama dan ras.

"Coba bayangkan, apa yang terjadi apabila yang berjuang melawan para penjajah adalah hanya mereka yang rambut keriting dan kulit hitam, atau pun sebaliknya. Apakah kita akan merdeka seperti sekarang ini? Tidakkan!"

Mencintai Indonesia, berarti siap mencintai semua perbedaan itu. Kita harus siap menerima dan mencintai sesama dengan menghargai keberagaman yang ada. Tidak perlu egois untuk hidup di Negeri yang notabene penduduknya dari berbagai rupa. Jangan jadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membeci.

"Sampai saat ini saya belum temukan jawaban, kira-kira faktor apa sehingga selalu ada kebencian karena latar belakang yang berbeda itu? Apakah salah kami menuntut hak yang sama di Negara sendiri? Kami seakan-akan seperti warga negara asing yang masuk dan belajar di Indonesia" sahutnya.

Resah, marah dan sakit hati. Itulah yang di rasakan seorang minor ketika berada di posisi itu!

Sekejam itukah hidup jadi minor diantara mayor? Ibarat seekor domba yang berada di antara ribuan serigala. Bukankah hak dan kewajiban seorang warga negara di hitung satu? Sama-sama mencari jawaban atas ribuan pertanyaan anak negeri?

Dengan satu tujuan "mencerdaskan kehidupan bangsa". Kemana bunyi kalimat itu pergi?

Semua orang terpaku, ketika melihat sang anak menggambar sebuah taman bunga dengan krayon kesayangannya.

Lalu katanya; Indonesia itu seperti taman safari, banyak bunga yang berwarna-warni tumbuh dan hidup di dalamnya. Siapkah kita beragam tanpa harus membuat orang lain terluka? Mampukah kita untuk mencintai tanpa harus melihat perbedaan itu?

Disisi lain, Undang-undang dan aturan  yang berlaku di ukur dari seberapa tebal map coklat yang di berikan kepada pihak-pihak yang berwenang. Sedangkan di daerah sana masih banyak yang rindu dengan koin 500 rupiah.

Apakah ini karena faktor perbedaan juga?

Disana kerap kali terjadi tawar menawar. Apakah hukum di Indonesia ibarat pasar penjual bunga?
Tempat bertemunya penjual dan pembeli yang sedang memperjualbelikan barang dengan tujuan saling menguntungkan?

Lucunya  negeri ini, hukuman bisa dibeli. Banyak orang miskin di desa jadi tontonan demikian lirik lagu Bona Paputungan.

Bantuan yang mengatasnamakan rakyat miskin hanya untuk memenuhi  kebutuhan pribadi dan untuk membahagiakan orang-orang terdekat.

Inikah namanya Merdeka?

Saya ingin sekali menghormati bendera Merah Putih tanpa beban dan kemunafikan.
Banyak buku sejarah yang mengatakan: "Bendera adalah lambang dari kejayaan sebuah Negara, dan sangat di hormati oleh Rakyatnya, termasuk Indonesia".

Apakah mereka pernah membacanya?
Kalau pernah mengapa hal ini terjadi?

Bahkan untuk mengibarkan sang saka merah putih ini banyak jiwa yang telah berkorban, banyak istri yang menjadi janda dan anak yang menjadi yatim piatu. Hanya demi sehelai kain yang menyimpan beribu makna di balik warna merah dan putih.

Ah, semestinya sudah dari awal kita tahu kalau kita sudah merdeka, namun kita sudah terbelenggu dengan kenikmatan duniawi.

Merdeka hanya muncul saat ajang sebelum Pemilu di mulai. Semua partai sibuk mencari  koalisi. Sehingga tidak salah muncul dengan masing-masing punya persepsi, tujuan dan kepentingan sendiri.
Saling berebut posisi dan dominasi. Saling berebut menjadi yang nomor satu atau pun sekadar bagi-bagi jatah menteri.

Peduli amat dengan kepentingan umat, yang penting kepentingan pribadi, dan partai terpenuhi.

Idealisme dinomorsekiankan oleh ambisi dan tendensi. Tanpa sadar anak itu menitikkan air mata, entah apa yang dirasakannya saat itu.

Namun selembar surat di tulisnya, lalu di berikan kepada seorang guru.
Surat itu berisikan dua pertanyaan yaitu, 1.Dapatkah saya menemukan jawabannya? 2.Kalau memang iya, adakah yang mampu menjelaskannya?

Tangisan seorang anak dari pelosok Negeri.

Oleh: Oswaldus Sirno