Kerinduan, Puisi Arfei Silfester
Cari Berita

Kerinduan, Puisi Arfei Silfester

28 January 2018

Seperti hujan katamu, rindu adalah gerimis. Yang melebat tiba-tiba, mengalirkan kamu ke dalam anganku. Selalu dan tiba-tiba (Foto: Isrimewa)
Ketika langit berwarna jingga
Semilir anggin menitip pesan hati
Onggokan dedaunan kering
Berlambai kepada sang pujangga,
Simpul senyum tak pernah pudar.
Adakah kian ke mari,
Mimpi itu akan kembali?

Entahlah.!!
Kian ke mari yang pasti ada yang janggal.
Deretan kata bersarang,
Berbentuk bola sukma,
Onak rindu tak kunjung lekang.
Membubuh penuhi jagat hati,
Lambaian nyiur bersiul
Tunduk malu ketika di tatap.
Aku tak marah pada tubuhnya.
Akan hatinya ku panah
Yang mengusik  jiwa tertuduk bisu.

Sore itu,
Ada sepenggal kata terperangkap
Di paruhnya penuh dusta
Dan mungkin itu yang ku alami ketika kini.
Kerinduan

Tak ada pekat, tak ada kelam.
Gelap gulita telah mundur untuk beradu.
Dan kini ada terang yang berbeda.
Dia beda, mata sayu tampilkan rayu
Ada cinta yang tertanam di mata
Dan tak tertuang dalam kata
Ada kata menuntut hati berbingar
Yang tak terungkap adanya
Namun, jauh sebelum embun pergi
kan ku datang kembali tuk menyakini cinta
Sebelum kau pergi untuk tak kembali

Di jalan itu aku melihat jejak langkahmu.
Jelas telah berbekas.
Telapak yang telah hilang di tebing waktu.
Akankah datang kembali mentari menyambut pagi
Untuk menghantarmu ke peraduan ini.?
Aku rindu senyum itu.
Senyum yang tak munkin di gali dari yang lain
Bukan aku yang egois
Membiarkanmu berjalan dalam kelam.
Tapi kau yang membuat aku tak menahan rasa ini

“Untuk sang pemusnah beban,  M.V”

Oleh: Arfei Silfester